Breaking News:

Kementerian Pertanian Hadirkan Agriculture War Room, Apa Itu?

Dalam pembangunan pertanian nasional, Kementerian Pertanian menghadirkan Agriculture War Room (AWR).

Dok. Kementerian Pertanian
Dalam pembangunan pertanian nasional, Kementerian Pertanian menghadirkan Agriculture War Room (AWR), Kamis (13/2/2020). Kali ini turut dihadiri pimpinan redaksi dan jurnalis. 

“Keberadaan AWR ini penting sekali. Saya mau kalau ada yang bicara, misalnya di Pasuruan Jawa Timur kekurangan pupuk, dari sini (AWR) saya bisa lihat di mana desanya, kabupatennya, kecamatannya"

"Saya bisa lihat pupuk itu intervensinya di mana, apakah di lini IV, lini V, atau di lini I,” kata Syahrul.

Mentan menambahkan, sistem AWR sudah dirancang secara multiguna, terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat Kecamatan dan Desa.

Terlebih petani juga tidak perlu membeli alat drone untuk melaporkan sawahnya kepada Kementerian Pusat.

"Kita sudah punya alat ukurnya yang berbasis internet of think atau sudah menggunakan artificial intelligence"

"Namun, sejauh ini kami juga belum memutuskan apa-apa saja yang akan menjadi kebijakan secara utuh"

"Yang jelas saat ini kami masih mengawasi secara langsung di lapangan," ujarnya.

Syahrul berharap, kecanggihan AWR mampu meningkatkan semua produksi dengan kualitas panen di atas rata-rata.

Terlebih, hasil tersebut bisa memenuhi ketersediaan pangan nasional dan pasar global.

"Tentu kita berharap ekspornya meningkat menjadi tiga kali lipat," katanya.

"Saya sangat bangga sekali, apapun kerjanya pasti harus bermain data. Karena data itu valid. Kalau ini ditata dengan baik kedepannya kita tidak akan ribut lagi soal impor beras atau lainnya"

"Jadi saya kira apa yang dibuat Mentan Syahrul ini harus dipertahankan dan bahkan bisa lebih maju lagi karena teknologi sejatinya terus berkembang," ujar Luhut.

Dalam acara peluncuran AWR ini, pemerintah juga merilis secara resmi Luas Lahan Baku Sawah Nasional 2019 dan Produksi Padi 2019.

Menteri Administrasi Tata Ruang/ Badan pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil menyampaikan, Luas Lahan Baku Sawah Tahun 2019 yaitu seluas 7.463.948 hektar.

“Setelah dilakukan verifikasi di lapangan, semua kementerian/lembaga telah sepakat bahwa yang kita verifikasi ini betul-betul data lahan baku sawah yang sebenarnya sesuai dengan ketentuan yang disepakati,” ujar Sofyan.

"Sawah yang belum terpetakan sebelumnya, jauh lebih besar daripada sawah yang mengalami alih fungsi," kata Sofyan.

Sejumlah provinsi yang mengalami penambahan luas baku sawah.

Yakni Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, Yogyakarta dan Bangka Belitung.

Dalam data luas baku sawah terbaru, provinsi dengan luas lahan sawah terbesar terdapat di Jawa Timur dengan luas 1,21 juta ha, Jawa Tengah 1,04 juta ha, Jawa Barat seluas 928.218 ha, Sulawesi Selatan seluas 654.818 ha dan Sumatera Selatan 470.602 ha. (JHS/*)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Panji Baskhara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved