Berita Depok

Orang Tua Tak Mampu Bocah Pengidap Hydrocephalus di Depok Cuma Bisa Terbaring Lemah

Di usianya menuju dua bulan, dokter yang menangani Davina memvonis dara berkulit putih bersih ini mengidap hydrocephalus.

Wartakotalive/Vini Rizki Amelia
Davina bocah 9 tahun menderita hydrocephalus terpaksa hanya bisa terbaring di kasur lantaran orang tuanya tak memiliki biaya untuk berobat 

WARTAKOTA -- Terlentang, lemah dan tak berdaya adalah gambaran atas apa yang dialami Davina, bocah 9 tahun  mengidap hydrocephalus atau pembengkakan di bagian kepala.

Di usianya menuju dua bulan, dokter yang menangani Davina memvonis dara berkulit putih bersih ini mengidap hydrocephalus.

"Lahirnya caesar, tapi kondisinya ketika itu normal tapi kemudian pas usia mau dua bulan ada gejala kepalanya sedikit membesar dan lama-lama membesar," papar ayah Davina, Muhammaf Yudi (32).

Davina merupakan anak pertama dari dua bersaudara, saat ini, Davina tinggal bersama orang tuanya di Jalan Lembah, Krukut, Kecamatan Limo, Depok.

Alami Sakit Komplikasi, Lansia Dilarikan ke IGD dengan Mobil Pemadam Kebakaran

Bocah 10 tahun Tewas Main Banjir, Terpeleset karena Arus Deras di Selokan

Davina bocah 9 tahun menderita hydrocephalus terpaksa hanya bisa terbaring di kasur lantaran orang tuanya tak memiliki biaya untuk berobat
Davina bocah 9 tahun menderita hydrocephalus terpaksa hanya bisa terbaring di kasur lantaran orang tuanya tak memiliki biaya untuk berobat (Wartakotalive/Vini Rizki Amelia)

Melihat kondisi kepala anaknya yang kian hari kian membesar, Yudi pun kembali mengecekan kondisi sang buah hati ke salah satu rumah sakit di Jakarta.

Hasilnya, pada usia empat bulan, Davina menjalani operasi di bagian kepalanya.

"Dimasukin selang dari atas kepala sampai perut untuk buang air kecil," tutur Yudi.

Pasca operasi tersebut, Davina tak lagi menjalani pengobatan lanjutan, biaya menjadi faktor utama orang tuanya menghentikan pengobatan.

FOLLOW US: 

Sebab, pekerjaan sang ayah yang membuka bengkel cat motor kecil di dekat rumahnya pun tak mampu lagi membiayai pengobatan Davina.

Sehingga dengan terpaksa, Yudi membaringkan anak kesayangannya itu di sebuah alas tidur di rumahnya tanpa mengecekan lagi kondisi medis Davina.

Akibatnya, kondisi Davina memrihatinkan dan menggetarkan setiap hati yang melihat wajah lugu bocah perempuan yang satu ini.

Kedua kakinya pun susah tak bisa digerakan secara normal oleh Davina, terlipat ke arah kanan.

Pada bagian tangan pun hanya tangan kirinya saja yang bisa di gerakan.

Yudi pun mengaku selama ini tidak ada bantuan intensif yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok kepada anaknya.

Hidrosefalus dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh bayi dan orang-orang yang berusia 60 tahun ke atas.

Padahal, Yudi mengaku pada 2014 lalu Mohammad Idris yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Wali Kota Depok, sempat mengunjungi Davina.

Kala itu, Yudi mengaku dirinya diberikan angin segar mengenai perawatan Davina oleh Pemkot Depok.

Sayang, janji tinggalah janji, kenyataannya Davina hanya mendapat bantuan berupa pemberian pampers dari Puskesmas Grogol yang beberapa tahun belakangan pun sudah di stop pihak puskesmas tanpa adanya kejelasan.

"Ya waktu itu cuma kunjungan doang, mungkin cuma buat pencitraan. Kalau soal biaya atau penanganan medis sih ngga ada," kata Yudi.

Mirisnya, tempat tinggal Davina tak seberapa jauh dari Balai Kota Depok yang menjadi kantor Mohammad Idris yang kini menjabat sebagai Wali Kota Depok.

Bahkan, tak jauh dari rumah Davina juga terdapat rumah tinggal seorang Anggota DPRD.

Namun kedua kenyataan itu tak mampu membuat Davina memeroleh bantuan secara medis agar dapat meringankan derita yang kini dirasakannya sendiri tanpa bisa menungkapkannya dengan kata-kata.

Gejala Hidrosefalus

Dikuitip Wartakotalive.com dari Alodokter, hidrosefalus pada bayi ditandai dengan lingkar kepala yang cepat membesar.

Selain itu, akan muncul benjolan yang terasa lunak di ubun-ubun kepala.

Selain perubahan ukuran kepala, gejala hidrosefalus yang dapat dialami bayi dengan hidrosefalus adalah:

  • Rewel
  • Mudah mengantuk
  • Tidak mau menyusu
  • Muntah
  • Pertumbuhan terhambat
  • Kejang

Pada anak-anak, dewasa, dan lansia, gejala hidrosefalus yang muncul tergantung pada usia penderita. Gejala-gejala tersebut antara lain:

  • Sakit kepala
  • Penurunan daya ingat dan konsentrasi
  • Mual dan muntah
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan koordinasi tubuh
  • Gangguan keseimbangan
  • Kesulitan menahan buang air kecil
  • Pembesaran kepala

Hidrosefalus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan dalam perkembangan fisik dan intelektual anak.

Pada orang dewasa, hidrosefalus yang terlambat ditangani dapat menyebabkan gejala menjadi permanen.

Pemeriksaan medis harus segera dilakukan pada anak-anak dan orang dewasa yang mengalami beberapa gejala di atas.

Segera cari pertolongan medis bila bayi menunjukkan sejumlah gejala berikut:

  • Kesulitan saat menyusu atau makan
  • Sering muntah tanpa diketahui sebabnya
  • Menangis dengan suara melengking
  • Berbaring terus dan enggan menggerakkan kepala
  • Sesak napas
  • Kejang

Penyebab Hidrosefalus

Hidrosefalus disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan cairan di dalam otak.

Akibatnya, cairan di dalam otak terlalu banyak dan membuat tekanan dalam kepala meningkat. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yang meliputi:

Aliran cairan otak yang tersumbat.
Produksi cairan otak yang lebih cepat dibanding penyerapannya.
Penyakit atau cedera pada otak, yang memengaruhi penyerapan cairan otak.

Hidrosefalus bisa terjadi pada bayi ketika proses persalinan, atau beberapa saat setelah dilahirkan.

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut, di antaranya:

Perdarahan di dalam otak akibat kelahiran prematur.

Perkembangan otak dan tulang belakang yang tidak normal, sehingga menyumbat aliran cairan otak.
Infeksi selama masa kehamilan yang dapat memicu peradangan pada otak janin, misalnya rubella atau sifilis.

Di samping itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hidrosefalus pada semua usia, yaitu:

  • Tumor di otak dan saraf tulang belakang.
  • Perdarahan di otak akibat cedera kepala atau stroke.
  • Infeksi pada otak dan saraf tulang belakang, misalnya meningitis.
  • Cedera atau benturan pada kepala yang berdampak ke otak.
Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved