Pembunuhan

UPDATE Kurang Berempati Jadi Salah Satu Faktor Penyebab Tak Merasa Bersalah Setelah Membunuh

Kurangnya rasa empati diduga menjadi salah satu faktor seseorang tak merasa bersalah usai melakukan pembunuhan, kata Kepala Instalasi Forensik RS Polr

Warta Kota/Rangga Baskoro
Kepala tim dokter jiwa forensik RS Polri Kramat Jati Henny Riana. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rangga Baskoro

KRAMAT JATI, WARTAKOTALIVE.COM - Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti menjelaskan kurangnya rasa empati diduga menjadi salah satu faktor seseorang tak merasa bersalah usai melakukan pembunuhan.

Hal itu dialami oleh bocah berinisial NF (15) yang membunuh AP (5) dengan cara mencelupkan kepala korban ke dalam bak mandi.

"Ada (orang puas setelah membunuh). Karena bicara tentang pertumbuhan bagian otaknya, yang membuat rasa baik hati, menolong, empati itu tumbuh atau tidak," kata Hastry di RS Polri Kramat Jati, Rabu (11/3/2020).

Bahkan setelah melakukan pembunuhan itu, NF mengaku merasa puas setelah hasratnya bisa tersalurkan setelah memendam keinginan tersebut sejak lama.

Kasus NF, sambung Sumy, bukan hal baru dalam ranah psikiatri jiwa forensik.

Kurangnya kemampuam untuk bisa turut merasakan penderitaan orang lain atau biasa disebut empati, jadi sebab seseorang tega menyakiti hingga membunuh orang lain.

Alasan minimmya empati remaja yang dikenal cerdas ini, sedang ditelusuri tim dokter psikiatri jiwa forensik RS Polri Kramat Jati.

"Lagi dilihat, lagi diteliti dari bagian dalam otaknya. Penyebabnya bisa berbagai macam, dari genetik, lingkungan, faktor kebiasaan," ujarnya.

Hal ini membuat pemeriksaan jiwa NF tak hanya melibatkan dokter psikiatri jiwa forensik, tapi juga ahli saraf dan lainnya.

Halaman
1234
Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved