Berita Kementerian

Mendagri Minta Masyarakat tidak Alergi Program Orba

“Mungkin masih ada yang beranggapan alergi dengan program Orba. Padahal sebetulnya banyak program yang positif,” kata Tito.

Kemendagri
Mendagri saat membuka Rakornas Kepala BPSDM Provinsi dan Kepala BKPSDM Kab/Kota Seluruh Indonesia di Auditorium Lantai 4 BPSDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/02/2020). 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mendorong pertumbuhan ekonomi guna mengantisipasi bonus demografi di tanah air.

Hal ini disampaikan Mendagri saat membuka Rakornas Kepala BPSDM Provinsi dan Kepala BKPSDM Kab/Kota Seluruh Indonesia di Auditorium Lantai 4 BPSDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/02/2020), dalam siaran pers yang diterima Warta Kota.

“Kita menghadapi fenomena yang bisa positif dan bisa negatif. Karena dengan adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi maka otomatis akan menghasilkan jumlah penduduk angkatan muda yang tinggi pula, disebut bonus demografi," jelas Tito.

Ini, tambah Tito akan menjadi peluang apabila menjadi tenaga kerja yang potensial, tetapi bisa jadi bencana kalau mereka tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Menurut Tito, program-program Presiden juga sudah sangat membantu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi guna mengantisipasi bonus demografi yang sifatnya negatif.

Mendagri saat membuka Rakornas Kepala BPSDM Provinsi dan Kepala BKPSDM Kab/Kota Seluruh Indonesia di Auditorium Lantai 4 BPSDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/02/2020), dalam siaran pers yang diterima Warta Kota.
Mendagri saat membuka Rakornas Kepala BPSDM Provinsi dan Kepala BKPSDM Kab/Kota Seluruh Indonesia di Auditorium Lantai 4 BPSDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/02/2020), dalam siaran pers yang diterima Warta Kota. (Kemendagri)

Maka yang perlu dikerjakan sekarang adalah mengenal dan membedah masalah mulai dari sumbernya.

“Yang perlu kita sadari bersama bonus demografi yang sudah lahir ini adalah hilir, maka kita harus mencari juga hulunya," kata Tito.

Hulunya, lanjut Tito, yaitu angka kelahiran tinggi dan bagaimana kualitas SDM-nya.

Jadi bagaimana bisa menekan angka kelahiran dan yang lahir, ada manusia yang punya potensi untuk menjadi tenaga kerja yang produktif ke depannya, tidak stunting.

"Dan untuk yang sudah lahir, bagaimana memanfaatkan mereka menjadi tenaga kerja yang produktif,” kata Tito.

Tito juga berharap agar seluruh lembaga yang bersangkutan dan masyarakat Indonesia dapat bekerjasama dan berpikiran terbuka terhadap program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), KB dan program lainnya.

“Mungkin masih ada yang beranggapan alergi dengan program Orba. Padahal sebetulnya banyak program yang positif,” kata Tito.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai kurang lebih 263 juta jiwa, dari sisi positif, Tito melihat bahwa SDM yang banyak bisa menjadi instrumen positif bagi negara untuk mendominasi negara lain, khususnya di bidang ekonomi.

“Kalau kita bicara ekonomi tidak akan lepas dari produksi, siapa yang mampu membuat mesin produksi yang lebih masif maka akan mendominasi yang lain," kata Tito.

"Dan kalau bicara produksi tidak akan lepas dari angkatan kerja. Kita bisa menjadi negara yang potensial untuk mendominasi, asalkan tenaga kerjanya potensial," tutup Tito.

Editor: Mohamad Yusuf
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved