Breaking News:

Opini Online

The New Normal: Tiga Sudut Pandang Habitus Baru Physical Distancing dan Social Distancing

Tuga sudut pandang melihat New Normal yakni; “apa yang sesungguhnya berubah?”, “apa yang seharusnya berubah?” dan “apa yang sebaiknya berubah?”

hand-over/AM Putut Prabantoro
AM Putut Prabantoro (memegang buku putih) menerima “Berkat Damai untuk Bangsa Indonesia” yang ditandatangani Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, 16 Oktober 2019. 

Oleh AM Putut Prabantoro

NEW Normal,  yang oleh Presiden Joko Widodo disebut sebagai tatanan kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19, hendaknya dilihat sebagai habitus baru yang memengaruhi dan sekaligus memunculkan cara hidup, cara berpikir, berkomunikasi, bertindak dan sekaligus berperilaku baru (baca: berbeda) bagi masyarakat Indonesia.  

Terkait konteks habitus baru tersebut, ada tiga sudut pandang yang dapat digunakan untuk dapat melihat New Normal yakni; “apa yang sesungguhnya berubah?”, “apa yang seharusnya berubah?” dan “apa yang sebaiknya berubah?”  

Mengingat Covid-19 ini mengancam kehidupan manusia, ketiga sudut pandang itu melihat new normal sebagai habitus baru dalam interaksi antar-manusia (new normal sesungguhnya).

Manusia dan kehidupannya termasuk ekonomi (new normal yang seharusnya) serta manusia dan lingkungannya (new normal yang sebaiknya), dan ketiganya saling terkait.

Pola Pembelajaran Jarak Jauh Jadi Keharusan Saat Darurat Pandemi Covid-19 Maupun Saat New Normal

 
New normal yang sesungguhnya ditandai dengan habitus yang sama sekali baru dalam interaksi antarmanusia seperti physical distancing (jaga jarak) atau social distancing (pembatasan sosial).  

Bentuk kegiatan yang terkait dengan kerumunan seperti sekolah, pelaksanaan ibadah, festival-festival, mall, hotel, ataupun transportasi akan berubah. 

Perubahan dari padat karya ke padat teknologi dalam dunia usaha dimungkinkan terjadi percepatan. 

Emirates Airlines, sebagai contoh, sudah mengeluarkan protokol  new normal dalam penerbangannya. Protokol ini akan terus digunakan hingga pandemi berakhir.

Adapun “new normal yang seharusnya” dipengaruhi oleh desentralisasi global (DG)  yang merupakan kondisi, di mana setiap negara termasuk Indonesia, dipaksa untuk hidup mandiri dan harus fokus pada persoalan domestiknya.

BERITA FOTO: Begini Persiapan Masjid Istiqlal Hadapi Protokol Kesehatan untuk New Normal

Halaman
123
Editor: Domu D. Ambarita
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved