Mbak Tutut Kenang Peristiwa Menyedihkan 24 Tahun lalu, Bu Tien Wafat dan Dikabarkan Ditembak Adiknya
Mbak Tutut Kenang Peristiwa Menyedihkan 24 Tahun lalu, Bu Tien Wafat dan Dikabarkan Ditembak Adiknya. Kabar yang segera dibantah ayahnya, Pak Harto
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dua puluh empat (24) tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 April 1996, Raden Ayu Siti Hartinah yang akrab disapa Ibu Tien Soeharto meninggal dunia.
Kepergian Presiden Republik Indonesia kedua Soeharto itu pun membawa duka mendalam bagi Keluarga Besar Cendana.
Wafatnya Ibu Tien pun semakin pilu, lantaran diisukan penyebab Ibu Tien meninggal akibat tertembak oleh putranya sendiri.
Hal tersebut disampaikan Siti Hardijanti Rukmana.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Tutut itu mengaku ketika peristiwa terjadi dirinya tengah berada di Perancis dan London, Inggris.
Dirinya yang merupakan Presiden Donor Dunia dan sedang menggelar sidang katanya segera pulang ke Tanah Air begitu mendenagr kabar duka tersebut.
"Betapa terkejut ketika saya mendengar berita ibu telah tiada. Pada saat saya berangkat, ibu masih segar bugar," tulis Mbak Tutut dikutip dari tututsoeharto.id.
"Mendengar kabar lelayu (berita Ibu wafat), saya langsung kembali ke Jakarta. Itulah perjalanan paling lama yang saya rasakan selama saya bepergian," ungkapnya.
Penerbangannya waktu tidak dapat langsung menuju Indonesia, dirinya mengaku harus berhenti di Singapura untuk transit.
Guna mempercepat waktu, suaminya Indra Rukmana kemudian menjemputnya di Singapura.
Selanjutnya, keduanya pun segera menuju Solo, tempat Jenazah Ibu Tien disemayamkan.

Ibu Tien Sempat Mengeluh
Sesampainya di Solo, Mbak Tutut kemudian bersama ayahnya, Pak Harto kemudian berangkat menuju Makam Giribangun.
Dirinya mengaku berkesempatan menemani Pak Harto dalam sebuah mobil menuju lokasi pemakaman
"Setelah bertemu ibu dan bapak, kami berangkat ke makam di Giribangun. Saya menemani bapak satu mobil," ungkap Mbak Tutut.
"Di dalam perjalanan menuju makam, dengan suara yang dalam, tiba-tiba bapak bercerita," lanjutnya.
'Ibumu pagi itu, mengeluh'
'Bapak, aku kok susah nafas yo'
'Bapak tanya mana yang sakit bu'
Ibumu bilang, 'Ora ono sing loro (tidak ada yang sakit), mung susah nafas pak (hanya susah nafas pak)'
Bapak bertanya lagi, adanya sakit nggak bu'
Ibumu berbisik, 'Ora ono (tidak ada)'
Bapak rebahkan ibu dengan bantal yang agak tinggi, karena ibumu susah nafasnya.
Bapak panggil ajudan untuk segera menyiapkan ambulans. Ibu harus dibawa ke rumah sakit segera.
"Saya mencoba bertanya ke bapak, 'Jadi ibu tidak mengeluh sakit sedikitpun pak?'. Bapak menjawab dengan tegas, 'Tidak, ibu hanya mengatakan susah nafas'.," ungkap Mbak Tutut.
"'Jam berapa itu pak?', saya bertanya. 'Kurang lebih jam 3' kata bapak. Berarti setelah bapak sholat tahajut," tambahnya.
Detik-detik kepergian ibunda kembali diceritakan Mbak Tutut.
Setelah Ibu Tien mengeluhkan sakit pada bagian dadanya, Pak Harto dan ajudan kemudian membawa Ibu Tien ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD).
Berdasarkan penuturan Pak Harto, Ibu Tien selama diperjalanan tidak sadarkan diri.
Upaya pertolongan yang dilakukan oleh tim dokter katanya tidak membuahkan hasil.
Ibu Tien dinyatakan meninggal dunia.
"Di dalam perjalanan, ibumu sudah tidak sadar. Sampai di rumah sakit, semua dokter sudah berusaha untuk membantu ibumu. Tapi, Allah berkehendak lain," ungkap Mbak Tutut menirukan ucapan Pak Harto.
"Bapak terdiam tidak bicara lagi. Sepertinya, bapak ingin mengungkapkan perasaan hati yang kehilangan ibu dengan bercerita. Tak dapat saya bendung air mata saya," kenangnya.
Kesedihan yang begitu mendalam diungkapkan Mbak Tutut lantaran kisah kasih kedua orangtuanya tersebut semasa hidup.
Pak Harto dan Ibu Tien diketahuinya tidak pernah berjauhan.
Keduanya diungkapkan Mbak Tutut juga saling mencinta, saling mendukung, dan saling membantu.
Sehingga, begitu salah satu tidak ada lagi di kehidupan, maka akan terasa, ada sesuatu yang hilang dalam diri seorang lainnya.

Kabar Bohong
Tidak hanya kepergian Ibu Tien yang mendadak, kesedihan yang mendalam juga dipicu adanya hoax atau kabar bohong yang dihembuskan oleh orang tidak dikenal.
Ibu Tien dikabarkan meninggal dunia karena tertembak oleh adik-adiknya, Tommy dan Bambang Soeharto.
Dirinya mengaku heran dengan adanya hoaks tersebut.
"Siapa manusia yang tega menyebarkan berita keji tersebut. Demi Allah, apa yang bapak ceritakan, itu yang terjadi," ungkap Mbak Tutut.
"Tadinya saya akan diamkan saja. Tapi rasanya berita itu semakin diulang-ulang ceritanya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," jelasnya.
Oleh karena itu, sebelum dirinya meninggal, masyarakat katanya harus tahu kebenaran dari wafatnya Ibu Tien.
Lewat media sosial, dirinya menegaskan berita tersebut tidak benar.
"Siapapun yang membuat cerita itu, dan siapapun yang ikut menyebarkan, kami serahkan pada Allah untuk menilainya. Karena kami meyakini, bahwa Allah adalah Hakim Yang Maha Adil," ungkap Mbak Tutut.
"Sahabat…, terima kasih yang tulus kami sampaikan, atas doa yang selalu dilantunkan untuk Ibu dan Bapak kami tercinta. Semoga Allah SWT, membalas dengan berlipat ganda… Aamiin," tutupnya diakhiri puisi karyanya.
Terima kasih kami haturkan ya Allah, telah memilihkan kami terlahir dari seorang ibu yang baik, bijaksana, hormat pada orang tua dan suami dan sesepuh, penuh kasih sayang, peduli pada yang berkekurangan, membantu yang membutuhkan, memberi pada yang tidak berkecukupan.
Ya Allah ampuni dosa ibuku…
Maafkan segala kesalahannya…
Terimalah semua amal ibadahnya…
Tempatkan ibuku di sorga-Mu yang terindah, bersama Bapak dan bersama orang-orang yang datang sebelum kami, yang beriman dan Engkau sayangi.
Ibu… tenanglah di atas sana…
Doa kami selalu menyertaimu…
We love you always ibu…
Jakarta 29 April 2020
Hj Siti Hardiyanti Rukmana