Kolom Trias Kuncahyono

Kupanggil Dia, Bapa Raja

Politik bisa membuat seseorang tampil dewasa, menjadi sosok yang bijak, dan bersedia mengorbankan hidupnya untuk kesejahteraan bersama.

Istimewa
Ilustrasi 

“Bung, politik itu luwes.”

Begitu kata Bapa Raja, suatu hari. Sudah lama sebutan “Bapa Raja” tak saya ucapkan, karena memang sudah lama tak bertemu dan berkomunikasi dengannya.

Tak saya duga, Bapa Raja kirim pesan lewat WA. Sebuah pesan yang sangat menyenangkan. Dan, saat itu pula, ingatlah saya akan pendapatnya tentang politik dalam sebuah obrolan sore sambil ngopi di kamar kerjanya.

Tetapi, jangan pernah bertanya, mengapa saya memanggilnya  “Bapa Raja.” Sejak kapan? Tidak tahu. Lupa.

Yang pasti, saya senang memanggilnya dengan sebutan “Bapa Raja” dan dia juga senang saya panggil “Bapa Raja.”

Pikiran yang senang adalah berkah terbesar yang bisa dinikmati manusia di dunia ini, meminjam ucapan Joseph Addison (1672-1719) seorang penyair dari Inggris.

Memang, saya hanya pernah dengar bisik-bisik bahwa di kampung halamannya di Indonesia bagian Timur sana, dia memang dari keluarga raja. Benarkah? Lagi-lagi, saya tidak tahu.

Tentang politik itu luwes, Bapa Raja mengatakan, politik bisa bersanding dengan apa saja dan siapa saja.

Hasil dan manfaat dari politik tergantung dari dengan siapa politik itu berpasangan atau dipasangkan.

Politik bisa membuat seseorang tampil dewasa, menjadi sosok yang bijak, dan bersedia mengorbankan hidupnya untuk kesejahteraan bersama.

Halaman
1234
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved