Virus Corona

Krisis Ekonomi Membayangi Imbas Wabah Virus Corona, Waspada Investasi Bodong atau Money Game

Krisis Ekonomi Membayangi Imbas Wabah Virus Corona, Waspada Investasi Bodong atau Money Game. Berikut Ciri-cinya

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Praktisi Hukum Dr Aldo Joe, SH MH 

Di tengah gejala ekonomi yang kian tidak menentu imbas wabah virus corona, begitu banyak penawaran investasi bermunculan. Masyarakat diharapkan mewaspadai investasi bodong atau money game yang menawarkan keuntungan berlipat dan tidak wajar.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Praktisi Hukum Dr Aldo Joe, SH MH menyebutkan investasi bodong umumnya disamarkan dalam sejumlah modus.

Namun, dalam mengidentifikasi praktek investasi bodong, dijelaskannya terdapat sejumlah ciri-ciri  yang harus diwaspadai oleh masyarakat sebelum berinvestasi.

"Merebaknya penawaran investasi, terutama dari negara asing seringkali memanfaatkan situasi ekonomi bangsa yang tidak menentu. di antaranya diiming-imingi keuntungan yang tidak wajar, hal ini yang harus diwaspadai," ungkap Aldo Joe dihubungi pada Sabtu (18/4/2020).

Beberapa hal ciri-ciri investasi bodong antara lain :

1. Meyakinkan calon investor dengan menyampaikan investasi dijamin oleh pihak ketiga, sehingga dana yang ditanamkan terjamin keamanannya.

"Awalnya meyakinkan karena dijamin oleh pihak ketiga, padahal pihak ketiga yang disebutkan tidak jelas kebenarannya," ungkap Aldo Joe.

2. Pencairan dana dikunci dalam periode tertentu. Namun dalam perkembangannya, investasi bodong kini dapat dicairkan kapan pun sesuai dengan perjanjian. 

"Dahulu pencairan money game di-lock (kunci) beberapa bulan hingga setahun, tetapi seiring persaingan pasar dunia gelap ini, money game kini dapat dicairkan kapanpun," ungkap Aldo Joe.

"Namun ingat, money game yang bisa dicairkan kapan pun juga bisa tutup kapan pun yang mereka inginkan," tambahnya.

3. Disimpan lewat pihak ketiga. Langkah ini untuk menyamarkan aksi mereka dari tanggung jawab pidana maupun perdata.

"Umumnya ditransfer ke pihak ketiga yang mengaku money changer, padahal merupakan komplotan pelaku yang sama," jelas Aldo Joe.

4. Iming-iming keuntungan yang besar dibandingkan lembaga investasi terdaftar dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keuntungan investasi yang ditawarkan umumnya berkisar 10 persen hingga 50 persen per bulan.

5. Komisi referal tidak wajar. Umumnya investasi bodong menjanjikan komisi tambahan apabila anggota dapat mengajak investor baru untuk menanamkan modal. Besaran komisi referal tersebut berkisar 1 persen hingga 30 persen yang dibagikan secara rutin setiap bulannya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved