Hari Valentine, Ustadz Abdul Somad Tegaskan Gaya Hidup Halal Bukan Pilihan Tapi Keharusan
Hari Valentine, Ustadz Abdul Somad tegaskan gaya hidup halal bukan pilihan tapi keharusan. Misal hukum ambil ojek online ambil pesanan.
Ustadz Abdul Somad menegaskan gaya hidup halal bukan pilihan, tetapi merupakan keharusan bagi umat muslim.
Hal tersebut diungkapkan Ustadz Abdul Somad lewat status instagramnya @ustadzabdulsomad_official; pada Jumat (14/2/2020).
Dalam statusnya tersebut, Ustadz Abdul Somad menyebutkan gaya hidup halal bukan pilihan tapi keharusan.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Subuh di Masjid Baiturrahman, Teluk Air, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau pada Jumat (14/2/2020).
"Halal Life Style bukan sekedar pilihan, tapi keharusan," tulis Ustadz Abdul Somad.
Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai gaya hidup halal oleh Ustadz Abdul Somad.
Hanya saja, kajian tersebut disampaikan Ustadz Abdul Somad bertepatan dengan perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day yang jatuh pada hari ini, Jumat (14/2/2020).
Hukum Ojek Online Ambil Order Makanan
Dikutip dari Tribunnews.com, Ustadz Abdul Somad menjabarkan hukum ojek online ketika mengambil orderan atau pesanan.
Pesanan yang diterima katanya mempengaruhi halal atau haramnya pendapatan pengemudi ojek online.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Abdul Somad ketika memberikan tausiah di Komplek, Jalan Citra Garden, Titi Rantai, Medan Baru, Medan, Sumatera Utara.
Menurut Ustadz Abdul Somad, pengemudi ojek online harus memastikan pesanan yang diminta dari pelanggan.
Apakah makanan yang hendak diantar merupakan makanan halal atau sebaliknya.
"Apa hukum membantu menerima orderan ojek online makanan yang haram?," membacakan pertanyaan dari jemaahnya.
"Transparan, yang mau dijemput ni siapa. Makanan yang mau dibawa ini terbuat dari apa," kata Ustadz Abdul Somad.
Oleh karena itu, Ustadz Abdul Somad menyarankan untuk mengantar makanan yang halal.
"Kalau tidak, kita khawatir ikut dalam syubhat. Berkontribusi dalam perbuatan haram," katanya.
UAS mengatakan hal itu bisa itu diatur.
"Ini makanan yang mau dibawa ini makanan halal. Ini makanan haram. Untuk kawan-kawan kita, saudara kita sebangsa dan setanah air tapi tak seagama dia ngurus ini. Ini (yang halal) urusan kita. Supaya rezeki kita berkah. Jangan semua mau diantar," katanya.
"Aku ni pak Ustadz udah kerja payah kali cari duit, semua kuantar. Jangankan babi, setanpun kuantar. Ini tak betul," kata Ustadz Abdul Somad.
Dunia Terasa Bergoncang
Pada kesempatan berbeda, Ustadz Abdul Somad mengatakan, jika seorang perempuan sakit maka yang mengobati harus dokter perempuan.
Pun demikian juga jika pasien yang ditangani laki-laki, maka dokter yang memeriksa harus laki-laki.
Hal itu disampaikan Ustadz Abdul Somad yang bertanya, apa hukum melakukan tindakan kepada yang bukan mahrom.
"Kalau yang sakit laki-laki, dokternya perempuan, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Ustadz Abdul Somad menjawab pertanyaan jamaah.
"Ustadz kok tahu? Saya pernah mengalami," lanjut UAS.
Ustadz Abdul Somad menceritakan pengalamannya saat sakit maagh beberapa waktu lalu.
"Tiba-tiba keluar asam lambung, maka bekeringat peluh. Kalau jalan musti pegang ke dinding. Begoyang dunia ini," kata UAS.
Dirinya kemudian dibawa ke rumah sakit.
"Entah jamaah ni mau ngerjai saya, entah, dulu waktu belum nikah. Dikasinya dokter anak gadis," cerita UAS.
Dokter tersebut kemudian mengecek kondisi Ustadz Abdul Somad.
Dipegang dokter itulah jantung (dada)nya.
Begitu keluar dari rumah sakit dirinya ditanya jemaah.
"Bagaimana perasaan pas Ustadz? Begoncang Duniani Kurasa," kata UAS disambut tawa jamaah.
UAS mengatakan, oleh sebab itu akan datang, dokter laki-laki dengan laki-laki. Dokter perempuan dengan dokter perempuan.
Menurutnya, sekarang, tak seimbang antara banyaknya dokter SPOG, spesialis kandungan dengan perempuan yang mengandung.
Karena tak seimbang banyaknya dokter perempuan dengan perempuan yang mengandung, akhirnya mau tak mau dipakailah dokter laki-laki.
"Jadi hukum asalnya dokter perempuan untuk perempuan dan dokter laki-laki untuk laki-laki," katanya.
Tapi, kalau darurat tingkat tinggi, pilihannya hanya dua antara mati atau dokter laki-laki, maka tak boleh pilih mati.
"Tak boleh pilih mati," tegas Ustadz Abdul Somad.
Solusinya, kata Ustadz Abdul Somad, masukkan anak-anak perempuan ke fakultas kedokteran.
"Supaya mereka bisa beramal, menolong pasien perempuan, muslimah," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ustadz-abdul-somad-soal-gaya-hidup-halal.jpg)