Breaking News:

Virus Corona Jabodetabek

Dibantu Hujan Deras, Pemotor Ini Lolos Mudik ke Jawa Tengah

Ia yang mudik mengendarai sepeda motor bisa lolos dari belasan lokasi cek poin atau pemeriksaan petugas kepolisian.

WARTA KOTA/MUHAMMAD AZZAM
Slamet Irawan bersama temannya saat diberhentikan di lokasi cek poin Jalan Sultan Agung, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Selasa 28 April 2020. 

Akan tetapi, saat melintasi lokasi cek poin, petugas tak memberhentikannya.

"Petugasnya ada di lokasi, tapi cuma dilihatin aja, enggak diberhentikan," terang Slamet.

Meski dingin diterpa hujan, itu menjadi sebuah pertolongan luar biasa bagi Slamet Irawan maupun temannya.

ISI Lengkap Sambutan Jokowi saat Doa Kebangsaan dan Kemanusiaan: Ketenangan Adalah Separuh Obat

Ia sampai ke kampung halaman di Desa Majalangu, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sekitar pukul 20.30 WIB.

Saat awal masuk ke kawasan desanya, ia sempat tertahan.

Ia terlebih dahulu diperiksa petugas desa setempat.

PROFIL 7 Perwira Bintang Tiga Calon KSAL Pengganti Laksamana TNI Siwi Sukma Adji yang Pensiun

Suhu tubuhnya diperiksa, seluruh badanya disempot disinfektan, kendaraan sepeda motornya juga disemprot.

Kemudian ia dan temannya dibawa ke Puskesmas untuk dilakukan rapid test karena datang dari zona merah.

Hasil tes, keduanya negatif alias tidak reaktif.

Tak Kapok Meski Pernah Ditegur Satpol PP karena Tidak Pakai Masker, Bagus Dihukum Pungut Sampah

Akhirnya, mereka dipersilakan kembali ke rumah.

"Pas awal nyampe enggak boleh apa-apa, ada yang jagain juga di kampung."

"Di cek suhu, semprot kendaraan, apa segala macam."

Ditanya Soal Kerumunan Penumpang di Terminal 2, Begini Jawaban Pihak Bandara Soekarno-Hatta

"Suruh enggak boleh balik dulu, sampai benar selesai pemeriksaan," beber Slamet.

Setelah melalui proses tersebut, akhirnya ia dibolehkan pulang dan diminta selama 14 hari tidak keluar rumah.

"Pulang ke rumah enggak boleh keluar-keluar 14 hari, karantinanya di rumah," jelasnya.

KESAKSIAN Penolong Pertama Novel Baswedan: Tangan Gatal Setelah Bantu Bersihkan Wajah dari Air Keras

Selama tinggal di kampung, ia bertahan hidup dengan merebus atau memasak bahan makanan dari hasil kebunnya.

Meski makan apa adanya, menurut Slamet bisa berkumpul bersama istri dan kedua anaknya juga suatu kebahagian.

Ketimbang, tetap memaksakan diri tinggal di Jakarta, minim penghasilan dan ditinggal di tengah zona merah.

KPK Ternyata Pernah Surati Jokowi Soal Defisit Keuangan BPJS Kesehatan, tapi Tak Kunjung Ditanggapi

"Di kampung makan enggak makan yang penting kumpul, di sini enggak perlu bayar kontrakan."

"Kita masih ada saudara, masih gampanglah buat makan," terangnya.

Slamet tak terbayang jika usaha mudiknya gagal, ia harus kembali ke lokasi perantauannya di Mangga Besar Jakarta Pusat.

AP II Bilang Kerumunan Penumpang di Terminal 2 Bandara Soetta Cuma Satu Jam, Ini Penyebabnya

Selain bakal susah tak punya uang, juga dihantui rasa takut terpapar Covid-19.

"Seberang atau 150 meter dari kontrakan itu ada yang positif."

"Saya andalkan penghasilan narik barang dan makanan kan sepi, juga kan ngeri juga kondisinya begini," kata Slamet.

UPDATE 14 Mei 2020: RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Rawat 702 Pasien Positif

Slamet nekat mudik karena dua hari sempat tak makan karena tak ada uang.

Ia tertolong bisa makan di hari ketiga berkat pertolongan temannya yang kini juga sudah mudik ke Cirebon.

Dirinya juga tertolong oleh Agung, teman satu kampung halaman, sehingga bisa berangkat mudik bersama.

109 Narapidana Asimilasi Kembali Berulah dan Ditangkap, Paling Banyak di Jateng, Sumut, dan Jabar

"Ketolong warga satu kampung, saya benar-benar enggak punya uang."

"Jadi pulang bareng dia pakai motor saya, ongkos bensin dari dia," beber Slamet.

Temannya itu juga terpaksa mudik karena di-PHK dari tempat kerjanya. Apalagi, istrinya lagi hamil besar.

Saksi Bilang Dua Terdakwa Penganiaya Novel Baswedan Mirip Sketsa dan Orang Mencurigakan di TKP

"Itu dia juga bersyukur bisa lolos mudik, lima hari sampai, istrinya melahirkan."

"Coba kalau gagal mudik? Kasihan," cetusnya.

Kemungkinan besar, sambung Slamet, ia baru akan kembali ke Jakarta jika kondisi benar-benar sudah normal.

Nadiem Makarim: Pandemi Covid-19 Sadarkan Orang Tua Betapa Sulitnya Jadi Guru

"Habis Lebaran belum tentu balik ke sana, nunggu keadaan normal, nunggu hilang."

"Semoga lepas kelar itu namanya Corona-Corona," tuturnya.

Kini ia hanya berharap virus yang belum ada vaksinnya ini segera berakhir, sehingga kehidupan kembali normal.

UPDATE Kasus Covid-19 di Indonesia 14 Mei 2020: 16.006 Orang Positif, 3.518 Sembuh, 1.043 Meninggal

Sebab, selama di kampung ia tak ada penghasilan apapun buat menghidupi keluarganya.

Ia juga mengeluhkan bantuan sosial dari pemerintah tak kunjung datang.

Padahal, sudah didata RT RW dan diminta fotokopi Kartu Keluarga (KK).

Pemerintah akan Longgarkan PSBB Bila Tingkat Kepatuhan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan Tinggi

"Sudah didata, dikumpulin KK, cuma kok belum nyampe ya?"

"Padahal Pak Jokowi sudah umumin, di mana nyangkutnya saya enggak tahu tuh," ucapnya. (*)

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved