Kamis, 23 April 2026

Virus Corona

Sekitar 1,7 Miliar Orang Bakal Menderita Sakit Parah jika Terinfeksi Covid-19

Ketika negara-negara sudah membuka penguncian, pemerintah harus mencari cara untuk melindungi warga yang paling rentan dari virus

Penulis: |
CBS NY
Pasien virus di RS New York terpaksa ditaruh di koridor karena sudah over kapasitas 

Wartakotalive, Jakarta - Diperkirakan 1,7 miliar orang atau lebih dari 20 persen populasi dunia, berisiko terinfeksi parah oleh covid-19 karena sudah punya masalah kesehatan seperti obesitas dan penyakit jantung.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil riset sebuah tim ahli dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine (Inggris), yang dipublikasi jurnal kesehatan The Lancet, yang dikutip straitstimes.com, Selasa, 16 Juni 2020.

Mereka menganalisis kumpulan data penyakit global termasuk diabetes, penyakit paru-paru, dan HIV untuk memperkirakan berapa banyak orang yang berisiko tinggi terhadap infeksi covid-19.

Covid-19 adalah nama penyakit infeksi pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru.

Virus corona baru, yang telah menewaskan lebih dari 420.000 orang di seluruh dunia selama gelombang pertama pandemi sekarang ini sudah terbukti berdampak buruk pada pasien yang menderita penyakit penyerta.

Ilustrasi petugas medis saat rekam jejak catatan pasien Covid-19
Ilustrasi petugas medis saat rekam jejak catatan pasien Covid-19 (TRIBUN JAMBI/AFP/HECTOR RETAMAL)

Mereka menemukan bahwa satu dari lima orang memiliki setidaknya satu masalah kesehatan yang menempatkan mereka dalam bahaya yang lebih besar dibandingkan orang yang tidak mempunyai penyakit penyerta.

Memang tidak semua dari mereka yang punya penyakit penyerta akan menderita sakit parah jika terinfeksi.

Namun, para peneliti menekankan bahwa sekitar 4 persen dari populasi global - sekitar 350 juta - kemungkinan akan cukup parah jika terinfeksi, sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.

"Ketika negara-negara sudah membuka penguncian, pemerintah harus mencari cara untuk melindungi warga yang paling rentan dari virus yang masih berkeliaran," kata Dr Andrew Clark dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine dan kontributor penelitian ini.

Dr Clark mengatakan temuan itu dapat membantu pemerintah membuat keputusan tentang siapa warga yang harus mendapat vaksin covid-19 terlebih dahulu ketika vaksin sudah tersedia.

Konsisten dengan penelitian lain tentang risiko covid, para penulis menemukan bahwa orang yang lebih tua berada dalam bahaya yang lebih besar.

Sementara itu, Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention-CDC) Amerika Serikat, mengeluarkan temuan sementara yang mirip dengan kesimpulan tim riset dari Inggris tersebut.

Dalam laporan terbaru itu, yang dikutip aljazeera.com, CDC menemukan orang dengan penyakit kronis termasuk penyakit jantung dan diabetes 6 kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit, dan 12 kali lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien covid-19 tanpa penyakit penyerta.

CDC mendasarkan analisisnya pada 1,32 juta kasus positif corona yang diterima antara 22 Januari dan akhir Mei 2020.

Petugas berpakaian hamzat sedang mengubur korban covid-19 di pemakaman Kota Sao Paulo, Brazil. Reuters/aljazeera
Petugas berpakaian hamzat sedang mengubur korban covid-19 di pemakaman Kota Sao Paulo, Brazil. Reuters/aljazeera (Reuters/Aljazeera)

Meskipun informasi tentang data penyakit penyerta hanya tersedia pada 22 persen dari total pasien tersebut, CDC menemukan bahwa dari mereka, 32 persen memiliki penyakit terkait jantung, 30 persen menderita diabetes dan 18 persen kondisi paru-paru kronis termasuk asma.

CDC mengatakan bahwa usia tetap merupakan risiko utama.

Persentase masuk perawatan intensif tertinggi adalah orang berusia setidaknya 60 tahun dengan penyakit penyerta.

Orang di atas usia 80 adalah yang paling mungkin meninggal, meskipun mereka tidak memiliki penyakit kronis.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved