Breaking News:

Berita Jakarta

Diskusi Menggugat Negara Atas Hak Rasa Aman bagi Pesepeda di Jalan Raya Diserang Hacker

Serangan hacker dengan cara masuk dalam waktu yang sama, jumlahnya sekaligus banyak, menggunakan recording akun luar negeri, membuat panitia kelelahan

Istimewa
Ilustrasi Pesepeda 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Tidak ada yang menduga bahwa diskusi virtual melalui aplikasi zoom dengan tema 'Menggugat Negara Atas Hak Rasa Aman bagi Pesepeda di Jalan Raya' diserang hacker.

Serangan hacker tersebut dengan cara masuk dalam waktu yang sama, jumlahnya sekaligus banyak, menggunakan recording akun luar negeri, tapi dikirim dari dalam negeri, membuat panitia kelabakan.

Akibat serangan ini, diskusi dihentikan pada Kamis (25/6/2020)  pukul 19.30 WIB saat peserta di kisaran angka 80 orang dan terus bertambah.

Ketika itu, Co-Founder B2W Indonesia, Toto Sugito, baru saja melakukan opening speech. Dilanjutkan speech dari Komisioner Komnas HAM, M. Choirul Anam, di mana serangan berupa kata-kata tidak sopan, makian, dan video tidak senonoh muncul.

Untuk Membunuh Tokoh Al-Qaeda, AS Gunakan Rudal Ninja yang Membawa 6 Bilah Pedang

Petugas Tutup Pasar Gembrong Lantaran Empat Pedagang Positif Corona

Meski demikian diskusi dilanjutkan kembali, kali ini dengan screening peserta yang ketat dan komunitas terbatas.

Selain M. Choirul Anam, diskusi ini juga mengundang pembicara Dosen dan Peneliti Pusat Studi Hukum HAM Fakultas Hukum Universitas Airlanggga, Dr. Herlambang P Wiratraman.

Sejatinya, diskusi ini lahir atas keprihatinan para pesepeda terhadap kondisi yang dialami pesepeda di rimba aspal.

Bukan hanya karena banyaknya pesepeda yang wafat akibat kecelakaan lalu lintas (Antara Januari-Juni 2020 sudah tercatat 17 pesepeda wafat), tapi juga persoalan infrastruktur.

Persoalan infrastruktur itu terkait jalur sepeda, parkir sepeda di gedung perkantoran, trotoar yang ramah pejalan kaki, integrasi dengan sarana transportasi massal, hingga sepeda sebagai bagian dari peradaban baru yang ramah lingkungan, mengurangi beban ekonomi negara, mengurai kemacetan, mendorong gaya hidup sehat, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Namun, akibat diabaikannya UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya pasal 62 ayat (1) dan (2), maka di rimba aspal pesepeda menjadi kaum marjinal, terpinggirkan dan menempati kasta paling rendah.

Halaman
12
Penulis: Dodi Hasanuddin
Editor: Dodi Hasanuddin
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved