Virus Corona

Ini 6 Misteri Virus Corona yang Belum Diketahui, No.6 Bikin Khawatir sampai Kapan Tubuh Bisa Kebal?

Sedikitnya lebih dari 6.7 juta orang di seluruh dunia kini sudah terinfeksi wabah Virus Corona atau Covid-19.

worldometers
Jumlah kasus Virus Corona di dunia sampai Jumat (5/6/2020) pukul 00:00 GMT atau pukul 07:00 WIB mencapai 6.839.487 kasus. Berdasarkan data worldometers sebanyak 397.446 orang meninggal dunia dan 3.332.058 orang dinyatakan sembuh. 

Pada dasarnya, Covid-19 bisa dikatakan sebagai penyakit ringan, kebayakan penderitanya hanya menunjukkan gejala ringan, beberapa yang lain menunjukkan gejala seperti terserang flu selama beberapa minggu.

Tapi pada pasien-pasien tertentu, Covid-19 ini bisa menyebabkan peradangan parah hingga kerusakan paru-paru.

Di sinilah misteri seputar Covid-19 yang belum juga terpecahkan hingga kini.

Ahli menyebut tingkat keparahan sakit yang dialami seorang pasien ditentukan oleh respons kekebalan tubuh pasien itu terhadap infeksi virus.

Jika respons ini bekerja secara berlebihan, maka itulah penyebab terjadinya masalah lebih serius pada paru-paru dan organ tubuh lainnya.

Usia lanjut dimana kekebalan tubuh melemah dan kondisi fisik yang memiliki riwayat penyakit lain, juga menjadi alasan mengapa Covid-19 terjadi lebih parah pada sekelompok pasien jika dibandingkan dengan pasien lainnya.

Sejumlah penelitian difokuskan pada peran reseptor di permukaan sel paru-paru, pembuluh darah, usus, belakang tenggorokan, dan saluran hidung yang disebut sebagai ACE2.

Reseptor ini merupakan media masuknya virus ke dalam sel tubuh manusia.

Disebutkan, anak-anak lebih sedikit memiliki ACE2 daripada orang dewasa, sehingga mereka tidak begitu berisiko terinfeksi Virus Corona.

Meski menjadi media masuk virus ke dalam sel tubuh, reseptor ini memiliki fungsi untuk memodulasi sejumlah kerusakan yang terjadi di pembuluh darah dan paru-paru.

4. Peran anak-anak dalam penyebaran virus

Masih menjadi pertanyaan bayak pihak, sebenarnya apa peranan anak-anak dalam menyebarluaskan virus ini.

Beberapa bulan terakhir, sekolah-sekolah diketahui ditutup.

Anak-anak diminta untuk belajar dari rumah, dengan alasan untuk meminimalisir penularan.

Namun, sejumlah negara telah kembali membuka sekolah-sekolah mereka secara terbatas, sementara wilayah lain masih berencana untuk melakukan hal yang sama di waktu dekat.

Salah satu asumsi yang dikemukakan adalah kemampuan fisik anak-anak dalam mengatasi infeksi virus sehingga menjadikan mereka tidak mengalami sakit parah bahkan tanpa gejala.

Namun, potensi penularan yang mereka miliki sama besarnya dengan orang dewasa.

Sehingga ini cukup mengkhawatirkan. Karena itu apabila mereka dibiarkan ada di dalam sekolah, mereka memiliki frekuensi bersentuhan dengan orang atau objek lain 3 kali lebih sering dari pada orang dewasa pada umumnya.

Ini membuat risiko mereka untuk tertular dan menularkan virus kepada lingkungan yang lebih luas semakin besar.

5. Kapan dan dimana Virus Corona ini mulai menyebar

Selama ini kita mengetahui dari berbagai informasi yang beredar bahwa Virus Corona pertama kali terdetaksi ada di Wuhan, China dan pada akhir Desember 2019.

Dalam sebuah epidemi baru, memang sangat mungkin berawal dari seorang pasien tunggal yang kemudian menyebar luas dan menjadi ledakan infeksi yang begitu besar.

 Analisis yang dilakukan terhadap 41 kasus pertama di Wuhan menunjukkan semuanya memiliki riwayat berkunjung ke sebuah pasar yang menjajakan beragam produk makanan laut.

Pasien pertama masuk rumah sakit pada 16 Desember 2019 dengan gejala awal terjadi pada 1 Desember.

Tanggal ini tentu lebih cepat daripada waktu infeksi pertama yang diketahui dunia.

Sehingga, beberapa ilmuwan memperkirakan wabah pertama dimulai pada akhir atau pertengahan November.

Para ahli menekankan sebuah cara berpikir, bahwa orang pertama yang diketahui terinfeksi belumlah tentu menjadi orang yang paling awal membawa virus.

6. Berapa lama kekebalan terbentuk setelah infeksi?

Sejauh ini banyak informasi beredar bahwa orang yang pernah terinfeksi Virus Corona, kemudian sembuh, ia memiliki kemampuan untuk kebal terhadap virus yang sama di waktu yang akan datang.

Benarkah hal tersebut? Para ilmuwan menjelaskan, ketika tubuh terinfesi virus, ia biasanya akan membuat antibodi, beberapa di antaranya cukup kuat untuk menetralkan patogen dan mencegah infeksi yang sama terulang.

Dalam proses ini juga dihasilkan banyak sel kekebalan tubuh yang dapat membunuh virus. Lalu, berapa lama kekebalan itu akan bertahan?

Pertanyaan inilah yang belum bisa banyak mendapatkan jawaban.

Beberapa laporan menunjukkan terjadinya infeksi untuk kedua kalinya pada seorang pasien yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh.

Namun, ilmuwan menyebut hal itu sebagai hasil dari kesalahan uji yang dilakukan.

Bisa saja sisa-sisa virus masih bersirkulasi di dalam tubuh dalam waktu yang lama setelah infeksi berakhir.

Mereka pun berharap kekebalan yang terjadi pada para pasien corona ini bisa bertahan setidaknya selama 1 bulan.

Namun, itu masih sebatas harapan dan belum ada klaim yang bisa membenarkan harapan itu. (*)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul 6 Misteri terkait Virus Corona yang Belum Diketahui Hingga Saat Ini

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved