Destinasi

Tempat-tempat Legendaris di Jakarta yang Kini Berganti Wajah, Ada Sunda Kelapa Hingga Harco Glodok

Semenjak kedatangan VOC pada awal abad 16, kota ini terus mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Kapal pengangkut barang di Pelabuhan Sunda Kepala, Jakarta Utara, Selasa (18/6/2014). 

Dulu, kawasan itu menjadi pusat bisnis dan perdagangan kelas atas karena lokasinya yang berdekatan dengan Rijswijk (sekarang Jalan Veteran, Jakarta Pusat), sebuah komplek pemukiman elit di masa Batavia.

Tidak hanya menjadi pusat bisnis, masyarakat memanfaatkan kawasan yang dekat dengan Lapangan Banteng itu sebagai pusat lifestyle di masanya.

Pada 1930an, Pasar Baru sukses menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di Jakarta. Tapi merebaknya pusat perbelanjaan lain, usai kemerdekaan Indonesia, membuat pamor Pasar Baru meredup.

Mbak Tutut Kisahkan Lahir Tanpa Disambut Sang Ayah, Pak Harto Sedang Pimpin Pertempuran di Jogja

Misteri Surat Perintah Tiga Belas Maret (Supertasemar), Disebut Menjadi Revisi Supersemar

Pada tahun 2000, untuk menyelamatkan lokasi bersejarah itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Pasar Baru dan kawasan sekitarnya sebagai kawasan belanja bertaraf Internasional melalui SK Gubernur No 3048.

Revitalisasi pun dilakukan. Pembangunan kawasan berusaha agar tidak menghilangkan nuansa historis Pasar Baru.

Secara umum, kawasan pusat belanja Pasar Baru saat ini dibagi menjadi enam kawasan utama yakni Metro Pasar Baru, Metro Atom, Harco Pasar Baru, Pasar Baru, Istana Pasar Baru dan kawasan Pintu Air.

Saat ini, Pasar Baru menjadi andalan wisata belanja dan sejarah Jakarta. Selain bisa berbelanja aneka kebutuhan primer, sekunder, tersier hingga kuarter, datang ke tempat tersebut pengunjung bisa merasakan sensasi berada di Jakarta Tempo Dulu karena desain bangunan masih mengusung gaya Belanda.

Sisi menarik lain, di salah satu tempat, tepatnya di Harco Pasar Baru, pengunjung bisa membeli pernak-pernik khas Betawi, yang tidak ada di pusat perbelanjaan lainnya.

Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) adalah situs cagar budaya seni satu-satunya yang dimiliki DKI Jakarta. Pemerintah sudah berkomitmen melestarikan gedung ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 Tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) adalah situs cagar budaya seni satu-satunya yang dimiliki DKI Jakarta. Pemerintah sudah berkomitmen melestarikan gedung ini melalui Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 Tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah (Kompas.com/Arimbi Ramadhiani)

Selain tersedianya pasar sebagai pusat ekonomi, kedatangan bangsa barat ke Batavia mendorong tumbuhnya berbagai sektor. Pada 1814, pada masa pendudukan Inggris, sebuah gedung seni diresmikan oleh Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles.

Gedung itu kini masih berdiri tegak dan dikenal dengan nama Gedung Kesenian Jakarta. Lokasinya berada di depan Pasar Baru atau di Jalan Gedung Kesenian No1, Jakarta Pusat.

Latar belakang dibangunnya gedung ini, karena saat itu tentara Inggris membutuhkan hiburan. Dan seni yang populer di kalangan mereka adalah teater, maka dibangunlah gedung ini untuk memfasilitasi keinginan mereka.

Gedung ini tadinya hanya berbentuk pondok berdinding kayu dengan atap rumbia. Nama awalnya, Municipal Theater.

Ketika penjajahan beralih ke tangan Belanda, bangunan gedung lama dibongkar dan dibangun kembali dengan nama Stadtsschouwburg atau Teater Kota.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved