Virus Corona

Dokter Ahli Bedah Saraf Ajak Tangani Corona: Para Dokter Muda Jangan Hanya Main WA,Saatnya Mengabdi

Jadi jangan berdiam diri di rumah ngobrol kanan kiri hanya WA,WA, chatting-chatting menurut saya kurang bijak

Dokumen Dokter Eka Julianta Wahjoepramono
Dokter Eka Julianta Wahjoepramono 

Atas pertimbangan apa dokter boleh pulang?

Terus terang saya suspek covid. Hasil pemeriksaannya negatif setelah 14 hari menjalani isolasi dan diperiksa.

Setelah diperiksa secara teliti hasilnya masih sama negatif. Namun sementara ini saya masih belum boleh ditemui atau menemui siapapun.

Orang yang boleh ketemu saya sementara ini hanya mereka yang punya sertifikat bebas virus corona. Hahaha bercanda (Guyon).

Saya mesti isolasi diri tidak boleh ketemu orang karena status saya masih PDP (pasien dalam pengawasan-Red). Jadi sampai dua Minggu ke depan saya self isolation di rumah.

Kemarin ketika dirawat saya satu ruangan dengan orang positif covid selama dua Minggu. Jadi saya masih harus self isolation dua Minggu ke depan ini.

Apa bisa diceritakan bagaimana kondisi dan suasana ketika dokter menjalani isolasi?

Ya enggak enak lah. Mungkin tahanan KPK lebih enak dari ini. Kita selama diisolasi. Terkurung, tidak enak. Saya di ruang isolasi hanya berdua dan tidak bisa keluar sama sekali.

Kalau boleh tahu, bagaimana penanganan untuk pasien yang diisolasi?

Sangat boring selama diisolasi. tidak ada TV, tidak ada koran. Tapi beruntung karena masih diijinkan main HP. Putus hubungan langsung dengan dunia luar.

Bisa dijelaskan maksudnya putus hubungan dengan dunia luar?

Yang penting kan bukan juga di putus hubungan. Takut juga. Lagi pula ini upaya melindungi keluarga. Apalagi dengar cerita dokter ini, bantu orang covid, pingsan, kemudian meninggal.

Ada salah satu dokter, sampai dia pulang saja sebelum meninggal. Pulang ke rumah cuma lihat anak dan istrinya dari luar pagar. Kemudian dia lari lagi ke rumah sakit, bantu penanganan covid. sampai akhirnya dia pingsan.

Jadi, yang penting itu tenaga kesehatan harus diperhatikan. Perawat-perawat dengan gaji yang kecil, harus ditingkatkan.

Dia kan resikonya tinggi kena covid. Kalau dia kena, gimana keluarganya di rumah? Belum kalau dia kerja kan tidak pakai APD. APD mahal. Tidak bisa semua rumah sakit pakai APD.

APD harganya Rp 1 juta per unit. Sekali pakai langsung dibuang. Jadi mengimbau masyarakat untuk ingat bahwa dokter dan perawat ada di garis terdepan berhadapan dengan covid.

Jangan sampai mereka mati sia-sia. Gizinya perbaiki. Kirim-kirim makanan, susu, telur, untuk tenaga medis kita.

Sebenarnya tenaga medis Indonesia sendiri optimistis atau tidak bahwa kita bebas dari Corona?

Terus terang kita sangat pesimis. Kasusnya begitu banyak. Fasilitas pelindung kami pun minim.

Potensi pasien positif covid bisa disembuhkan sebenarnya berapa persen?

Angka kematian rata-rata 3-4 persen. di Indonesia saya dengar 8 persen. Tapi karena apa? itu yang meninggal banyak yang sebelumnya tidak terdeteksi covid. Yang terdeteksi paling hanya puncak gunung es.

Kalau kita lakukan swab massal, nanti baru ketahuan berapa banyak yang kena covid ini. karena itu swab harus gratis.

Alasan lain tenaga medis Indonesia pesimistis berhadapan dengan covid apa dok?

Sampai sekarang belum ada obat yang pasti menyembuhkan pasien covid. Selain itu tenaga medis kita juga keteteran. Jumlah tenaga medis sedikit, kasus terlalu banyak.

Coba lihat di RS Persahabatan, kasus yang datang berapa banyak? Sampai ratusan.

Tenaga medisnya sedikit. Jadi APD mesti disediakan. APD itu mutlak dibutuhkan, kalau tidak sia-sia mereka adu nyawa di garis terdepan. 

Pesan Anda untuk pasien positif covid?

Yang penting jangan putus asa. Lebih dari 90 persen bisa sembuh sendiri, itu dilandaskan pada keinginan mereka untuk sembuh.

Karena itu jangan putus asa. Kemudian dengar anjuran dokter. Kalau dibilang disuruh self isolation, jangan nyolong-nyolong keluar.

Mereka yang sudah PDP terkena tapi belum ada gejala, kalau dia isolasi diri 14 hari, nanti akan ketahuan dia sakit atau tidak. Kalau dia panas baru kita pegang. 

Editor: Mohamad Yusuf
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved