Breaking News:

Berita Internasional

Iran Bersumpah Tidak Akan Berunding dengan Donald Trump karena Dia Penjahat Bukan Presiden

Ketegangan antara AS dan Iran makin meningkat sejak Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan menerapkan tekanan terhadap Iran

Istimewa
Ilustrasi: Donald Trump 

Wartakotalive, Jakarta - Iran tidak akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump dan tidak akan meninggalkan kebijakan luar negerinya saat ini.

"Kami tidak akan bernegosiasi dengan Donald Trump dengan cara apa pun, karena kami menganggap dia penjahat, bukan presiden," media pemerintah mengutip Mayjen Hossein Dehghan, yang dilansir alarabiya.net, Selasa, 23 Juni 2020.

Mayjen Hossein Dehghan adalah penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

"Kami tidak akan bernegosiasi tentang program rudal balistik kami, dan kami akan melanjutkan kebijakan regional kami," kata Dehghan.

Iran telah berusaha untuk memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut menggunakan jaringan luas proxy yang dikenal sebagai "poros perlawanan."

Beberapa milisi yang didukung oleh Iran termasuk milisi Houthi di Yaman, Hizbullah di Libanon, Hamas dan Gerakan Jihad Islam di Gaza, dan lusinan milisi lain di Suriah dan Irak.

Ketegangan antara AS dan Iran makin meningkat sejak Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan menerapkan tekanan terhadap Iran.

Pemerintahan Trump menginginkan kesepakatan yang lebih komprehensif yang akan mencakup masalah nuklir, program rudal balistik Iran dan kegiatan Iran di Timur Tengah.

Untuk memerkuat tekanan terhadap Iran, AS kemarin telah membagikan rancangan resolusi kepada anggota Dewan Keamanan PBB yang isinya akan memperpanjang embargo senjata terhadap Iran tanpa batas waktu.

Rancangan resolusi itu diusulkan AS karena larangan transaksi senjata dengan Iran akan berakhir pada Oktober mendatang berdasarkan ketentuan perjanjian nuklir 2015.

Usulan AS itu muncul setelah Rusia dan China, dua anggota dewan yang memiliki hak veto, telah mengatakan mereka tidak akan mendukung perpanjangan embargo karena mereka menyalahkan Presiden Donald Trump yang keluar dari perjanjian nuklir secara sepihak.

Penulis: Bambang Putranto
Editor: Bambang Putranto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved