Destinasi

Tempat-tempat Legendaris di Jakarta yang Kini Berganti Wajah, Ada Sunda Kelapa Hingga Harco Glodok

Semenjak kedatangan VOC pada awal abad 16, kota ini terus mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Kapal pengangkut barang di Pelabuhan Sunda Kepala, Jakarta Utara, Selasa (18/6/2014). 

Kemudian, tahun 1968 gedung ini pernah menjadi bioskop Diana dan 1969 berganti menjadi bioskop City Teather.

Memprihatinkan, Beginilah Penampakan Rumah Tokoh Besar Multatuli di Rangkasbitung

Mengintip Jejak Eduard Douwes Dekker di Museum Multatuli

Pada 5 September 1987, gedung itu direnovasi dan diberi nama Gedung Kesenian Jakarta. Hingga kini, gedung dengan gaya arsitektur belanda itu masih kokoh berdiri dan aktif menggelar berbagai macam pertunjukan seni.

Bioskop Metropole

Gedung Bioskop Metropole XXI, Menteng, Jakarta Pusat, bioskop tertua dengan arsitektur art deco.
Gedung Bioskop Metropole XXI, Menteng, Jakarta Pusat, bioskop tertua dengan arsitektur art deco. (istimewa)

Metropole yang berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, disebut-sebut menjadi bioskop pertama di Jakarta. Dibangun pada 1932 dengan nama Bioscoop Metropool, gedung ini memiliki cerita sejarah panjang yang menyertainya.

Dibangun dengan gaya arsitektur art deco, bioskop ini dulu mampu menampung hingga 1700 penonton. Perancangnya seorang keturunan tiongkok bernama Liauw Goan Seng. Bioskop ini pada eranya menjadi pusat lifestyle masyarakat Jakarta, terutama kaum muda.

Biskop seluas 11.623 meter persegi ini diresmikan 1949 oleh wapres Muhammad Hatta. Tetapi, akibat adanya kebijakan anti-Barat oleh Presiden Sukarno, pada 1960 nama bioskop ini diubah menjadi bioskop Megaria.

Pada 1984, bioskop Megaria di bawah naungan PT Bioskop Metropole bangkrut karena kalah bersaing dengan bioskop lainnya. Kemudian, pada 1989, pengelolaan diambilalih oleh jaringan bioskop 21 Cineplex dan diubah namanya menjadi Metropole 21.

Pada 1993, berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No 475, gedung metropole masuk ke dalam cagar budaya kelas A yang tidak boleh dilakukan pembongkaran.

Dan kini, biskop yang sudah berubah nama menjadi Metropole XXI masih eksis dan menjadi bioskop favorit di Jakarta. Terlebih, di area bioskop juga ada beberapa cafe dan pusat kuliner yang tentu saja menjadi nilai tambah sebagai pusat hiburan masyarakat.

Hotel Indonesia

Hotel Indonesia Kempinski
Hotel Indonesia Kempinski (Tribunnews.com)

Di era 1960-1980, pembangunan Jakarta begitu agresif. Beberapa infrastruktur megah berhasil dibangun di era itu, misalnya Jembatan Semanggi yang menjadi jembatan beton pertama di Indonesia, Komplek Olahraga Senayan, Masjid Istiqlal, komplek parlemen dan sebagainya.

Inisiasi Presiden Sukarno dalam megaproyek pembangunan Hotel Indonesia juga terwujud setelah hotel itu diresmikan pada 5 Agustus 1962.

Tim Ekspedisi Citorek Menembus Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Ria Ricis Ngebet Nikah, Keluarganya Belum Merestui Sang Pacar, Wildan Tuliskan Kalimat Keyakinan

Hotel pertama di Indonesia dan disebut-sebut termewah di Asia Tenggara itu, dibangun dalam rangka menyambut Asian Games IV yang digelar di Jakarta. Hotel ini dimanfaatkan untuk menampung atlet dan tamu negara.

Arsitek perancang gedung seluas 25.082 meter ini berasal dari Amerika Serikat, Abel Sorensen dan istrinya bernama Wendy.

Kedua arsitek itu mampu mewujudkan impian Sukarno yakni menciptakan hotel modern dan efisien. Lantai 15 Ramayana Wing dan lantai 8 Ganesha Wing adalah bagian pertama dari hotel yang dibangun.

Sampai saat ini, kawasan Hotel Indonesia menjadi salah satu icon di Jakarta, dengan kawasan yang terkenal dengan sebutan Bundaran HI (Hotel Indonesia).

Setiap hari, kawasan bundaran HI, dikunjungi masyarakat, khususnya warga luar Jakarta yang menjadikan lokasi itu sebagai tempat berfoto.

Sarinah

Gedung Sarinah yang terletak di Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2016).
Gedung Sarinah yang terletak di Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2016). (Alija Berlian Fani)

Pusat Perbelanjaan yang berada di Jalan Thamrin ini merupakan mal pertama yang dibangun di Jakarta, tahun 1963 dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Gagasan awal pembangunan mal ini berasal dari Presiden Sukarno.

Nama Sarinah diambil dari nama seorang pengasuh keluarga, Mbok Sarinah. Sesuai cita-citanya, Sukarno menjadikan tempat ini sebagai pusat perbelanjaan rakyat.

Pada masa pembangunannya, Sukarno banyak menerima kritik dari orang-orang berpengaruh saat itu. Mereka menganggap Sukarno hanya ingin menghamburkan anggaran, karena pembangunan gedung itu menelan biaya Rp50 miliar. Apalagi dana itu didapat dari pinjaman asing.

Tetapi Sukarno tak perduli dan tetap melanjutkan proyek itu. Dan apa yang terjadi, baru beberapa minggu beroperasi, Sarinah tiba-tiba menjadi tempat favorit masyarakat. Geliat ekonomi pun tumbuh begitu cepat dimana omset per hari mencapai Rp600 juta.

Tapi kejayaan Sarinah saat itu tidak berlangsung lama. Belum genap setahun diresmikan, kondisi politik masa itu kacau. Perbelanjaan Sarinah pun mulai merugi. Puncaknya, 700 dari 2800 karyawan diberhentikan. Pada 1967.

Kini status Sarinah menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Gedung Sarinah masih berdiri tegak dan tetap menjadi kawasan populer bagi masyarakat Jakarta. Selain menjadi pusat belanja yang menawarkan berbagai kebutuhan, Sarinah juga menjadi pusat lifestyle, terutama bagi kalangan pekerja Jakarta.

Ini Sosok Jenderal yang Begitu Dikagumi Ustaz Abdul Somad

Jadi Pacar Anya Geraldine Harus Kuat Mental, Serangan Para Fans Nur Hayati Kadang Sporadis

Harco Glodok

Gedung pusat perbelanjaan Harco Glodok
Gedung pusat perbelanjaan Harco Glodok (Warta Kota/Feryanto Hadi)

Kawasan Glodok yang masuk kawasan kota lama Jakarta, dulu hingga sekarang,  terkenal sebagai pusat perdagangan elektronik dan mekanik terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara. Pada era 1980 hingga 1990-an, Harco Glodok berjaya.

Setiap hari, masyarakat dari Jakarta atau kota-kota lain datang untuk berbelanja kebutuhan elektronik dan mekanik, karena dari segi harga terbilang lebih murah dari tempat lain. Pada akhirnya, tempat tersebut dikenal sebagai pusat grosir elektronik. 

Kesuksesan Harco Glodok coba digoyang dengan dibangunnya mal-mal elektronik dan mekanik di sekitarnya. Alhasil, Harco Glodok pun mulai kalah pamor karena dari sisi bangunan saja pusat belanja ini terlihat sangat lapuk dan tua. Berbeda dengan mal elektronik di sekitarnya, pertokoan yang menempati Harco Glodok sudah kurang menarik.

Pengembang Agung Podomoro Land (APL) mulai melakukan peremajaan Harco Glodok beberapa tahun lalu. Sebelum bangunan utama Harco Glodok dihancurkan, sebagian pedagang dipindahkan ke Mangga Dua Square.  

Sementara itu, ratusan pedagang masih bertahan ka rela menempati pertokoan-pertokoan tua, di gedung yang juga menjadi office marketing PT APL itu. (Wartakota/Feryanto Hadi)

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Feryanto Hadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved