Breaking News:

Liga 1

Bincang-bincang Eksklusif dengan Nurhidayat Haji Haris, Cerita Bangkit dari Hujatan

Pemain kelahiran Makassar 20 tahun silam pernah membela Timnas Indonesia U-19 dan terakhir memperkuat Timnas U-22 di ajang SEA Games 2019 Filipina.

Tribunnews/Abdul Majid
Bek Tengan Bhayangkara FC, Nurhidayat Haji Haris saat ditemui di Stadion PTIK, Jakarta. 

Pas PON saya intu terus, saya bersyukur dari pertama saya dapat tekanan mental tidak bakalan inti tapi saya buktiin. Pas di PON saya main terus akhirnya sampai final kita kalah dan peringkat kedua. Di situ mulai banyak telescoot, saya kemudian dipanggil Bhayangkara FC U-21.

Sudah masuk situ saya dipanggil pulang, ditelepon bapaknya Asnawi masuk PSM Makassar, akhirnya saya ikut sama Robert (Rene Albert). Di situ saya tidak fokus sama PSM, soalnya dipanggil Timnas U-19 di bawah Indra Sjafri.

Satu tahun saya fokus di Timnas. Habis di Timnas, saya dikontrak Bhayangkara. Mau balik lagi ke PSM, tapi saya berpikir kayaknya saya harus merantau, akhirnya saya pilih Bhayangkara. Ini sudah tahun ketiga.

Apa yang membuat Anda bisa percaya diri terlebih di usia yang masih muda ini? Apalagi Anda pernah menjadi kambing hitam saat Timnas U-19 Kalah kala itu.

Ya kalau saya pribadi punya prinsip tidak peduli orang bilang apa, yang penting saya kerja keras. Sama seperti kemarin waktu AFC, saya buat kesalahan waktu lawan Qatar, habis itu saya langsung diganti kan. Nah itu komentar menyuduktkan saya banyak banget di Instagram ada delapan ribu lebih.

Terus coach Indra bilang harus lewatin ini Dayat, kalau kamu bisa lewatin kamu bisa jadi pemain hebat. Terus ada teman bilang matiin saja komentarnya, saya bilang tidak. Saya tidak suka, itu pegecut, jadi saya biarin saja yang berkomentar, dari situ saya mulai memperbaki diri, jadi lebih dewasa lagi.

Terus paginya mulai banyak pemain senior yang telepon. Hamka, Flado, yang stoper-stoper mereka semangatin saya, Hansamu juga DM saya. Tetap semangat terus buktiin. Jadi saya tidak peduli sama komentar miring orang, kalau digituin saya malah jadi semangat.

Bagaimana Anda jaga penampilan atau Kondisi di usia muda ini?

Kalau saya itu harus balik lagi ke diri sendiri ya. Tetap konsisten ya. Misal saya, habis latihan pagi nih sama Bhayangkara, saya langsung lanjut ngegym. Terus kalau seandainya belum maksimal, nanti saya tunggul Saddil mau latihan boxing tiap malam, ada tempat teman.

Kemudian, sekarang Anda sudah tiga Tahun di Bhayangkara FC, hal apa yang membuat Anda merasa betah?

Ya, itulah kelebihan dan saya suka di Bhyangkara FC karena kekeluargannya baik. Selama di sini saya senang. Kebersamaan di sini enak pokoknya. Pelatih bagus. Itu kelebihan Bhayangkara.

Persaiangan di Bhayangkara FC musim ini terlebih banyak diperkuat pemain bintang?

Itu orang yang bilang tapi kalau kita di sini biasanya saja. Tapi sebenarnya di sini kita biasa saja. Saya harap di sini mereka bisa bantu Bhayangkara. Kalau di latihan biasa saja semua. Tapi kan tipikal orang beda, ada yang dilatihan biasa saja tapi kalau dipertandingan dia buktiin.

Kalau ada waktu libur dimanfaatkan pergi kemana?

Saya sih tergantung, kalau lagi capek ya paling istirahat saja. Tapi kalau bosan ke Senayan City nonton, sama teman saya kan saya bawa teman dari Makassar. Itu dia bantuin saya di sini biar saya ada teman saja.

Apa suka cari makanan Khas Makassar di Jakarta?

Iya, kalau mau cari coto Makassar saya ke Senen. Saya sering di sana, saya sering sama Asnawi ke sana. Tapi saya sih tidak pilih-pilih makanan, sama saja. Kalau di luar negeri baru kangen makanan Indonesia, kita beli tempe ada yang jual kita beli, bawa kecap makan telur gitu aja. Kan kalau makanan di luar bumbunya beda.

Kapan biasanya kalau Anda pulang ke Makassar untuk ketemu orangtua?

Kalau kita main Jumat menang, kita ada libur dua hari, Sabtu Minggu itu saya pulang dulu. Intinya kalau ada waktu libur dua hari saya usahain bisa pulang.

Seberapa sering Anda komunikasi dengan orangtua?

Iya sering, saya teleponan. Kadang nanyai kabar, tapi orang tua suruh saya main di sini (Bhayangkara FC). Soalnya Papah kan sibuk kerja.

Terakhir, Impian apa yang masih Anda kejar?

Ya Masuk Timnas senior. Itu impian saya. Kalau sekarang saya berpikir masih banyak senior kan, jadi saya tidak terlalu antusias. Tapi kalau U-23 itu saya harus masuk, kalau tidak ya saya malu.

Penulis: Abdul Majid
Editor: Murtopo
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved