Breaking News:

Teror

Masjid di Ciracas Disiram Bahan Kimia, Direktur Eksekutif Charta Politika Diancam Dibunuh

Masjid yang berada di wilayah Ciracas, Jakarta Timur, diteror dengan dugaan penyiraman air keras

photocollage/wartakotalive.com/tribunnews.com
Pimpinan lembaga survei Charta Politika Yunarto Wijaya menjadi salah satu target pembunuhan selain empat orang jenderal/tokoh nasional. Empat tokoh nasional itu adalah Luhut B Pandjaitan, Wiranto, Goris Merre, dan Budi Gunawan. 

"Truknya kabur. Saat itu cuma sadar kecelakaan biasa, gue langsung buka mobil dan lari mengejar truknya. Tetapi gue sadar gak bisa mengejarnya," imbuh Yunarto Wijaya.

Setelah alami kecelakaan tunggal itu, Yunarto Wijaya lantas menghubungi beberapa keluarga dan kerabat terdekat.

"Mereka langsung nyeletuk lo kan lagi dijagain polisi, jangan-jangan ini bagian dari itu dan segala macamnya. Tetapi gue gak mau menyimpulkan apapun, i dont know sampai sekarang," tegas Yunarto Wijaya.

Meski demikian, keluarga tetap mendukung keputusan Yunarto Wijaya untuk berkarier sebagai pengamat politik.

"Gue tetap mencoba peluang mungkin saja kecelakaan, tetapi karena kejadian saat itu terasa mencekam, maka punya hipotesa lain. Gue sih berharap itu kecelakaan jadi situasinya gak menyeramkan tetapi gak salah juga orang menyimpulkan itu kayak aneh deh kecelakaan, momennya terlalu kebetulan."

"Apapun itu, Thanks God. I'm fine," aku Yunarto Wijaya.

Saat alami kecelakaan tunggal itu, Yunarto Wijaya mengklaim tengah dijaga aparat kepolisian dengan radius tertentu.

"Gue tahu diikutin kemana-kemana tetapi gue minta gak nempel satu mobil," ungkap Yunarto Wijaya.

Diberitakan sebelumnya Yunarto Wijaya kerap mendapatkan ancaman saat Pilpres 2019.

Yunarto juga menjadi salah satu target pembunuhan berencana yang digagas oleh pendukung Prabowo Subianto Kivlan Zein.

Nama Yunarto tersemat di antara nama-nama jenderal dan politisi pendukung Jokowi.

"Sebetulnya, enggak hal baru, ya. Pertama sempat kantor saya akan didemo," ujar Yunarto,

Yunarto mengaku sebelum Pemilu digelar pun, ia telah melaporkan beberapa akun media sosial yang melontarkan ancaman padanya.

"Bahkan sebelum Pemilu sebetulnya saya sudah melaporkan beberapa akun terkait dengan ancaman, walaupun hanya melalui medsos, saat itu," jelas Yunarto.

Tak hanya ancaman melalui media sosial, beberapa oknum juga melakukan penyebaran nomor Yunarto secara sengaja.

Juga dibuatlah screenshot atau tangkap layar chat palsu.

Yunarto mengatakan dari laporan tersebut, beberapa pelaku sudah sempat ada yang ditangkap.

"Sudah ada (pelaku) yang sempat ditangkap, setahu saya. Dari Lampung, akun yang menyebarkan hoaks atau fitnah," ujarnya.

Microsoft Pecat 50 Jurnalis Diganti Sistem Artificial Intellegence, Korban Ingatkan Kelemahannya

Pedagang Pasar Cisalak Depok Tak Keberatan Tutup Asalkan Tidak Berlama-lama

Didukung Oleh Transformasi Digital, Laba Amar Bank di Tahun 2019 Naik 4 Kali Lipat

 

Pasca pemungutan suara 17 April 2109, Yunarto mengaku muncul beberapa ancaman terkait quick count.

Yunarto tak pernah menyangka jika ancaman yang dilontarkan padanya mengarah sampai ke pembunuhan.

Namun, ia juga tak merasa terkejut sebab telah ada pemberitahuan dan langkah preventif dari pihak keamanan.

Yunarto pun mengucap terima kasih kepada pihak keamanan.

"Sebetulnya sudah ada pemberitahuan dari pihak keamanan. Saya sangat berterima kasih ada langkah preventif. Saya tidak ingta kapan tepatnya, mungkin sekitar awal Mei atau akhir April, memang sudah ada pemberitahuan bahwa harus ada kewaspadaan khusus karena memang ada ancaman," ujarnya.

Yuanrto mengaku telah mengetahui dirinya menjadi target sejak Polri umumkan nama 4 tokoh nasional yang juga menjadi target pembunuhan.

"Walaupun belum pernah ada cerita detail ke saya. Tetapi sekitar dua minggu yang juga sudah ada kan pengumuman mengenai 4 tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Saat itu sebetulnya saya sudah tahu, sebagian cerita detail dari pihak keamanan mengenai apa yang terjadi.

tetapi memang nama saya baru dikeluarkan secara eksplisit, sepertinya kemarin."

Meski telah mengetahui dirinya menjadi target pembunuhan, Yunarto mengaku tak mengerti motif sang pelaku.

Yunarto pun mengakui tak ingin berspekulasi mengenai motif rencana pembunuhan terhadapnya, ia hanya berharap bahwa alasan di balik itu bukanlah karena hasil quick count Pilpres 2019.

"Saya pikir saya tidak mau berspekulasi, tetapi yang jelas saya berharap bukan karena sebuah quick count," harapnya.

Tak hanya sekedar hasil quick count, Yunarto berharap ancaman pembunuhan tersebut bukan karena perbedaan pendapat atau hak menyampaikan suara.

"Saya berharap bukan karena sebuah perbedaan pendapat, saya berharap bukan karena pelantangan bersuara, saya tidak berharap karena hal itu," lanjut Yunarto.

Yunarto menilai ancaman yang dilontarkan padanya dan empat tokoh nasional bukan sekedar mengenai keselamatan pihak tersebut, melainkan menjadi bentuk pencemaran demokrasi.

"Tetapi balik lagi, poinnya sih menurut saya yang penting ini bukan tentang keselamatan saya atau misalnya ada 4 orang lain. Saya lebih melihat bagaimana ada yang berusaha mencemarkan demokrasi. Ini kan ada yang berusaha 'ingin membunuh perbedaan', 'ingin melukai keberagaman', 'ingin menyelesaikan proses sebuah kompetisi dengan cara yang tidak konstitusional'," terangnya.

Nama Kivlan Zen diduga sebagai orang yang memerintahkan rencana permbunuhan terhadapnya.

Menanggapi hal itu, Yunarto singgung soal rekam jejak pihak-pihak terlibat yang menurutnya tidak cukup baik.

"Ternyata dilakukan oleh orang-orang lama yang dulu juga punya track record yang tidak cukup baik, misalnya di tahun 1998," kata Yunarto.

Meski demikian, Yunarto mengaku telah memaafkan dan tak menaruh rasa dendam.

"Ini yang saya sesalkan dan menurut saya kita tidak usah mengutuk, saya sendiri dan keluarga sudah memaafkan secara pribadi, walaupun sempat syok.

Karena saya pikir sudah terlalu lama, terutama menjelang pemilu kita terjebak dalam kebencian," ujarnya.

Yunarto pun sampaikan harapannya mengenai konstetasi Pilpres yang hendaknya tak didasari dengan kebencian.

"Saya berharap proses hukum tetap berjalan tetapi itu pun tidak perlu ditekan melalui kebencian, kemurkaan terhadap suatu kelompok. Hukum tetap dijalankan sesuai dengan apa yang memang menjadi kewenangannya. Dan kita juga biarkan dia bekerja sendiri tanpa mendorongnya dengan kebencian. Sepertinya bangsa ini sudah terlalu lama membicarakan menang kalah dengan kebencian dan kemurkaan," katanya.

 (Tribunjakarta/ Bima Putra)

Sebagian berita ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Pengakuan Yunarto Wijaya Alami Kecelakaan Tunggal di Tengah Ancaman Pembunuhan: Tiba-tiba Dihajar,  https://jakarta.tribunnews.com/2020/06/01/pengakuan-yunarto-wijaya-alami-kecelakaan-tunggal-di-tengah-ancaman-pembunuhan-tiba-tiba-dihajar?page=4.

Editor: Dodi Hasanuddin
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved