Jumat, 10 April 2026

Orientasi Pendidikan di Indonesia Harus Antisipasi Percepatan Perubahan Dunia

masyarakat harus meraba betul bagaimana perubahan pola hidup di seluruh dunia dan meraba apa yang seharusnya dilakukan dengan perubahan itu.

Editor: Ahmad Sabran
Warta Kota/Alija Berlian Fani
Enggartiasto Lukita. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Perubahan kehidupan akibat pandemi COVID-19 menuntut penyesuaian di berbagai sektor, tidak terkecuali bidang pendidikan.

Ketua Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr (HC) Enggartiasto Lukita mengatakan perubahan orientasi pendidikan mutlak perlu dilakukan untuk bisa menyongsong target Indonesia Emas 2045.

"Dengan perubahan yang terjadi saat ini, masyarakat harus meraba betul bagaimana perubahan pola hidup di seluruh dunia dan meraba apa yang seharusnya dilakukan dengan perubahan itu. Terutama di dunia pendidikan," ujar Enggartiasto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat seperti dikutip dari Antaranews.com.

Mantan Menteri Perdagangan itu menyampaikan bahwa pada era Revolusi Industri 4.0, sektor pendidikan harus menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada. Apalagi dengan adanya pandemi, banyak hal baru yang harus disesuaikan dengan metode pembelajaran dan tuntutan dalam dunia kerja.

"Perubahan orientasi dalam pendidikan mutlak harus dilakukan," kata dia.

VIDEO: Tribunnews dan Cardinal Serahkan Bantuan Masker ke Wali Kota Pepen di Stadion Patriot

Enggar juga menekankan, sebagai anak bangsa, semuanya harus saling bersatu bahu-membahu memajukan negeri ini tanpa harus memandang perbedaan agama, ras, suku dan sikap politik. Dia mengapresiasi terbentuknya Pena Bakti Institute yang digagas Fauzan, salah satu alumni UPI untuk pemberdayaan dan advokasi kebijakan pendidikan.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) dan Duta Besar RI untuk Uzebkistan Prof Sunaryo Kartadinata mengatakan bahwa peran pendidikan dalam konteks Indonesia Emas adalah menyiapkan manusia Indonesia pada era 2045.

VIDEO: Batal Mudik Naik Kereta, Warga Urus Refund Tiket di Stasiun Gambir

Untuk menyiapkan manusia Indonesia yang unggul itu, perlu dibangun tujuh kondisi. Ketujuhnya adalah misi pendidikan, keutuhan mindset pendidikan, strategi kebudayaan, pendidikan kehidupan nyata, karakter dan budaya damai, guru pemikir dan kepemimpinan pedagogis transformatif.

"Jika tujuh kondisi tersebut telah kokoh, maka pada tahun 2045 nanti kita akan menjadi bangsa pendidikan, bangsa inovasi dan generasi emas, “ kata mantan Rektor UPI itu.

Pelaksana tugas Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Prof Nizam, menjelaskan arah kebijakan dan strategi pemerintah untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas memang ditujukan untuk membentuk manusia Indonesia nan berkualitas.

VIDEO: Banyak Kenangan, Pelanggan McDonald Sarinah Mengaku Sedih dan Berfoto Ria

Pengembangan anak usia dini secara terintegrasi dan holistik, afirmasi pendidikan, pemenuhan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas, profesionalisme adalah diantara poin yang dilakukan.

Kemudian, peningkatan kualitas, pengelolaan dan penempatan guru, pembelajaran keterampilan abad 21, dan percepatan wajib belajar 12 tahun.

Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian memaparkan, satu-satunya sektor yang mendapat proporsi anggaran dari APBN adalah sektor pendidikan, yaitu sebesar 20 persen. Namun dari anggaran itu pun tersebar ke berbagai sektor, termasuk program Kartu Prakerja menggunakan dana yang berasal dari APBN fungsi pendidikan.

"DPR akan memastikan program ini berjalan baik, dari sisi legislasi yaitu memastikan perundang-undangan yang dibuat berkualitas, dan memastikan anggaran dialokasikan untuk program-program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," terang Hetifah.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved