Pemilik Kafe 'Teriak' Dagangan Kulinernya Sepi Lantaran Pemkot Depok Larang Rayakan Hari Valentine

“Ini kan branding, memanfaatkan moment seperti ini sebaik mungkin. Ini kan enggak bisa dilarang,” imbuhnya.

Pemilik Kafe 'Teriak' Dagangan Kulinernya Sepi Lantaran Pemkot Depok Larang Rayakan Hari Valentine
Warta Kota/Luthfi Khairul Fikri
Pada Jumat (14/2/2020), permintaan bunga di Hari Valentine meningkat di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 

Para pemilik kafe di daerah Grand Depok City menanggapi negatif terkait larangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok untuk merayakan Valentine atau Hari Kasih Sayang kepada SD dan SMP se-Kota Depok.

Seorang pemilik kafe, YD mengatakan larangan tersebut membawa dampak buruk bagi para pelaku usaha mikro khususnya yang bergerak di bidang kuliner seperti kafe.

Sebab kata YD, pemilik kafe kerap memanfaatkan momen-momen tertentu termasuk Valentine untuk meraih para konsumennya.

Tak jarang potongan harga diberikan demi meraup rupiah disaat hari kasih sayang atau Valentine yang jatuh pada 14 Februari tiap tahunnya.

“Sebenarnya enggak perlu itu sampai mengeluarkan surat edaran seperti itu. Dampaknya banyak ini, pelaku usaha pasti terdampak,” kata YD kepada wartawan di kafe miliknya di daerah Grand Depok City, Cilodong, Depok, Jumat (14/2/2020).

YD pun mengaku, bila pelarangan tersebut untuk mengurangi hal-hal negatif seperti pacaran atau perbuatan yang melanggar norma agama sekalipun, YD menilai hal itu tak hanya terjadi saat Valentine saja.

“Kalau mindset-nya negatif, nggak usah valentine, malam minggu juga, banyak dimanfaatkan remaja untuk pacaran,” imbuhnya.

YD juga menanggapi sinis terkait Pemkot Depok yang menambah beban pelaku usaha dengan menaikkan pajak reklame dan pajak air tanah hingga lima kali lipat.

Seharusnya, kata YD, Pemkot Depok mendukung perkembangan para pelaku usaha di Depok, jangan justru membuat edaran yang berdampak buruk bagi para pelaku usaha.

“Ya paling enggak harusnya kita pelaku usaha diajak diskusi dulu sebelum mengeluarkan edaran itu. Enggak sekonyong-konyong. Biar saja Disdik yang bayar pajak kita,” tuturnya.

YD mencontohkan, trade mark Velentine di toko ritel di Kota Depok, diskon Valentine Day, harga coklat silver queen diskon 20 persen.

“Ini kan branding, memanfaatkan moment seperti ini sebaik mungkin. Ini kan enggak bisa dilarang,” imbuhnya.

Biasanya, saat Valentine Day, ungkap YD, cafe menyelenggarakan acara live musik, atau acara fun khusus Valentine yang sifatnya positif.

Dari segi pelaku usaha, moment ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

“Kita kan nggak ada jual alkohol, semua yang dijual sehat, harusnya sih nggak ada masalah,” tandasnya

Sebelumnya, melalui Dinas Pendidikan, Pemkot Depok mengeluarkan surat edaran Nomor 421/937/II/Peb.SMP/2020, per 12 Februari 2020.

Salah satu point isi surat edaran tersebut adalah melarang SD dan SMP se-Kota Depok merayakan Valentine Day di sekolah maupun di luar sekolah.

Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Dedy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved