Pandemi Corona

Pengakses Pornografi Meningkat Pesat Saat Pandemi Melanda Dunia, Ini Alasannya

Apakah peningkatan konsumsi pornografi di masa pandemi ini bakal punya dampak buruk pada masa mendatang?

Thinkstock/AndreyPopov
Ilustrasi pornografi 

Sebagian besar negara di dunia memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), atau social distancing, guna mengatasi wabah corona. Praktis sebagian besar orang harus menghabiskan waktu di dalam rumah.

Pada saat yang sama, hampir semua sektor bisnis mengalami penurunan pendapatan yang signifikan. Bahkan banyak perusahaan sudah bangkrut atau di ambang pailit. Namun, Pornhub, situs pornografi terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat, justru panen duit.

Pengunjung situs itu dilaporkan mengalami peningkatan 18 persen dari masa sebelum wabah corona. Apalagi setelah situs itu memberlakukan masa gratis 30 hari untuk konten premiumnya.

Lantas mengapa orang mengonsumsi makin banyak pornografi (materi/konten porno)? Apakah kesenangan ini punya dampak buruk pada jangka pendek maupun panjang?

Berikut uraian pendek Joshua B Grubbs, guru besar bidang psikologi klinis di Bowling Green State University, Ohio, AS, dalam The Conversation, yang juga dimuat dalam situs Popular Science, popsci.com. Ia sudah puluhan tahun mendalami masalah pornografi.

Menurut Grubbs, ada banyak alasan orang menggemari pornografi, namun alasan utama mengerucut pada: kenikmatan seksual. Berdasarkan hasil risetnya, sebagian besar penggunaan pornografi untuk masturbasi.

Namun, ada sejumlah alasan lain mengapa orang menggunakan materi porno. Stres, kecemasan, dan emosi negatif menjadi sebagian sebab orang mengakses materi porno. Intinya, orang berpaling ke pornografi dan masturbasi karena merasa dapat lepas sejenak dari stres mereka.

Para periset psikologi juga mendapat temuan bahwa orang menggunakan pornografi makin banyak ketika merasa bosan. Maka Grubbs menduga kuat bahwa peningkatan konsumsi pornografi yang drastis di masa pandemi sekarang ini karena orang mengalami kebosanan. Makin bosan, makin tinggi minat untuk mengonsumsi materi porno.

Jadi, kebijakan social distancing untuk mengatasi wabah covid-19, yang menyebabkan orang mengalami isolasi sosial, kesepian, dan stres, menjadi alasan yang masuk akal atas peningkatan konsumsi pornografi.

Menjadi pertanyaan kemudian, apakah peningkatan konsumsi pornografi di masa pandemi ini bakal punya dampak buruk pada masa mendatang? Sebagai ilmuwan sang profesor tidak yakin bahwa hal tersebut akan menimbulkan masalah sosial yang meluas seperti kecanduan, dan disfungsi seksual berkepanjangan. Alasannya, belum cukup data selama pandemi ini yang mendukung kesimpulan ke arah itu.

Halaman
12
Penulis: Bambang Putranto
Editor: Bambang Putranto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved