Budaya

Literatur Silat Betawi Karya Para Pesilat Harus Diperbanyak Agar Dikenal Generasi Muda

Literatur tentang seni bela diri yang ditulis para pesilat Betawi akan memudahkan generasi muda mempelajari Pencak Silat Betawi.

Literatur Silat Betawi Karya Para Pesilat Harus Diperbanyak Agar Dikenal Generasi Muda
Istimewa
Diskusi publik bertajuk ‘Pencak Silat Betawi Pascapenetapan Pencak Silat Indonesia sebagai WBTb Dunia oleh UNESCO’. 

“Kalau peneliti yang nulis sendiri kan takutnya bias gitu kan. Tapi kalau pegiatnya sendiri yang nulis, dia akan bicara sejarahnya, nilainya dan folklore (cerita rakyat) itu bisa diangkat sama si pegiat silat itu sendiri...”

UNITED Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Pencak Silat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia dari Indonesia.

Pencapaian itu sekaligus mendorong para pegiat untuk bisa memperkenalkan Pencak Silat Betawi kepada generasi muda Indonesia. Salah satunya dengan menambah literatur yang ada.

Ketua Perkumpulan Betawi Kita Roni Adi mengatakan literatur tentang seni bela diri yang ditulis para pesilat Betawi akan memudahkan generasi muda mempelajari Pencak Silat Betawi.

Kejurnas Pencak Silat dan Festival III, Ketum Pagar Nusa Tekankan Pendekar Lawan Hoaks di Medsos

Atraksi Pencak silat Yudha Putra Buana Menjadi Pembuka Acara Malam Pergantian Tahun di Danau Sunter

Menpora Terus Usahakan Pencak Silat Bisa Dipertandingkan di Olimpiade

“Tadi juga dipaparkan dari temen-temen tentang minimnya literatur silat Betawi ini. Nah mudah-mudahan dengan ini temen temen silat terdorong untuk membuat tulisan dia sendiri,” ucap Roni, dalam keterangan reseminya, Selasa (28/1/2020).

Apalagi dalam diskusi publik bertajuk ‘Pencak Silat Betawi Pascapenetapan Pencak Silat Indonesia sebagai WBTb Dunia oleh UNESCO’ para pegiat dinilai mempunyai peran penting.

“Kalau peneliti yang nulis sendiri kan takutnya bias gitu kan. Tapi kalau pegiatnya sendiri yang nulis, dia akan bicara sejarahnya, nilainya dan folklore (cerita rakyat) itu bisa diangkat sama si pegiat silat itu sendiri,” jelasnya.

Roni berharap ke depan Pemprov DKI Jakarta ikut andil dengan membuat terobosan supaya seni bela diri pencak silat khusus pencak silat Betawi digemari generasi muda Indonesia.

“Kita dorong agar Pemprov DKI Jakarta membuat Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pesilat, pemerhati dan para akademisi,” kata Roni.

Menurut Roni ada semacam filosofi di balik seni bela diri pencak silat, sehingga generasi muda Indonesia harus memahami bahwa pencak silat khususnya pencak silat Betawi bukan sekadar olahraga.

“Yang terpenting sebenarnya dalam WBtb itu kan bicara nilai-nilai dari silat Betawi yang perlu kita angkat filosofinya. Jadi bukan sekadar silat sebagai olahraga,” ujar Roni. 

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved