Liga 1

Wawancara Eksklusif Ruben Sanadi: Kenang Perjuangan di Persikota Tangerang

Dengan pakaian santai, di depan pelataran Mess Bhayangkara FC. Eks pemain Persebaya Surabaya itu secara gamblang menceritakan pengalamannya

Tribunnews/Abdul Majid
Kapten Bhayangkara FC, Ruben Karel Sanadi saat difoto setelah menjalani latihan di Stadion PTIK, Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

Bhayangkara FC tengah berlatih jelang derbi Jakarta di Stadion PTIK, Jakarta, Senin (9/3/2020). Latihan berdurasi dua jam yang dimulai pukul 08.00 itu memang sangat melelahkan.

Apalagi cuaca sedang cerah-cerahnya, sinar matahari menyorot ke arah lapangan Stadion PTIK dan membuat para pemain Bhayangkara FC terus meneteskan keringat di setiap pergerakannya.

Dua jam berlalu. Latihan usai. Para pemain langsung bergegas menuju raung ganti. Seperti biasa, saya lalu menghampiri pelatih Paul Munster untuk menanyakan evaluasi dari pertandingan sebelumnya - lawan Persik Kediri.

Sekitar 10 menit, Paul memberi penjelasan. Begitu juga tentang persiapan pekan ini yang terfokus untuk pertandingan lawan Persija Jakarta.

Kembali Liburkan Pemain, Manajer Bhayangkara FC Minta Pemainnya Tak Berpergian Jauh

Setelah itu, saya bergegas mencari salah seorang ofisial Bhayangkara untuk membuat janji; wawancara langsung dengan kapten Bhayangkara FC, Ruben Sanadi.

“Nanti saya tanyakan dulu ke orangnya ya,” jawab Kukuh salah satu ofisial media Bahayangkara FC kepada saya.

Karena cuaca terik saya menunggu di depan media center, Kukuh kembali menghampiri saya. Dia (Ruben) maunya sekarang, ada waktu senggang katanya.

Gelandang Bhayangkara FC T.M Ichsan Berikan Tips Jaga Kesehatan di Tengah Wabah Corona

Secara kebetulan Ruben yang telah selesai latiahan melintas di depan saya. “Nanti langsung di Mess saja ya wawancaranya,” kata Ruben sambil menenteng kedua sepatunya.

Saat itu, Ruben memang terlihat paling terakhir menuju ruang ganti.

Setelah latihan dinyatakan usai, pemain kelahiran Biak 33 tahun silam masih terlihat melakukan beberapa gerakan.

Wabah Virus Corona Tak Kunjung Mereda, Latihan Bhayangkara FC Juga Kembali Diliburkan

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin itu pribahasa yang tepat untuk saya saat itu.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung bergegas ke Mess Bhayangkara FC yang memang tak jauh dari Stadion PTIK. 

Sesampainya di sana, kira-kira 15 menit menunggu, Ruben pun datang menghampiri saya.

“Ayo, mau tanya apa. Tapi jangan susah-susah ya,” sambut Ruben sembari menjabat tangan saya.

Dengan pakaian santai, di depan pelataran Mess Bhayangkara FC. Eks pemain Persebaya Surabaya itu secara gamblang menceritakan pengalamannya menjadi pesepakbola, dukungan orangtua, keluarga hingga membeberkan kunci kesuksesannya menjadi pesepakbola yang masih konsisten di usia sekarang ini.

Berikut petikan wawancara Tribunnews dengan Ruben Sanadi:

Bagaimana awal Anda mengenal sepakbola?

Ya saya kan pertama-tama berasal dari Biak tapi dari kecil karena kan Bapak saya guru jadi bisa pindah kemana-mana, pas besarnya kami pindah di Manokwari ,

Di Manokwari itu ya dari mulai SD sudah merantau. awal merantau saya ke Jayapura pada saat itu saya pemain gelandang PPLP masih usia 16 atau 17 tahun.

Saya sudah kesana saya mulai awal kali saya di situ di PPLP. Saya mulai dari situ SMP pas lulus SMP naik SMA saya ditarik ke Ragunan , puji tuhan pada saat itu Popnas kan di Makassar saya termasuk di panggil juga nah di situ mulai .

Apa klub Profesional Anda pertama?

Klub profesional pertama adalah Persikota Tangerang, tapi waktu saya belum Persikota kan saya masih sekolah di Ragunan masih Poprov Kabupaten Bekasi jadi daerah Bekasi saya juga sudah.

Abang saya juga ada di Bekasi dan tim profesional pertama saya Persikota Tanggerang, pelatih pertama saya Mundari Karya itu yang pertama kali bawa saya masuk.

Berapa Bayaran Anda saat itu dan Siapa orang yang paling berjasa?

Tahun 2006 kalau mau dilihat bayaran yah saya tidak lihat ke situ. Tapi yang jelas paling kami di situ karena masih muda minimal 2 juta/bulan.

Ada satu pelatih, pelatih fisik namanya siapa ya orang Ambon dulu pernah melatih fisik di Persija jamannya Beny Dolo , dia kasih satu motivasi untuk saya dan saya pegang sampai saat ini.

Motivasi itu dan saya terapkan ke anak-anak muda juga sekarang.

“Kamu jangan pernah lihat sesuatu tentang uang dulu tapi kamu kerja kamu benar-benar berlatih dan berlatih kalau kamu berlatih kamu terus kejar nama kamu kalau kamu sudah punya nama pasti uang itu akan kejar kamu sendiri” Itu yang dia bilang dan saya tanamkan sampai sekarang.

Saya ajarkan juga ke pemain-pemain muda.

Momen apa yang tak pernah dilupakan selama Anda jadi pesepakbola profesional?

Yang paling tidak dilupakan saya di Persikota.

Itu hidup saya memang istilahnya susah senangnya saya di sana.

Jadi saya bisa merasakan bagaimana tidak pegang duit terus bisa dengan teman makan apa yang benar-benar tidak ada.

Saya tidak akan pernah lupa sama Zainal Anwar.

Ya kalau tidak punya duit kita numpang makan di rumahnya dia karena kenang-kenangannya itu yang tidak pernah bisa saya lupa pokoknya di Persikota karena di situ saya belajar banyak karena di situ jaman-jamannya.

Istilahnya ada susah-susah, senangnya nanti.

Setelah dari situ sudah mulai tahu sudah mulai kenal, sudah mulai dikenal sudah punya gaji yang lumayan.

Nah jadi kalau kenangan yang paling saya rasakan ada di Persikota Tangerang .

Berapa lama main di Persikota?

Saya tiga  tahun di Persikota, dari mulai usia muda sampai saya pindah ke Medan.

Jadi kalau mau dibilang masa susah senangnya ya saya rasakan di Persikota Tangerang.

Perkuat Persikota di usia muda, apa yang Anda dapatkan di sana?

Di situ saya belajar banyak karakter di mana saya bisa belajar untuk disiplin, terus saya bisa belajar untuk tim profesional seperti begini.

Saya lihat senior-senior saya Aliyudin atau teman-teman lain yang punya duit banyak ketika mereka main.

Itu  juga jadi motivasi nah, di situ saya belajar banyak saya belajar dan pertandingan pertama saya, saya main melawan tim utama itu adalah Persikabo Bogor nah itu pertandingan perdana saya jadi itu semua saya tidak bakal lupa di Tangerang .

Tapi setengah babak saya sudah diganti karena baru pertama. Jadi kalau dibilang klub sepak bola pertama di profesional Persikota.

Pelatihnya pertamanya Mudari Karya, senior-seniornya masih Rolando Koibur Papua yang sana banyak sih dapat pesan kesannya di sana banyak.

Pernah menyangka sekarang Anda bisa terkenal dan kapan momentum Anda mulai naik?

Ya, itu kan juga kalau dibilang di luar dugaan saya juga.

Mengalir saja yang penting di mana saya kerja bisa dengan baik terus kembali lagi sama yang tadi saya bilang saya punya disiplin dan attitude yang bagus aja jadi tidak kebayang aja mungkin ya itu rezeki, sudah diatur sama yang di atas.

contoh saya di Pelita Jaya, saya tidah tahu kalau bisa ke Persipura ada senior-senior mereka ngajak balik yasudah saya juga balik.

Mungkin juga kalau waktu itu (masa muda) sudah ke Persipura belum tentu juga saya bisa main.

saya Lihat waktu itu lihat momen juga kan karena di sana pemain-pemain bagus semua, top semua.

Jadi pas memennya pas, saya bisa main yaudah saya pulang. Di Persipura saya lima tahun.

Puji tuhan saya masuk 2013 juara Liga, runner-up Liga dua kali dan dua kali main di AFC, semifinal terakhir.

Ya itu luar biasa di Persipura juga saya tidak bakal lupa karena itu kan sangat luar biasa saya bisa dapet karier melonjaknya di situ sampai Timnas pun dari Persipura.

Di usia muda pernah saya di Medan, Pelita saya sudah yang U-23 ,jadi kalau dibilang sukses nya di Persipura.

Pindah ke Bhayangkara FC alasan utamanya apa?

Pertama sih kalau mau dibilangin jawaban yang paling pantas adalah lebih dekat dengan rumah.

Pengin lebih dekat dengan keluarga ya itu yang paling penting.

Sebenarnya beberapa tahun kemarin Bhayangkara sudah menghubungi saya, saya sudah dikontak juga tapi mungkin momennya belum dapat.

Jadi memang jodohnya di sini, Bali dan Persija  sempat mau sama saya cuma saya juga harus pintar-pintar pilih di mana pilihannya.

Terus di mana nanti kita datang bisa tidak kita bantu tim, kan yang paling penting sih kalau saya sih itu yang penting itu bukan hanya kita lihat dari kualitas ini, tapi kita datang kita bisa bantu tim tidak gitu.

Karena kan di usia ini kan kita harus pemain juga bisa mengguncang kita kan teman-teman itu kan kerjasama tim bukan perorangan jadi kita liat kualitas pemain dan manajemennya pun luar biasa jadi saya rasa hampir sama lah kaya Persebaya tapi di sini luar biasa.

 Jadi intinya saya keluar dari Persebaya juga kan saya pamitan baik sama mereka semua dan saya sampaikan bahwa saya tidak mau menyakiti siapa pun ketika saya di sini, diterima baik-baik saya pun harus keluar baik-baik. Ini mungkin jadi tantangan baru saya.

Meniti Karier dari muda hingga Akhirnya Anda dipercaya menjadi Kapten, apakah itu juga mimpi Anda?

Kalau untuk masalah kapten itu tidak ada pemikiran sampai situ yah itu saya tidak pernah mikir sampai situ, yang penting satu di mana saya bekerja saya bekerja dengan hati kerja dengan baik attitude terutama, itu yang paling saya disiplinkan attitude paling nomer satu karena walaupun sehebat-hebatnya pemain tapi attitude-nya tidak benar, tidak bakalan kepakai.

Tidak ada dugaan, tidak ada pemikiran kalau saya mau ditunjukkin sebagai ini ini saya bilang itu proses tua kalau saya pribadi dengan , saya maksud saya sebagai orang indonesia ya percaya bahwa itu proses tua saya harus menikmati dan mensyukuri itu.

Di Persebaya pun banyak pemimpinnya juga, apa lagi di sini (Bhayangkara Fc-red) banyak pemimpinnya juga. Saya tidak tahu dan saya bilang itu proses tua, kalau emang itu toh dari manajemen atau dari pelatih saya juga harus jaga itu, baik diluar dan bermain dilapangan.

Anda sukses menjadi Kapten di Persebaya Hingga bisa finis runner-up Liga 1 2019, bagaiman cara Anda menerapkan dalam tim?

Kalau seorang leader dalam tim, kalau saya pelajari waktu itu di Persebaya bukan hanya bermain menjadi leader di lapangan tetapi kita harus menjadi contoh itu untuk generasi muda baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

Itu yang paling utama karena mereka itu adalah generasi kita regenerasi dan kalau kita kasih contoh yang baik ya pasti mereka akan ikuti.

Bukan hanya mereka saja teman-teman pun juga di sekeliling kita mereka akan melihat kita bagaimana cara kita, sikap, tingkah laku kita tiap hari bukan hanya di dalam lapangan tapi di luar juga.

Saya selalu pegang itu karena bukan hanya kita kerja di lapangan tapi di luar lapangan kita juga bisa jadi contoh untuk orang lain itu yang paling penting dan terus itulah kita harus banyak menghargai orang lain kalau kita ingin dihargai.

Seperti apa Contohnya Anda menjadi pemimpin dalam klub?

Ya yang selalu saya bilang di sebuah tim tidak ada pemimpinnya kalau menurut saya di situ adalah keluarga.

Kita bangun itu menjadi keluarga supaya kita itu bisa kuat dalam lapangan itu paling penting itu filosofi saya sendiri.

Sebenarnya kalau kita di dalam lapangan kita kuat di luar lapangan kita juga keluarganya kuat otomatis.

Jangan perlu kita lihat tim lawan deh mau dia pemain hebat macam besok mau lawan Persija.

Mereka pemain hebat, tidak peduli dengan mereka kita tidak usah peduli yang penting kita tahu video mereka seperti begini tetapi kita tidak usah peduli kita lihat tim kita sendiri, koreksi kita gimana kekurangan kita dimana kalau kita sudah kuat siapa pun lawan kita pasti bisa kita lawan.

Apa bedanya jadi kapten di Persebaya dengan di Bhayangkara FC, lebih sulit mana?

Lebih ketengah-tengahnya, ada sedikit sulit dan tidaknya tetapi kalau dalam dunia sepakbola kayanya tidak ada yang jauh beda.

Istilahnya ya kita nyatunya cepat cuma ya ini karena pemain-pemainnya kan memang istilahnya tadi dibilang orang umum bilangnya berlebel bintang, prinsipnya adalah kita harus bisa mengayomi kita harus ayo ajak mereka kita sama-sama karena kan kalau dibilang pemain bintang di sebuah klub itu kadang-kadang kan merasa ya saya lebih hebat, ya jangan atur saya nah bisa dibilang begitu sebenarnya.

Saya lebih dibawa enjoy aja sih yang penting ketika kita bermain dilapangan kita sampaikan tujuan apa kebutuhan tim sama setiap pemain.

Mau dijalanin silahkan mau tidak silahkan, kita profesional yang penting bagaimana kita bisa mengayomi semuanya kita sama-sama di sini pun ada senior juga di sini.

Di sini kan jug ada satu angkatan dengan saya seperti Jupe (Achmad Jufriyanto) itu kan banyak pemain sini kan seperti Lee Won-jae, ada Indra Kahfi.

Saya belajar sama pemain lama macam Indra Kahfi walaupun dia cedera tapi tetap masukan dari dia karena dia orang lama dari sini.

jadi kita harus banyak membantu bukan hanya di dalam lapangan ketika latihan datang lalu pulang tapi bagaimana kita punya tanggung jawab buat sebuah tim ya kan di luar lapangan.

Kita harus sharing masalahnya apa ayo macam saya tidak tahu apa-apa tentang Bhayagkara

Untungnya, di sini pemainnya tidak terlalu neko-neko walaupun pemain hebat semua tapi tidak banyak neko-neko.

Semua mau dengar diajak kumpul mau berbicara, pemain muda berbakat semua tapi dari kitanya kalau kita pengen jadi contoh untuk mereka ya dari kitanya juga sebenarnya dari segala sikap attitude dan sebagainya kan mungkin itu sih.

Sekarang usia 33 tahun, lalu siapa yang jadi contoh buat Anda?

Ya, usai saya segitu dan anak saya sudah dua. Saya juga kan harus jaga kondisi, jadi saya banyak belajar dari senior-senior macam di Liga Indonesia ini masih ada Ricardo Salampessy, Ismed Sofyan, Supardi dan jangan jauh-jauh ada Dzumafo di sini.

Kita jangan ngomongin tua dia ada sudah 40 tahun tapi masih bisa berkarya. Nah itu jadi umur orang bilang kebanyakan orang bilang umur boleh tua tetapi semangat juangnya itu masih ada

Kemudian bagaimana cara Anda menjaga kondisi tetap fit di usia sekarang ini?

Pertama disiplin, disiplin mencangkup segalanya dari tidur gimana pola tidurnya, bagaimana menjaga diri sebelum kita latihan, sesudah latihan ketika libur.

Apa yang harusnya bisa saya lakukan berarti saya bisa jaga diri saya. Nah yang harusnya bisa saya lawan adalah rasa malas itu harus dilawan karena ketika kita libur, kita sudah cape pasti libur kita ingin tidur tapi kita harus coba bahwa di situ kita bisa melatih diri kita sendiri dan dari situ macam cidera kecil kecil ya.

Kita harus bisa mengatur sendiri diri. Pelatih adalah diri kita sendiri sebenarnya, kalau saya sih itu pelatih terbaik adalah diri kita sendiri tidak perlu seperti orang lain, yang orang lain kita ambil contoh yang baiknya.

Kita ambil macam kadang bangun pagi misalkan kadang kalau saya sudah datang di sini (lapangan pagi-pagi semua pada kaget kan itu sudah kebiasaan saya.

Bisanya saya kalau setiap pagi bangun jam 4 sudah bangun saya sudah ke lapangan pasti saya sudah kelapangan saya sudah lakukan apa yang bisa saya lakukan kalau ada gym di lapangan ya saya lakukan itu untuk jaga kondisi.

Berarti kebiasaan itu tetap Anda lakukan di begitu juga di Bhayangkara FC ini?

Ya, betul. Saya sendiri bukan untuk cari muka atau apa pun hanya di sini saya mau latihan supaya menjadi contoh.

Persebaya saya dua tahun itu saya lakukan. Sampai kadang banyak pemain muda yang ikuti cara saya.

Misalkan contoh saya datang setiap pagi duluan joging lari atau lakukan apa dulu, dia lakukan juga/ contohkan supaya kamu bisa belajar jangan pernah pikir orang lain misalkan contoh kamu joging ada pelatih terus pemain datang ih mau cari muka, tidak usah peduli sama mereka, itu buat diri kamu bukan diri saya ko.

Kamu ingin maju ya sudah kamu melangkah terus begitu kamu bisa jaga sampai hari tua kamu. Kalau kamu sudah disuruh stop sama tuhan yasudah cukup yasudah berarti sudah.

Kalau saya seperti itu dan kalau di luar dari itu jangan lupa panjatkan doa kalau islam kan solat 5 waktu itu yang paling penting, kita harus jaga itu karena di luar semua itu kan tanpa kehendak Tuhan kan kita bisa , setelah itu ada lagi harus mudah memberi kepada sesama.

Anda sudah berkeluarga, bagaimana cara mengatur waktu bersama istri dan anak?

Tentunya paling penting ketika kalau sudah balik bersama. Untungnya istri juga kan puji tuhan atlet juga , altet lari pelari DKI dulu, pelari gawang. Natasha namanya..

Di situ juga dia atur, kan istri saya kebetulan atlet jadi dia tau  gimana caranya. Tidak perlu dia suruh cuma ngingetin. Kalau kita tidak di rumah bagaimana, buat keluarga itu paling penting.

Jadi kalau disaat saya pulang kalau saya rasa cape, tidur ya tidur anak-anak pasti dibilangin dilarang Bapak capek karena dia sudah tahu waktu kualitas tidurnya itu dia tidak bakal ganggu.

Jadi kualitas tidur walaupun 1 jam 30 menit tapi sangat penting untuk istri buat saya jadi sudah tahu. Jadi ketika sudah fresh badan kalau saya bisa jaga anak bermain ya kita bermain jadi kita sudah saling tau jadi karena anak pun sudah dikasih tau apalagi yang kaka sudah mulai tau jadi ketika

Jadi ya itulah tadi bilang harus mengatur waktunya jadi ketika saya habis latihan pasti saya ke mess dulu makan istirahat dulu sudah fresh enak badan baru saya bisa pulang jadi kalau di rumah ya pasti dirumah aja karena besok kan pasti kan latihan lagi  kalau Jakatrta ini mau kemana kan macet kecuali mungkin weekend ya sabtu minggu kalau ada anak pengin nonton atau apa mungkin bermain pasti.

Kalau orangtua Anda bagaimana bisa melihat Anda bisa sukses seperti ini?

Ya saya sangat bersyukur punya orangtua yang mendidik saya dengan keras. Orangtua saya kan seorang guru, Ibu Setrina Sana dan Bapak Yoel Sanadi sama-sama guru. Didikan mereka keras. Itu yang buat karakter saya seperti ini. Terima kasih juga karena doa dan dukungan mereka, saya bisa sukses seperti ini. Bapak saya sangat suport sekali saya main bola, Bapak saya juga sebenarnya main bola cuma di Kampung saja

Yang pasti mereka tetap suport saya dalam doa, karena sekarang sudah berkeluarga mereka juga lepas saya tapi dukungan itu tetap ada terutama doa. Itu saya tidak pernah lupa. Saya sukses sampai sekarang juga karea doa mereka juga.

Kalau nanti pensiun mau tetap di dunia sepakbola atau cari tantangan baru?

penginnya sih istirahat dulu satu tahun tetapi ya kadang pasti susah lupain, karena ini kan dunia saya cari uang. Saya cari rezekinya lewat kaki saya ya di dunia sepakbola. Jadi tidak ada menutup kemungkinan bisa jadi pelatih itu sudah pasti mungkin, dalam waktu dekat ini saya ingin ambil lisensi,

kemarin saya mau ambil tapi tidak sempat. Impian saya sih anak-anak muda generasi muda ini dan generasi-generasi kita bisa lebih baik daripada kita .

Kalau saya pengen sih jadi tim telecsooting penginnya tuh ke kampung-kampung yang benar terpencil. Itu kita pergi lihat bakat pemain di sana. Kota besar seperti ini (Jakarta) pemain banyak tapi masih ada satu satu yg ada kesembunyi. Nah itu yang pengen saya bangun keinginan mereka di kampung itu ada yang pengin menjadi pemain besar tapi tidak tercapai kita bisa bawa mereka ke kota besar.

Di kampung saya pun seperti begitu, maksudnya kan untuk akses keluar untuk punya turnamen-turnamen itu kan tidak ada, kadang paling cuma Jayapura dan Manokwari.

Satu lagi kenapa di era sekarang pemain di panggil ke Timnas kadang ada yang tidak mau , karena apa di usia muda saja pemain jebolan di SSB saja sudah bisa ke Eropa.

Justru pemain daerah yang di panggil ke Timnas motivasinya 2x lipat dan dia kerja benar-benar.

Kadang kalau pemain di sini yang saya liat di Jakarta karena dia sering keluar negeri “untuk apa saya ke TIMNAS” kadang seperti itu ini mainset saya mungkin pola bodoh saya, saya lihat dan dulu saya pertama masuk ke Timnas saya bangga sekali.

Tapi sekarang pemain disuruh ke TImnas kan kita mikir apa yg nanti kita dapat.

Ya itu yang seharusnya kita urus di generasi yang sekarang supaya prinsipnya dia saya masuk Timnas Indonesia saya punya keinginan untuk membela, bukan cuma masuk karena nyari nama, nyari media itukan banyak kan yang sekarang begitu makanya itu yang saya bilang itu pengen sih ya mudah-mudahan kedepan kita bisa .

Jadi kapan mau ambil linsensi kepelatihan?

Rencananya tahun ini kalau dizinkan manajemen tahun ini saya ambil C dulu terus ke B. Ya, kita tidak pintar-pintar amat sih yang penting ada dasar ada sertifikatnya ini saya sudah punya pegangan.

Kalau SSB belum sih belum kesampaian yang penting dari semua itu keluarga bisa bahagia hidupnya sederhana itu yang paling penting dan bisa menjadi berkat bagi orang lain itu aja sih sebenarnya.

Terakhir, berikan pesan kepada generasi muda sekarang untuk bisa lebih baik ke depannya?

Yang pertama pemain sepakbola muda jaman sekarang semuanya serba ada, jadi kadang itu yang tidak bisa dilawan sama mereka merasa semuanya ada besar kepala.

Pesan saya selalu membumi ketika sudah pernah dipanggil Timnas, jangan merasa saya sudah hebat tetapi harus terus berpacu untuk berlatih-berlatih, itu filosofi saya yang tadi saya bilang, bahwa saya harus kejar pengalaman dulu, nanti juga uang akan cari saya sendiri.

Jadi jangan bosan-bosan melatih diri karena pelatih terbaik diri kita sendiri , dan yang paling penting bermain bola itu attitude dan menghargai orang lain.

Penulis: Abdul Majid
Editor: Murtopo
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved