Virus Corona

Ngeri, 300 Jenazah Covid-19 Tergeletak di Jalanan Ekuador, Kontainer Jadi Kamar Mayat Darurat

Untuk mengatasi hal ini, Presiden Ekuador, Lenin Moreno membantuk tim gabungan untuk membantu pemulasaraan jenazah.

(Str / Marcos Pin / AFP)
Orang-orang melihat mayat yang dikatakan tergeletak selama tiga hari di luar klinik di Guayaquil, Ekuador pada 3 April 2020. 

Berbagai kisah pun diceritakan oleh keluarga korban dan tetangga mereka kepada BBC Mundo.

Seorang warga Guayaquil, Jesica Castaneda, sang paman meninggal pada 28 Maret.

Keluarganya pun menghubungi rumah sakit terdekat dan nomor ambulans lantaran tak ada yang berani memegang jasad korban karena khawatir virus corona.

Sayangnya, pihak rumah sakit hanya meminta untuk bersabar dan menunggu.

"Pamanku meninggal 28 Maret, dan tidak ada yang membantu mengurus jenazahnya. Kata rumah sakit, mereka tak punya pengangkut jenazah, dan kami tak bisa meminjam karena ia meninggal di rumah. Kami memanggil ambulans, tapi cuma diminta bersabar. Sekarang jenazahnya masih di tempat tidur, sama seperti waktu dia meninggal. Tak ada yang berani menyentuhnya," cerita Jesica Castaneda.

Situasi ini tak hanya berdampak pada mereka yang meninggal akibat Covid-19 tetapi juga korban yang meninggal karena penyebab lain.

Sebagai tetangga, Wendy Noboa bercerita tentang korban yang meninggal pada 29 Maret.

Gambar rilis oleh Pemerintah Guaya yang memperlihatkan petugas polisi dan petugas kedokteran forensik mengambil mayat Covid-19 dari sebuah rumah di Guayaquil, Ekuador, pada 27 Maret 2020. (Pemerintah Guaya/AFP)
Gambar rilis oleh Pemerintah Guaya yang memperlihatkan petugas polisi dan petugas kedokteran forensik mengambil mayat Covid-19 dari sebuah rumah di Guayaquil, Ekuador, pada 27 Maret 2020. (Pemerintah Guaya/AFP) (-)

Rizal Ramli Curhat Seminggu Diserang 7000 Buzzer, Duga Ada yang Menggerakkan

Viral Terkonfirmasi, Isak Tangis Pastor Paulus Wolor di Papua saat Pimpin Misa Online

Pro Kontra Lockdown DKI Jakarta, Aliansi BEM Jakarta Bersuara Minta Gubernur Tak Politisasi Covid-19

"Ia jatuh dan meninggal karena luka di kepala. Saya panggil ambulans lewat 911 tapi mereka tak datang. Ia tinggal bersama ayahnya yang berumur 96 tahun. Akhirnya ia dibiarkan di apartemen seharian sampai ada anggota keluarga datang membawa peti untuk memakamkannya. Tapi mereka juga tak bisa melakukannya karena tak ada dokter yang datang untuk menandatangani sertifikat kematian," ujar Wendy Noboa.

Menurut koran El Comercio, akhinya kepolisian Ekuador mengevakuasi 300 lebih jenazah yang diambil di berbagai rumah di kota itu.

Sebelumnya diwartakan oleh koran El Universo melaporkan pemerintah kota telah merencanakan pemakaman massal pada 28 Maret, tetapi rencana ini tak mendapatkan sambutan masyarakat.

Kisah Sedih Driver Ojol Pak Mulyono, Rela Tempuh Purwokerto-Solo Saat Order Sepi, Penumpangnya Kabur

Pamela Safitri Bikin Heboh Lagi, Kali Ini Joget Tiktok Erotis Pakai Celana Super Ketat, Bikin Salfok

Halaman
1234
Editor: Feryanto Hadi
Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved