Destinasi

Tempat-tempat Legendaris di Jakarta yang Kini Berganti Wajah, Ada Sunda Kelapa Hingga Harco Glodok

Semenjak kedatangan VOC pada awal abad 16, kota ini terus mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Kapal pengangkut barang di Pelabuhan Sunda Kepala, Jakarta Utara, Selasa (18/6/2014). 

Saat ini, Pasar Baru menjadi andalan wisata belanja dan sejarah Jakarta. Selain bisa berbelanja aneka kebutuhan primer, sekunder, tersier hingga kuarter, datang ke tempat tersebut pengunjung bisa merasakan sensasi berada di Jakarta Tempo Dulu karena desain bangunan masih mengusung gaya Belanda.

Sisi menarik lain, di salah satu tempat, tepatnya di Harco Pasar Baru, pengunjung bisa membeli pernak-pernik khas Betawi, yang tidak ada di pusat perbelanjaan lainnya.

Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) adalah situs cagar budaya seni satu-satunya yang dimiliki DKI Jakarta. Pemerintah sudah berkomitmen melestarikan gedung ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 Tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) adalah situs cagar budaya seni satu-satunya yang dimiliki DKI Jakarta. Pemerintah sudah berkomitmen melestarikan gedung ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 Tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah (Kompas.com/Arimbi Ramadhiani)

Selain tersedianya pasar sebagai pusat ekonomi, kedatangan bangsa barat ke Batavia mendorong tumbuhnya berbagai sektor. Pada 1814, pada masa pendudukan Inggris, sebuah gedung seni diresmikan oleh Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles.

Gedung itu kini masih berdiri tegak dan dikenal dengan nama Gedung Kesenian Jakarta. Lokasinya berada di depan Pasar Baru atau di Jalan Gedung Kesenian No1, Jakarta Pusat.

Latar belakang dibangunnya gedung ini, karena saat itu tentara Inggris membutuhkan hiburan. Dan seni yang populer di kalangan mereka adalah teater, maka dibangunlah gedung ini untuk memfasilitasi keinginan mereka.

Gedung ini tadinya hanya berbentuk pondok berdinding kayu dengan atap rumbia. Nama awalnya, Municipal Theater.

Ketika penjajahan beralih ke tangan Belanda, bangunan gedung lama dibongkar dan dibangun kembali dengan nama Stadtsschouwburg atau Teater Kota.

Saat itu, gedung itu menjadi cukup fenomenal karena memiliki arsitektur megah bergaya neo-renaisance.

Berbagai kegiatan penting dilakukan di gedung ini sebelum masa kemerdekaan. Di antaranya, digunakan untuk kongres Pemoeda pertama pada 1926, peresmian Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 29 Agustus 1945. Pada 1957-1961, gedung ini juga pernah dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Halaman
1234
Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Feryanto Hadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved