Breaking News:

Pembunuhan

Update Dua Eksekutor Pembunuh Ayah dan Anak Membantah Dakwaan Menerima Rp 10 Juta Bukan Rp 500 Juta

upah sebesar Rp 500 juta yang disebutkan JPU itu diungkapkan tak sesuai dengan apa yang diterima oleh dua eksekutor tersebut.

Warta Kota/Rizki Amana
Dua eksekutor pembunuh ayah dan anak, Muhammad Nursahid alias Sugeng (kiri) dan Kusmawanto alias Agus (kanan). 

"Dalam rekonstruksi, nanti bisa jelas seperti apa peran masing-masing tersangka," kata Argo.

Argo Yuwono mengatakan polisi sudah membekuk empat tersangka dalam kasus pembunuhan ini.

Otak pelaku pembunuhan dipastikan adalah Aulia Kesuma (45) dan anak kandungnya Kelvin alias KV (24) yang sudah dalam pengamanan polisi.

Aulia merupakan istri muda korban, Edi alias Pupung. Sebelumnya Aulia sempat disebut bibi dari KV karena terdata di kartu keluarga usianya 35 tagun dan KV, berusia 24 tahun. Belakangan diketahui pencatatan tanggal lahir Aulia di kartu keluarga mengalami kekeliruan. Aulia memastikan KV adalah anak kandungnya dari suami sebelumnya, sebelum menikah dengan korban, Edi.

AK merupakan istri muda Edi Chandra alias Pupung. Ini berarti KV adalah anak tiri Pupung.

KV masih dirawat di RSPP karena turut terkena luka bakar 30 persen saat membakar korban.

Sementara dua tersangka lainnya adalah A dan S, asal Lampung yang disuruh Aulia membantu mengeksekusi kedua korban, Pupung dan Dana. A dan S dibekuk polisi dari Lampung dan kini ditahan di Mapolda Metro Jaya.

 BJ Habibie Ungkap Air Matanya Tumpah Saat Terakhir Kali Dia Berbicara dengan Presiden Soeharto

A dan S dijanjikan dibayar Rp 500 Juta oleh AK.

Sang istri, Aulia, kata Argo, sengaja menyewa pembunuh bayaran lantaran ingin menguasai rumah suaminya.

Dari informasi yang dihimpun Warta Kota, selama ini AK diketahui terlilit utang hingga Rp 7 Miliar dan perbulannya ia harus membayar Rp 200 Juta.

Ia juga memilki hutang lainnya hingga Rp 3 Miliar dari pihak lain. Sehingga total hutangnya sebanyak Rp 10 Miliar.

Sehingga AK sempat meminta rumah korban untuk dijual, namun tidak ditanggapi oleh Edi. Bahkan Edi sempat mengancam akan membunuh AK jika menjual rumahnya.

Argo Yuwono membenarkan informasi bahwa AK terlilit utang Rp 7 Miliar dan Rp 3 Miliar dan wajib membayar Rp 200 Juta perbulan.

"Infonya seperti itu. Tapi nanti akan dipastikan dan dicek lagi, setelah tersangka AK dibawa ke Jakarta dari Sukabumi," kata Argo.

Argo mengatakan motif pembunuhan karena AK terlilit hutang dan ingin menjual rumah mereka di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk melunasi hutangnya. Namun korban atau Edi alias Pupung menolak menjual rumahnya di Lebak Bulus yang bernilai Rp 30 Miliar.

"Terkait pembunuhan di Lebak Bulus. Pada intinya awal kasus ini adalah ada suatu keluarga suami istri, yang memiliki anak masing-masing sebelumnga hidup dalam satu rumah tangga. 
Kemudian istri inisial AK ini mempunyai hutang sehingga dia ingin menjual rumah mereka. Tapi karena suami ini mempunyai anak, ia tidak setuju. Dan dia mengatakan ke istrunya AK, kalau menjual rumah ini kamu akan saya bunuh," papar Argo.

"Itu keterangan sementara pelaku seperti itu. Kemudian karena dililit hutang, tersangka AK ini pernah mempunyai pembantu perempuan, tapi sudah tidak sama dia. Lalu suami pembantunya ini disuruh menghubungi 2 orang yang ada di Lampung yakni A dan S, untuk ke Jakarta," kata Argo.

Setelah dihubungi AK kata Argo datanglah S dan A ke jakarta menggunakan mobil travel

"Kemudian tersangka Ak ini menjemput di Kalibata dengan mobil. Di dalam mobil AK ini sebagai istri korban, curhat dan menyampaikan kepada dua orang tadi inisial A dan S, kalau dia dililit hutang. Dia mau menjual rumah tidak diperbolehkan, dan dia diancam. Akhirnya di dalam mobil, terjadi deal untuk A dan S membantu eksekusi dan membunuh korban dengan perjanjian akan dibayar Rp 500 Juta," papar Argo.

Menurutnya hal itu adalah keterangan daripada pelaku A dan S.

"Kemudian setelah sampai di rumah di Lebak Bulus, ada korban C (Edi Chandra-Red) dan anaknya D (Dana) yang ada di ruang masing-masing. Tersangka A dan S ini kemudian memberikan racun kepada korban C dan diminum dengan harapan langsung meninggal. Setelah lemas dicek, ternyata tidak bergerak dan dianggap sudah meninggal," kata Argo.

Kemudian katanya istri korban AK, menyuruh anak kandungnya KV memberi korban yakni Dana, minuman keras.

"Akhirnya mabuk dan tidak sadar dan kemudian dibekap di sana. Jadi ibu dan anaknya kemudian dengan A dan S terlibat dalam kegiatan pembunuhan tersebut," kata Argo.

Setelah dua korban meninggal, kata Argo, menurut pengakuan AK, keduanya di bawa ke dalam mobil.

"Ada 2 mobil di bawa ke arah Sukabumi. Setelah sampai ke daerah gunung di Sukabumi, kemudian mayat 2 orang di mobil dibakar. Mobil dibakar oleh tersangka KV. Pada saat menyiram bensin KV terkena api dan dia juga kena terbakar 30 persen dan sekarang di RS. Sedang kita jaga di sana," kata Argo.

Kemudian pelaku A dan S kemarin kita tangkap di Lampung dan langsung di bawa ke Polda Metro Jaya, Selasa malam.

Untuk dua eksekutor A dan S yang dibekuk pihaknya kata Argo penyidik akan mendalami kembali keterangan mereka.

"Apakah ada eksekutor lainnya atau tidak masih didalami," kata Argo.

Dua eksekutor pembunuhan A dan S akhirnya tiba di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/8/2019) malam sekira pukul 19.05, dengan dikawal ketat petugas.

Dengan jalan terpincang-pincang, keduanya digiring petugas ke tahanan Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Satu pelaku mengenakan baju kaos putih dan celana cokelat sedengkul. Di betis kanannya tampak terbalut karena luka tembak.

Sementara satu pelaku lainnya mengenakan kaos hitam dan celana denim sedengkul. Di betis kirinya juga terbalut perban karena luka tembak.

Keduanya tampak tertatih saat digiring petugas ke ruang tahanan.

Sesekali wajah mereka tampak meringis.

Mereka kata Argo dijanjikan uang Rp 500 Juta oleh AK, otak pembunuhan yang merupakan istri korban.

"Namun usai melakukan pembunuhan, keduanya baru diberikan Rp 8 Juta dan disuruh kembali ke Lampung," kata Argo.

Menurut Argo, A dan S sengaja disuruh datang oleh AK ke Jakarta untuk menghabisi suaminya Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan anak tirinya M Adi Pradana alias Dana (23).

Edi alias Pupung dan Dana dilumpuhkan di rumah mereka di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan oleh para eksekutor, Sabtu (24/8/2019).

Para eksekutor kemudian membawa kedua korban di dalam mobil ke SPBU Cireundeu dan meninggalkan mobil serta jenasah korban di sana.

Lalu pada Minggu (25/8), sekitar 07.00 WIB, dua otak pelaku AK dan KV menuju ke SPBU Cirendeu untuk mengambil mobil Ertiga B-2983-SZH berisikan dua mayat korban.

KV membawa mobil tersebut ke Cidahu Sukabumi. Sedangkan AK mengendarai mobilnya Toyota Calya B 2620 BZM.

Penulis: Rizki Amana
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved