Breaking News:

Virus Corona Jabodetabek

7 Hari Ikut Tahlilan, Warga Satu RT Diisolasi Setelah Tahu Tetangganya Meninggal Positif Corona

Kita belum pastikan berapa orang tapi estimasi 20 sampai 25 sih yang ikut tahlilan. Kita lakukan pendataan yang mungkin pernah berinteraksi

Penulis: Dedy | Editor: Dedy
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rajeg jadi salah satu TPU di Kabupaten Bogor yang digunakan untuk pemakaman warga yang meninggal terkait Virus Corona atau Covid-19. 

Puluhan warga di satu RT di sebuah kampung di Kabupaten Bogor terpaksa menjalani isolasi mandiri setelah menghadiri tahlilan wafatnya pasien positif virus corona (Covid-19).

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) setempat, Heri Risnandar menjelaskan, isolasi mandiri itu dilakukan setelah di hari ke 8 warga baru tahu jika tetangganya meninggal bukan karena penyakit jantung melainkan positif virus corona.

Awalnya, kata Heri Risnandar, seorang warganya ada yang meninggal dunia pada 3 April 2020.

“Meninggalnya tanggal 3 (April 2020), tidak ada konfirmasi positif Covid-19, warga tahunya penyakit jantung aja, makanya pada takjiah dan tahlilan,” kata Heri kepada wartawan, Senin (13/4/2020) seperti dilansir TribunnewsBogor.com.

Warga pun menghadiri tahlilan setiap harinya di rumah alamrhum seperti pada umumnya.

Tahlilan itu dihadiri puluhan warga dan berlangsung selama 7 hari setelah korban meninggal.

“Kemudian baru diketahui kemarin tuh hari ke-8, tahlilan selesai. Katanya almarhum positif dan itu pun warga tahu ketika sudah dirilis di Pemkab Bogor,” kata Heri.

Keluarga almarhum termasuk satu pembantunya pun langsung diisolasi mandiri karena jadi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan diperiksa kesehatannya dengan tes swab karena mereka termasuk intens kontak dengan almarhum semasa hidup.

Sementara puluhan warga yang sempat menghadiri tahlilan terpaksa diimbau juga untuk melakukan isolasi mandiri walaupun belum tentu jadi ODP.

“Warga kita imbau untuk isolasi mandiri sementara di rumah masing-masing untuk mencegah aja jaga-jaga takutnya hasilnya positif. Kita coba putus rantai penyebaran dulu sementara walau pun belum ODP,” kata Heri.

Terkait jumlah warga yang menghadiri tahlilan tersebut, Heri memperkirakan ada 20 sampai 25 orang dan mencakup satu wilayah Rukun Tetangga (RT).

Namun tidak menutup kemungkinan angka ini akan meningkat karena pendataan masih berlangsung.

“Pendataanya agak repot karena tahlilannya selama 7 hari, jadi tidak melulu orang itu juga, mungkin gantian. Jajaran desa sedang melakukan pendataan. Kita belum pastikan berapa orang tapi estimasi 20 sampai 25 sih yang ikut tahlilan. Kita lakukan pendataan yang mungkin pernah berinteraksi sambil menunggu hasil dari puskesmas atau dinkes seperti apa, mudah-mudahan tidak ada positif,” ungkap Heri.

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved