Breaking News:

Kerusuhan di AS

Tiga Skenario SBY Soal Amerika Serikat Pasca Kerusuhan George Floyd : Apa yang Akan Terjadi?

Tiga Skenario SBY Soal Amerika Serikat Pasca Kerusuhan George Floyd : Apa yang Akan Terjadi?

Kompas.com
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 

Trump bahkan diungkapkan SBY juga mengatakan bahwa pengerahan dan penggunaan militer akan mengatasi masalah secara cepat.

"Barangkali Trump kecewa karena para Gubernur dan Walikota dinilai gagal untuk menguasai (Trump menggunakan istilah 'dominate') jalan-jalan di mana unjuk rasa terjadi, baik yang damai maupun yang tidak. Karenanya, tentara harus dikerahkan untuk menjalankan misi itu," jelas SBY.

"Sesuai ingatan saya, sepertinya belum pernah Amerika menurunkan militernya untuk menghadapi rakyatnya sendiri," tambahnya.

Pengerahan tentara dalam mengatasi gangguan keamanan dan ketertiban yang dulu sering dilakukan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, justru kerap dicerca oleh Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya.

Mereka menyebutkan demokrasi tidak seperti itu.

Gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat disebutkan negara-negara barat masih menjadi domain polisi, bukan tentara.

"Kalau sekarang justru Amerika yang melakukan, ini akan menjadi 'breaking news'," imbuh SBY.

Lebih lanjut dipaparkannya, aksi serupa juga pernah terjadi pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an.

Ketika itu gelombang protes meluas di seluruha penjuru Amerika Serikat.

Warga Amerika Serikat menentang pelibatan tentara Amerika di Vietnam.

Namun, ketika gelombang protes terjadi, tentara reguler tidak diturunkan.

Pemerintah Amerika Serikat ketika itu diungkapkan SBY hanya mengerahkan National Guard.

Mereka bertugas menghadapi gelombang unjuk rasa yang marak di banyak kota tanpa adanya bentrokan yang membawa korban jiwa.

"Pertanyaan berikutnya, sungguh seriuskah Presiden Trump hendak menggunakan kekuatan militer ini? Kalau kita ikuti rekam jejaknya, sangat mungkin Trump akan melakukan itu," ungkap SBY.

"Kita mengamati, apa yang dikeluarkan Trump melalui cuitan di twitternya, beberapa saat kemudian menjadi kenyataan. Tapi khusus keadaan sekarang ini, mungkin pertimbangan Trump lebih mendalam. Dia pasti tahu risiko dan harga yang harus dibayar kalau opsi militer ini yang dijalankan," jelasnya.

SBY Khawatir

Sebagai mantan Presiden dan seorang Jenderal, SBY mengaku khawatir kalau Trump salah hitung.

Dirinya mengkhawatirkan jumlah perlawanan para pengunjuk rasa justru kian menguat dan membesar.

Hal tersebut dibuktikannya lewat siaran televisi beberapa hari belakangan.

Dirinay meyoroti sejumlah spanduk yang diusung para pengunjuk rasa, spanduk tersebut bertuliskan 'No Justice, No Peace', atau 'Black Lives Matter'.

"Yang baru menurut saya ada yang berbunyi 'Time for Fear is Over'. Saya tidak tahu apakah kata-kata terakhir itu menyiratkan bahwa akan makin keras," ungkap SBY.

"Yang berbahaya jika sikap 'keras' Trump berhadapan dengan sikap pengunjuk rasa yang makin militan. Benturan yang lebih besar pasti terjadi," tambahnya.

Sementara itu, dirinya mengaku mengamati ada pihak yang kurang nyaman dengan pernyataan Presiden Trump.

Mereka menganggap Trump justru menyulut kemarahan masyarakat yang sedang marah.

Misalnya, pernyataan Trump soal menembak para penjarah, yakni 'when the looting starts, the shooting starts'.

Juga pernyataan yang menyalahkan para Gubernur dan Walikota sebagai lemah dan tak mampu mengatasi masalah.

Bukan hanya merasa tidak nyaman, sebagian pemimpin daerah itu juga tidak setuju kalau National Guard serta merta diturunkan ke jalan-jalan.

Artinya, Trump ditegaskan SBY bakal menghadapi 'pembangkangan' dari sejumlah pemimpin daerah.

"Saya tidak tahu apakah rakyat Amerika punya militansi dan kenekatan yang tinggi manakala harus melawan pemerintah yang dinilai tidak adil. Seperti perlawanan rakyat yang terjadi di negara-negara berkembang," ungkap SBY.

Sejarah ditegaskan SBY telah menunjukkan banyak pemimpin.

Sekuat apapun pemimpin yang akhirnya jatuh karena mayoritas rakyat menghendaki dia jatuh.

Sebesar apapun militer dikerahkan untuk menyelamatkan sebuah rezim, kalau rakyat sudah bergerak, tumbang juga mereka.

"Perlawanan sosial seperti ini saya ragu bakal terjadi di Amerika," ungkap SBY.

"Alasan saya, demokrasi dan sistem politik sudah sangat mapan di negara itu. Kedua, yang turun ke jalan-jalan sekarang ini belum tentu mewakili mayoritas rakyat Amerika," jelasnya.

Editor: Dwi Rizki
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved