Minggu, 10 Mei 2026

Virus Corona Bodetabek

Pengelola Kesulitan Dana untuk Beli Pakan Hewan, Satwa di Taman Safari Bogor Ikut Puasa

Pengelola Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor mulai kesulitan dana untuk memenuhi kebutuhan pakan hewan.

Tayang:
Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Humas TSI
Foto dengan obyek pertarungan seekor buaya dengan kadal, menjadi juara I kategori umum pada International Animal Photo Competition ( IAPC ) tahun lalu yang diadakan oleh Taman Safari Indonesia, bekerjasama dengan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Tak ada pemasukan dari pengunjung, hewan di Taman Safari Bogor dipaksa puasa

WARTAKOTALIVE.COM, CISARUA - Pengelola Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor mulai kesulitan dana untuk memenuhi kebutuhan pakan  satwa.

Hal itu dampak dari ditutupnya kunjungan wisatawan sejak virus corona atau Covid-19 melanda dan terus meluas.

Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, Yulius H. Suprihardo, mangakui jika kondisi satwa saat ini berat.

Pasalnya, lembaga konservasi satwa sekaligus taman rekreasi itu sudah tidak ada pemasukan lagi sejak penutupan menyusul pandemi Covid-19.

"Jujur saja saat ini mengalami kesulitan. Tidak ada pemasukan dari pengunjung, sementara ada banyak satwa yang tetap harus kita rawat," ujarnya, Sabtu (2/5/2020).

Menurut Yulius, akibat ditutupnya TSI lantaran diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), membuat TSI tidak mendapatkan pemasukan.

Padahal pendapatan TSI tersebut untuk menambah biaya perawatan dan memenuhi kebutuhan pakan satwa setiap harinya.

Alhasil, TSI Bogor selama ini hanya mengandalkan tabungan yang semakin hari semakin menipis.

Untuk menyiasatinya,lanjut Yulius, biasanya pakan satwa karnivora di TSI Bogor menggunakan daging rusa import, kini diganti daging ayam lokal saja.

Sementara untuk jadwal makan, digilir sehari makan sehari berpuasa.

 Ia mengakui, kebutuhan satwa pemakan daging ini cukup berat mengingat jumlah mereka juga tidak sedikit.

Apalagi porsi makan golongan kucing besar yang banyak. Untuk sekali makan kucing besar itu dapat menyantap 5 kilogram daging ayam. 

"Kalau mereka di alam liar kan juga begitu ya kalau tidak salah. Misal hari ini dapat buruan, lalu besoknya tidak dapat, mereka berpuasa," tutur Yulius.

 Yulius menyatakan bahwa  untuk memenuhi kebutuhan pakan satwa herbivora atau pemakan tumbuhan, maka. pengelola TSI melakukan penanaman.

Penanaman secara mandiri dilakukan dengan menanam berbagai jenis sayuran yang dibutuhkan satwa di TSI Bogor. 

Meski demikian  pengelola TSI Bogor tetap berkomitmen memberi pakan, merawat dan menjaga satwa-satwa koleksi yang pada dasarnya merupakan satwa yang dilindungi.

Berdiri sebagai lembaga swasta yang  segala pengeluaran ditanggung pesero, maka TSI Bogor  hanya bisa bertahan sesuai dengan kemampuan keuangan yang dikelola managemen.

Yulius khawatir jika pandemi berlangsung lama, banyak satwa yang akan terbengkalai pakannya.

Kondisi ini, yang membuat pihak TSI melalui Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) mengirim surat kepada Kementerian Keuangan meminta keringanan pajak.

Selain itu, pihaknya juga membuka donasi melalui rekening yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan makanan dan perawatan kesejahteraan para satwa.

Ada sebanyak 2.600 satwa dari 270 spesies dirawat di TSI Bogor, mulai dari satwa terbesar Gajah Sumatera hingga marsupial terkecil Sugar Glider.

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved