Pilkada Depok

UPDATE Pakar Politik UI Tolak Mohammad Idris: Cukup Satu Periode Saja Menjadi Wali Kota Depok

Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Prof Hamdi Muluk dengan tegas mengatakan, kepemimpiman Idris menjadi Wali Kota Depok cukup satu pe

Wartakotalive.com/Vini Rizki Amelia
Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia Prof Hamdi Muluk 

"Bukan ranah saya (DPD PKS Depok) untuk memutuskan. Ada kemungkinan (kembali usung Idris di Pilkada Depok) dan pembahasan di tingkat pusat mengambil eksternal," kata Ketua DPD PKS Kota Depok Hafid Nasir di Gedung DPRD Depok, Grand Depok City, Cilodong, Jumat (21/2/2020).

Hingga kini, Hafid mengaku pihaknya masih menunggu keputusan DPP PKS terkait nama yang akan diusung di Pilkada.

Tiga balon

Selama menunggu itu, PKS Depok pun terus menggaungkan tiga nama bakal calonnya yang terpilih dari hasil Pemilihan Internal Raya (Pemira).

Mereka yakni Imam Budi Hartono, T Farida Rachmayanti, dan Hafid Nasir yang diharapkan elektabilitasnya melejit dan mampu menyaingi nama-nama bakal calon dari parpol lain termasuk petahana itu sendiri.

"Yang jelas DPD PKS memiliki tugas menaikan elektabilitas tiga nama bakal calon hasil Pemira," kata Hafid.

Calon Wali Kota Depok dari Jalur Independen Terpaksa Mundur

Yurgen Sutarno-Reza Zaki terpaksa terdepak dari kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Depok sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Depok 2020 mendatang.

Pasalnya, Yurgen Sutarno-Reza Zaki tak mampu memenuhi persyaratan dari KPU sebagai calon perseorangan atau independen.

Hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 41 ayat 2 UU Nomor 10 Tahun 2016 yang mengharuskan bakal pasangan calon perseorangan mengumlilkan dukungan 6.5 persen dari jumlah DPT di Kota Depok atau sebesar 85.107.

Jumlah minimun itu pun harus tersebar minimal di enam kecamatan berupa KTP warga dan juga formulir dukungan.

Sementara Yurgen-Reza, dari perjuangan selama tiga bulan terakhir hingga 18 Februari, hanya mampu mengumpulkan KTP dan formulir dukungan sebanyak 69.037.

 

Sedangkan batas waktu penyerahan syarat bakal calon perseorangan hanya sampai 23 Februari 2020.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Warta Kota, Yurgen-Reza mengucapkan terima kasihnya kepada seluruh relawan yang telah bekerja keras.

"Kami juga berterima kasih kepada seluruh warga Depok atas segala doa dan dukungan hingga kami mampu bergerak sampai hari ini," kata Yurgen seperti dikutip dari keterangan rilis yang diterima Warta Kota, Kamis (20/2/2020).

"Dengan ini, kami menghentikan pencalonan kami dari jalir independen, namun ini bukan akhir," kata Yurgen.

 Komisi E DPRD DKI: Kadis Kebudayaan Terlalu Arogan soal Rekomendasi Formula E di Monas

Seakan tak menyerah, Yurgen-Reza pun mencoba membuka pintu bagi partai politik yang ingin meminang mereka untuk berjuang pada Pilkada yang direncanakan digelar pada September mendatang.

Menurutnya, Depok memerlukan gagasan baru untuk menangani persoalan pendidikan, kesehatan, kemacetan lalu lintas, pengangguran, pengelolaan sampah, transparansi anggaran dan berbagai masalah lainnya.

"Kita tidak bisa menunggu lagi, kami mengajak seluruh warga untuk #BenerinDepok2020!" katanya.

Sebelumnya, pada saat mendeklarasikan diri maju independen pada Desember lalu, Yurgen-Reza yakin bisa mengumpulkan dukungan sesuai ketentuan KPU.

 Ridwan Kamil: Saya Sudah Perintahkan Dinas Pendidikan Pecat Guru Pukul Siswa

"Waktu dua bulan dalam dunia politik itu adalah waktu yang cukup panjang. Kami yakin kami mampu mencapai itu," ujar Yurgen saat deklatasi pada Desember lalu.

Nyatanya, mantan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjuangannya meski telah menyebar 426 relawan di 11 Kecamatan dan 49 Kelurahan di Kota Depok.

Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved