PPDB

Tak Lolos Seleksi Usia ke SMA Negeri Jakarta, Pelajar di Matraman Mogok Makan dan Akhirnya Meninggal

Anak berusia 14 tahun tersebut gagal lolos seleksi SMAN pilihannya melalui jalur zonasi. Ia pun kemudian mengurung diri di kamar dan mogok makan.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Dodi Hasanuddin
Warta Kota/Joko Supriyanto
Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). 

WARTAKOTALIVE.COM, MATRAMAN -- Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait, mengatakan, terdapat seorang anak diduga stres dan akhirnya meninggal akibat ltak lolos penerimaan peserta didik baru (PPDB) DKI Jakarta 2020/2021.

Anak berusia 14 tahun tersebut  gagal lolos seleksi SMAN pilihannya melalui jalur zonasi. Ia pun kemudian mengurung diri di kamar dan mogok makan.

"Sebelumnya ada dialog antara ibu dan anaknya itu karena anaknya tidak lulus. Akhirnya ibunya mengatakan 'masuk swasta saja nak' tapi anaknya tidak mau," kata Sirait saat dikonfirmasi, Senin (29/6/2020).

Kasus Covid-19 Cukup Tinggi, Ganjar Pastikan Daya Tampung Rumah Sakit di Jateng Masih Aman

Bhayangkara FC Belum Panggil Pemain, Masih Tunggu Tanggal Kepastian Kick Off Liga 1 2020

Usia korban yang lebih muda dibanding anak-anak lain yang mendaftar SMAN lewat jalur zonasi membuatnya tidak lolos. Ia pun kemudian diduga mengalami stres.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, sebelum meninggal, korban sempat mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Stres yang dialami memicu naiknya asam lambung siswa tersebut.

"Dia punya asam lambung, itu yang memicu sampai akhirnya meninggal. Kejadiannya hari Sabtu (27/6) itu diinformasikan sama saya. Tapi bukan meninggal karena bunuh diri," ujarnya.

Sirait menuturkan orangtua korban sudah berupaya memberi semangat kepada sang anak agar tak depresi dan mengurung diri.

Mitra Pelaksana Kurban Online Baznas Jalani Pelatihan

Kunjungi Puspenerbad, KSAD Jenderal Andika Ingatkan Selalu Jaga Keselamatan Saat Terbang

Nahas upaya orangtua korban gagal, karena sang anak memilih mengurung diri dan mogok makan.

"Mungkin mikir, stres, terus asam lambungnya naik. Karena dia umurnya 14 tahun sembilan bulan, kurang berapa bulan gitu dari 15 tahun," tuturnya.

Sirait menyebut jenazah korban kini sudah dimakamkan pihak keluarga, sementara orangtuanya mendapat pendampingan psikologis.

Sementara, Kapolsek Matraman Kompol Tedjo Asmoro mengatakan hingga kini pihaknya tak mendapat laporan perihal kebenaran pernyataan Sirait.

"Belum ada laporannya," kata Tedjo. 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved