Breaking News:

Berita Jakarta

Pimpinan DPRD DKI Soroti Kampanye Budaya Merdeka Belajar Menteri Nadiem Makarim

Dia menilai kampanye budaya merdeka belajar yang disampaikan Nadiem juga mengandung diskriminatif.

istimewa
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN Zita Anjani menyoroti kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Dia menilai, kampanye budaya merdeka belajar yang disampaikan Nadiem juga mengandung diskriminatif.

“Menurut saya ini gagal paham dan sangat salah. Karena sektor sosial seperti pendidikan dan kesehatan bukan pasar bebas seperti ekonomi,” kata Zita pada Kamis (18/6/2020).

“Pemerintah wajib hadir dalam penyelenggaraan pendidikan yang merata, bermutu dan berkualitas,” tambah Zita.

PNS Bukan Suami Istri yang Pingsan tanpa Busana di Mobil Kini Sudah Sembuh, Hadapi Ancaman Pemecatan

Satpol PP Kota Depok Hentikan Musik Akustikan Sambut Pengunjung di Pesona Square

Kasus Remaja Putri Dirudapaksa Secara Bergilir, Polisi Tetapkan Tersangka Yang Besrtatus Kakak-Adik

Shin Tae-yong Minta TC Timnas di Korea Selatan, Syarif Bastaman: Memang di Korea Tidak ada Covid-19

Dia mencontohkan, kurikulum pendidikan di DKI Jakarta selama tiga bulan akibat pandemi Covid-19 dikhawatirkan bisa berpengaruh buruh terhadap pengembangan anak.

Soalnya peserta didik dibiarkan begitu saja dengan dunia internet dan minimnya pengawasan dari orangtua dan guru.

Sementara tidak semua orangtua memiliki gadget untuk menerapkan pendidikan secara online selama pandemi. Lalu tidak semua orangtua juga yang mampu membeli paket data internet dari penyedia jaringan telekomunikasi.

“Jakarta itu kan zona merah (Covid-19), kalau sampai dua tahun begini bagaimana proses kegiatan belajar mengajar nantinya,” ungkap Zita.

Dalam kesempatan itu, Zita menyampaikan solusi untuk sektor pendidikan di masa kenormalan baru.

Di antaranya proses belajar secara online dengan pendampingan dari guru bagi masyarakat yang memiliki akses gadget dan internet serta pengawasan orang dewasa dan inovasi kurikulum.

Selain itu, pihaknya juga menawarkan belajar dengan jarak dengan mendatangkan guru ke rumah atau komunitas di lingkungan, seperti kantor RW, RPTRA dan lainnya.

“Karena belajar dengan jarak (tatap muka) itu dibutuhkan bagi siswa yang tidak memiliki akses gadget dan internet. Terakhir adalah belajar di sekolah di saat zona semua hijau. Ini juga tetap memerlukan inovasi kurikulum,” ungkapnya.

Kisah EN, Seorang Ibu yang Kangen Berat dengan Anaknya Lalu Culik Anak Orang Lain, Begini Akhirnya

Pakai Jaket Kuning, Ketua Jokowi Mania Immanuel Ebenezer Direkrut Jadi Kader Partai Golkar?

VIDEO: Buronan FBI Russ Medlin Terbang dari Dubai Sebelum Masuk ke Indonesia

Segrup dengan China, Jepang dan Arab Saudi di Piala Asia U-16 2020, Bima Sakti Tak Gentar

Zita meminta kepada pemerintah pusat untuk menciptakan inovasi kurikulum pendidikan di masa pandemi.

Pemerintah juga harus menyediakan diskon tarif dari penyedia jaringan untuk seluruh akademia, siswa dan guru dalam memperoleh pendidikan.

“Mas Menteri Pendidikan juga harus meningkatkan infra-digital dengan membuat aplikasi belajar dari kementerian. Lalu membuat bahan belajar seperti buku dan sebagainya melalui format pdf,” jelasnya. 

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Dodi Hasanuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved