Breaking News:

Meski Mengkritisi, Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya Tegaskan Tidak Menolak Omnibus

Serikat pekerja ini meminta RUU Omnibus law benar-benar dilahirkan untuk kepentingan seluruh bangsa, bukan semata kepentingan kelompok tertentu.

Meski Mengkritisi, Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya Tegaskan Tidak Menolak Omnibus
istimewa
Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya (SPTJR)

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Rancangan Undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker) saat ini tengah dibahas di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI. Banyak elemen masyarakat menolak dan mempertanyakan mekanisme penyusunan RUU tersebut karena dinilai tergesa-gesa dan tidak melibatkan partisipasi publik. Suara penolakan dengan gaung paling keras dan massif muncul dari kelompok pekerja atau buruh.

Dalam hal ini, Ketua Umum Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya (SPTJR), Noak Banjarnahor mengatakan tidak menolak keberadaan RUU ciptaker dan sebaliknya meminta  agar buruh membangun solidaritas bersama pemerintah dan pengusaha dalam menghadapi situasi berat saat ini.

Pernyataan Noak tersebut disampaikan dalam diskusi online yang digelar lembaga kajian ANNarative secara virtual, baru-baru ini. Diskusi tersebut diikuti beberapa elemen masyarakat, diantaranya Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992, beberapa LSM, aktivis dan pengusaha. 

“Kami tidak menolak omnibus dan kami juga meminta agar para buruh membangun solidaritas bersama pemerintah dan seluruh elemen bangsa, termasuk pengusaha untuk saling bahu membahu menghadapi situasi sulit sekarang ini, khususnya dalam menghadapi pandemi global virus corona,” ungkap Noak Banjarnahor dalam pernyataan resminya.

Senada dengan suara-suara serikat pekerja lainnya, dalam diskusi tersebut Noak menyampaikan catatan kritisnya terhadap RUU Ciptaker. Menurutnya, Pemerintah dinilai terlalu tergesa-gesa dan tertutup dalam penyusunan RUU Ciptaker sehingga memunculkan beragam pertanyaan dan juga kecurigaan. Pemerintah juga dinilai telah menutup peluang publik untuk berpartisipasi dalam memberikan masukan-masukan, khususnya dari stakeholders terdampak yaitu buruh.

Disamping catatan kritis, Noak menyampaikan bahwa sesungguhnya para buruh juga sadar melihat bahwa di Indonesia saat ini mash banyak pengangguran yang menungu kesempatan kerja. Dia juga memahami bahwa stuasi ekonomi nasional saat ini sedang tertekan karena epidemi corona.

Ketua Umum Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya (SPTJR), Noak Banjarnahor
Ketua Umum Serikat Pekerja Transportasi Jalan Raya (SPTJR), Noak Banjarnahor (istimewa)

Karenanya Noak menghimbau agar para buruh juga berempati terhadap para pelaku usaha, investor dan juga pemerintah. Jika mereka terus merugi, apa lagi mengalami goncangan akibat pandemi Covid-19, tidak mungkin mereka terus memaksakan diri melanjutkan bisnisnya dan terus menggaji pekerjanya. 

“Adanya aturan baru yang mendorong perbaikan iklim perusaha, berinvestasi, bekerja dan efisiensi birokrasi sangat kita dukung untuk mengembalikan iklim usaha menjadi sehat seperti semula pasca Covid-19,” tegasnya.

Karenanya, serikat pekerja yang dipimpinnya tidak ingin tergesa-gesa ikut arus menolak omnibus law cipta kerja ini. Dia melihat masih ada peluang bagi keterlibatan publik dalam penyempurnaan perumusan RUU tersebut. 

“Saya sendiri harus berpikir positif terhadap bangsa ini. Saat inilah adalah ujian sesungguhnya bagi rakyat Indonesia, khususnya angkatan kerja produktif, Apakah akan memilih status quo dan turut memperburuk situasi, atau turut ambil bagian menjadi solusi bagi permasalahan bersama,” papar Noak lebih lanjut.

Halaman
12
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved