Virus Corona

Belanja Online Naik hingga 300 Persen, Ini Hasil Lengkap Analisa ADA Tentang Perilaku Konsumen

Kondisi pandemi global Covid-19 yang diikuti dengan penerapan social distancing berdampak pada perilaku konsumen dalam beberapa bulan terakhir.

Istimewa
Hasil analisa data ADA, perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terkait kebijakan social distancing selama wabah covid-19. 

Data ADA menunjukkan, sejak imbauan social distancing diumumkan, penggunaan aplikasi belanja online mengalami kenaikan hingga 300 persen.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kondisi pandemi global virus corona atau Covid-19 yang diikuti dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (social distancing) berdampak pada perilaku konsumen dalam beberapa bulan terakhir ini.

Hal itu terungkap dalam analisa Social Distancing dan Dampaknya Terhadap Perilaku Konsumen yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), ADA.

ADA melakukan analisis data terhadap perubahan perilaku konsumen di beberapa negara yang mengalami pandemi virus corona atau Covid-19, termasuk Indonesia.

Situasi pandemi ini rupanya memunculkan perilaku konsumen baru, yang berbeda-beda di setiap negara Asia Tenggara.

Cegah Penyebaran Covid-19, Klinik ERHA Hadirkan Berbagai Layanan Ramah Social Distancing

Selama Wabah Covid-19, Transaksi Nontunai McDonalds di Layanan Drive-Thru Naik hingga 4 Kali Lipat

Signifikan

Di Indonesia, pandemi dan social distancing memperlihatkan beberapa perubahan perilaku yang signifikan, misalnya The Adaptive Shopper dan Working-from-home Professional.

Perubahan ini terlihat dari penggunaan aplikasi belanja dan produktivitas di sepanjang bulan Maret 2020.

Data ADA menunjukkan, sejak imbauan social distancing diumumkan, penggunaan aplikasi belanja online mengalami kenaikan hingga 300 persen.

Penggunaan aplikasi jenis ini pun mengalami puncak tertinggi pada 21-22 Maret, dengan angka pencapaian lebih dari 400 persen.

“Masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah dan atas, telah beradaptasi dengan dunia baru ini,” ujar Managing Director ADA Indonesia Kirill Mankovski, dalam keterangan resminya belum lama ini.

“Mereka beralih ke cara-cara baru untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya,” imbuhnya.

Bantu Tenaga Medis Indonesia Tangani Covid-19, Allianz Indonesia Donasi Multivitamin dan APD

Jaringan Katolik Melawan Covid-19 Telah Distribusikan Berbagai Bantuan ke Lebih 80 RS se-Indonesia

Hasil analisa data ADA, perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terkait kebijakan social distancing selama wabah covid-19.
Hasil analisa data ADA, perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terkait kebijakan social distancing selama wabah covid-19. (Istimewa)

Layanan digital WFH

Selain penggunaan aplikasi belanja online yang meningkat, penggunaan layanan digital juga meningkat untuk aktivitas bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH).

Bagi sebagian besar pekerja di Indonesia, working from home sama seperti bekerja pada situasi normal.

Mereka tetap melakukan pekerjaan, kolaborasi, komunikasi, dan meeting seperti biasa.

Hanya saja, semua pekerjaan dilakukan di rumah dengan bantuan aplikasi produktivitas.

Data ADA mencatat adanya peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas yang naik hingga lebih dari 400 persen pada pertengahan bulan Maret 2020.

Adapun aplikasi yang paling banyak digunakan adalah aplikasi screen recorder dan anti-virus.

“Kami melihat, masyarakat Indonesia cepat beradaptasi untuk memenuhi kebutuhannya, dan berusaha untuk tetap produktif,” ungkap Krill.

Oppo Reno3 Pro Segera Rilis di Tanah Air, Ini Keunggulan, Harga, dan Perbedaannya dengan Reno3

Timsus Pemulasaran Polda Metro Jaya, Urus Jenazah Korban Covid-19 Warga Petamburan Jakarta Pusat

Belanja online

Merujuk pada crisis persona milik ADA, minat berbelanja masyarakat Indonesia tidak hilang.

Terutama untuk belanja online, minat tersebut justru tumbuh pesat selama situasi krisis ini berlangsung.

Dengan ditutupnya mayoritas pusat perbelanjaan, belanja online menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan, mulai dari harian hingga hobi.

Melihat minat belanja yang tidak reda, hal ini membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan lainnya.

Apalagi, beberapa platform jual beli online menganjurkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi secara cashless dengan memanfaat servis pembayaran seperti kartu kredit, transfer, atau e-wallet.

Hasil analisa data ADA, perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terkait kebijakan social distancing selama wabah covid-19.
Hasil analisa data ADA, perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terkait kebijakan social distancing selama wabah covid-19. (Istimewa)

Bagi Kirill, ini merupakan saat yang tepat bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan untuk melakukan pemasaran.

Menurutnya, para pemain di industri ini dapat memanfaatkan ruang digital untuk melakukan promosi kepada pengguna loyal, atau bahkan menjangkau pengguna baru.

Di saat seperti ini, mayoritas masyarakat cenderung memilih transaksi cashless demi menjaga kesehatan.

“Di sisi lain, komunikasi pemasaran harus tetap dilakukan untuk menjaga posisi sebuah brand di benak konsumen,” paparKirill.

“ Dengan tetap menjaga posisi tersebut, akan lebih mudah bagi brand atau perusahaan untuk melakukan pemulihan bisnis pada saat situasi kembali normal,” ungkapnya lagi.

Penulis: Mochammad Dipa
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved