Destinasi

Tempat-tempat Legendaris di Jakarta yang Kini Berganti Wajah, Ada Sunda Kelapa Hingga Harco Glodok

Semenjak kedatangan VOC pada awal abad 16, kota ini terus mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Kapal pengangkut barang di Pelabuhan Sunda Kepala, Jakarta Utara, Selasa (18/6/2014). 

Saat itu, gedung itu menjadi cukup fenomenal karena memiliki arsitektur megah bergaya neo-renaisance.

Berbagai kegiatan penting dilakukan di gedung ini sebelum masa kemerdekaan. Di antaranya, digunakan untuk kongres Pemoeda pertama pada 1926, peresmian Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 29 Agustus 1945. Pada 1957-1961, gedung ini juga pernah dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Kemudian, tahun 1968 gedung ini pernah menjadi bioskop Diana dan 1969 berganti menjadi bioskop City Teather.

Memprihatinkan, Beginilah Penampakan Rumah Tokoh Besar Multatuli di Rangkasbitung

Mengintip Jejak Eduard Douwes Dekker di Museum Multatuli

Pada 5 September 1987, gedung itu direnovasi dan diberi nama Gedung Kesenian Jakarta. Hingga kini, gedung dengan gaya arsitektur belanda itu masih kokoh berdiri dan aktif menggelar berbagai macam pertunjukan seni.

Bioskop Metropole

Gedung Bioskop Metropole XXI, Menteng, Jakarta Pusat, bioskop tertua dengan arsitektur art deco.
Gedung Bioskop Metropole XXI, Menteng, Jakarta Pusat, bioskop tertua dengan arsitektur art deco. (istimewa)

Metropole yang berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, disebut-sebut menjadi bioskop pertama di Jakarta. Dibangun pada 1932 dengan nama Bioscoop Metropool, gedung ini memiliki cerita sejarah panjang yang menyertainya.

Dibangun dengan gaya arsitektur art deco, bioskop ini dulu mampu menampung hingga 1700 penonton. Perancangnya seorang keturunan tiongkok bernama Liauw Goan Seng. Bioskop ini pada eranya menjadi pusat lifestyle masyarakat Jakarta, terutama kaum muda.

Biskop seluas 11.623 meter persegi ini diresmikan 1949 oleh wapres Muhammad Hatta. Tetapi, akibat adanya kebijakan anti-Barat oleh Presiden Sukarno, pada 1960 nama bioskop ini diubah menjadi bioskop Megaria.

Pada 1984, bioskop Megaria di bawah naungan PT Bioskop Metropole bangkrut karena kalah bersaing dengan bioskop lainnya. Kemudian, pada 1989, pengelolaan diambilalih oleh jaringan bioskop 21 Cineplex dan diubah namanya menjadi Metropole 21.

Pada 1993, berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No 475, gedung metropole masuk ke dalam cagar budaya kelas A yang tidak boleh dilakukan pembongkaran.

Dan kini, biskop yang sudah berubah nama menjadi Metropole XXI masih eksis dan menjadi bioskop favorit di Jakarta. Terlebih, di area bioskop juga ada beberapa cafe dan pusat kuliner yang tentu saja menjadi nilai tambah sebagai pusat hiburan masyarakat.

Hotel Indonesia

Hotel Indonesia Kempinski
Hotel Indonesia Kempinski (Tribunnews.com)

Di era 1960-1980, pembangunan Jakarta begitu agresif. Beberapa infrastruktur megah berhasil dibangun di era itu, misalnya Jembatan Semanggi yang menjadi jembatan beton pertama di Indonesia, Komplek Olahraga Senayan, Masjid Istiqlal, komplek parlemen dan sebagainya.

Inisiasi Presiden Sukarno dalam megaproyek pembangunan Hotel Indonesia juga terwujud setelah hotel itu diresmikan pada 5 Agustus 1962.

Tim Ekspedisi Citorek Menembus Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Ria Ricis Ngebet Nikah, Keluarganya Belum Merestui Sang Pacar, Wildan Tuliskan Kalimat Keyakinan

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved