Virus Corona

Waduh, Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar

Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar. New Normal Adalah titik keseimbangan baru, bukan menurunkan kurva covid-19

Twitter @MataNajwa
Presiden Joko Widodo (Jokowi) di acara Mata Najwa, Rabu (22/4/2020). Saat ini Jokowi memutuskan menaikkan iuran BPJS Kesehatan. 

Puncak dari kurva atau delta tersebut katanya akan menjadi puncak pandemi di Indonesia.

Selanjutnya, apabila telah mengalami pelambatan, kurva akan menurun khingga mencapai garis new normal.

"Naik secara eksponensial, saat ini kasus positif itu juga masih eksponensial seperti ini. Sampai nanti suatu saat diharapkan dia akan melambat pertambahan atau deltanya mencapai titik maksimum di sini, lalu dia menurun," ungkap Hermanto J Siregar

 Jokowi Tetapkan New Normal, Fadli Zon:Kebijakan Mencla Mencle Bisa Menjadi New Disaster/Bencana Baru

"Kalau kurvanya itu sudah menurun, artinya pertambahannya (kasus) itu makin lama makin kecil, sehingga katakanlah di sini (titik tertentu) dia melandai," paparnya.

"Kalau di sini dia sudah melandai, tetapi dia tidak sampai pada sumbu horizontal (titik normal), inilah yang kita sebut sebagai new normal," jelasnya menggambarkan garis horizontal beda tinggi yang sejajar dengan garis normal sebelum adanya covid-19.

Garis new normal tersebut katanya berbeda dengan garis normal sebelum adanya covid-19.

Walau masih ditemukannya ada kasus covid-19 baru, kurva katanya tidak naik dan cenderung melandai.

 Rachland Nashidik Posting Halaman depan New York Times, Berharap Indonesia Tidak Seperti Amerika

"Sebab apa? Sebab normalnya itu adalah tidak adanya covid, setelah adanya covid kita ke sini (new normal), cuma jumlah kasus barunya sudah tidak ada lagi," jelas Hermanto J Siregar.

"Ada yang terkena positif, tapi jumlahnya tertentu, makanya di sini dia horizontal sejajar dengan garis normal (awal)," tambahnya.

"Posisi kita saat ini kira-kira masih di sini," ungkapnya menggoreskan titik sebelum puncak kasus virus corona.

"Jadi bila kita dikatakan sudah new normal itu belum pas, kita akan bisa new normal kalau kita sudah mencapai posisi di sini (garis new normal)," tutupnya diakhir tayangan.

   

Editor: Dwi Rizki
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved