Breaking News:

Kesehatan

Remaja Paham Kesehatan Reproduksi, Kepala BKKBN: Kenapa Harus Tabu?

BKKBN selalu melakukan berbagai terobosan untuk mendekati para remaja terkait ketahanan remaja, salah satunya lewat program Generasi Berencana (GenRe)

istimewa
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Menjaga kesehatan alat reproduksi bagi para remaja sangatlah penting. Namun hal ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Banyak anak remaja yang juga masih malu untuk membicarakannya dengan orang tua mereka atau sebaliknya orang tua yang merasa pembicaraan ini adalah pembicaraan yang tidak lazim dilakukan.

Padahal pendidikan tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk dilakukan sejak dini untuk mencegah terjadinya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan alat reproduksi pada remaja. Hal ini dilakukan demi masa depan para remaja itu sendiri.

“Kenapa kesehatan reproduksi dianggap tabu? Padahal sangat penting untuk kita semua. Kespro ini bisa diberikan di sekolah-sekolah, tidak harus dengan menunjukkan alat kelaminnya langsung tetapi juga bisa dengan melalui animasi atau bisa dengan membuat dokumenter yang singkat tetapi jelas dan tidak perlu ditampakkan alat kelamin,” ungkap Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) yang juga merupakan dokter Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) itu dalam pernyataan resminya, Jumat (26/6/2020)

Menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini dapat menjaga diri para remaja dalam pergaulan bebas, lebih aware dengan perubahan pada dirinya dan juga dapat mendeteksi kelainan pada tubuhnya lebih dini.

Dia mencontohkan, ketika ada seorang anak laki-laki yang masih kecil lalu testisnya ternyata tidak turun hal tersebut sebenernya bisa menyebabkan kanker nantinya.

“Gimana solusinya? Yaitu dioperasi, testis yang jd kanker akan diangkat serta yang sehat tidak di apa-apakan,” ujarnya.

Begitupun dengan gondongan, apabila menjangkit anak laki-laki akan mempengaruhi spermanya kelak.

Begitupun dengan anak perempuan, jika diumur 12 tahun belum menstruasi, lalu dilihat apakah sudah ada bulu diketiak atau belum, payudaranya sudah tumbuh atau belum.

“Jika belum, kita tunggu sampai usia 16 tahun, jika masih belum ada tanda-tanda maka harus ke dokter untuk periksa kromosom karena ditakutkan ada kelainan,” imbuhnya.

Halaman
123
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved