Kamis, 23 April 2026

Cyber Crime

Awas, Kejahatan Siber Terus Mengincar, Cegah dengan Proteksi Data Pribadi

KEJAHATAN siber dan penipuan transaksi digital semakin banyak terjadi belakangan ini. Modusnya pun semakin beragam.

Penulis: Hironimus Rama | Editor: Fred Mahatma TIS
Istimewa
ILUSTRASI Kejahatan siber (Cyber Crime) 

“Prinsip keamanan siber tidak akan berjalan jika user/pengguna sendiri tidak peduli dengan keamanan data pribadinya..."

KEJAHATAN siber dan penipuan transaksi digital semakin banyak terjadi belakangan ini. Modusnya pun semakin beragam.

Tidak hanya memanfaatkan teknologi, pelaku penipuan juga kerap melakukan manipulasi psikologis kepada korbannya (social engineering).  

Tak heran jika banyak yang menjadi korban dari aksi kejahatan ini. Sebut saja artis Maia Estianty hingga wartawan senior Ilham Bintang.

Roy Suryo Bilang Polisi Tertarik Lihat Jejak Digital Dugaan Kejahatan Siber Petinggi Sunda Empire

Kapolda Metro Jaya Berharap Subdit Siber Bisa Menjadi Garda Terdepan dalam Mengatasi Kejahatan Siber

Chief Information Security Gojek George Do mengatakan social engineering merupakan cara penipu membuat berbagai skenario untuk mendapatkan data-data rahasia orang lain untuk keuntungannya.

“Rekayasa sosial umumnya dilakukan melalui telepon atau internet. Tindakan ini dilakukan tanpa bergantung pada sistem operasi, platform, protokol, perangkat lunak, atau pun perangkat keras,” kata George dalam diskusi tentang Keamanan Siber di Artotel Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Menurut dia, peretasan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Hampir semua perusahaan dunia pernah menjadi korban.

“Seberapa pun amannya sistem  IT yang dibangun oleh sebuah perusahaan/aplikasi, belum tentu digunakan dengan baik oleh pengguna. Karena itu, perlu dilakukan edukasi agar pengguna tidak menjadi korban social engineering," papar George yang pernah bekerja di Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA).

Proteksi dana pribadi

Untuk mencegah terjadinya aksi ini, George menyarakan masyarakat untuk memproteksi data pribadi agar tidak diketahui orang lain.

“Jangan pernah memberikan kode verifikasi, OTP (One Time Password) dan PIN kepada orang lain. Begitu pun dengan data perbankan,” jelasnya.

Gojek sendiri, lanjut George, berusaha untuk terus menjaga sistem keamanannya dengan bekerja dengan pakar-pakar keamanan siber dunia.

“Keamanan Gojek dijaga dari akarnya sehingga tidak ada celah untuk diretas," imbuhnya.

Jadi korban, segera lapor

AKBP Dhany Aryanda, S.I.K. dari Tim Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan kejahatan siber dan tindak penipuan melalui rekayasa sosial semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Tahun 2019 lalu, kami menerima 2.300 laporan tentang penipuan melalui modus social engineering ini. Kasus terbanyak dari sektor keuangan,” jelas Dhany.

Sependapat dengan George, Dhany juga mengimbau masyarakat agar tidak memberikan data pribadi kepada orang lain.

“Prinsip keamanan siber tidak akan berjalan jika user/pengguna sendiri tidak peduli dengan keamanan data pribadinya," tuturnya.

Kalau pengguna sering membagi data pribadi seperti  KTP/KK, nomor telepon, nomor rekening (kartu debit/kartu kredit) melalui media sosial, kata Dhany, maka akan sangat rentan menjadi korban social engineering.

"Jika terlanjur menjadi korban, maka segera lapor ke division cyber crime Polri atau melalui laman patrolisiber.id. Pelapor harus memberikan kronologi secara tepat agar penangannya cepat," imbuhnya.

Celah kelemahan manusia

Charles Lim, Head of Swiss German University Cybersecurity Lab & Deputy Head of Masters Program on Information Technology, menambahkan ada tiga komponen dalam keamanan siber yaitu orang, proses dan teknologi. Dari tiga komponen ini, manusia yang paling rentan untuk diserang.

"Kalau ada kasus serangan siber, kita umumnya cenderung menyalahkan teknologi. Padahal kelemahan dan kecerobohan manusia yang sering digunakan penjahat untuk melakukan aksinya, " kata Charles

Dia  menekankan pentingnya masyarakat diberikan edukasi  tentang kemanan siber ini.

"Kita harus sadar bahwa kita ini menjadi target. Karena itu, kita harus hati-hati untuk berbagi informasi dengan orang lain di sosial media," tuturnya. 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved