Breaking News:

Berita Bogor

UPDATE Penambangan dan Penebangan Liar Penyebab Bencana di Kab Bogor

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor segera mengambil langkah-langkang strategis dalam penanganan bencana alam pada awal tahun 2020 ini.

Penulis: | Editor: Andy Pribadi
Instagram
Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin bersama Menteri PUPR Bapak Basuki Hadimulyono menyusuri lokasi terdampak bencana longsor di Kecamatan Sukajaya. 

Sedangkan jumlah data korban jiwa tahun 2018 :

1. MD = 8 orang

2. LB = Nihil

3. LS = 6 orang

4. LR = 8 orang

"MD itu meninggal dunia, LB itu luka berat, LS itu luka sedang dan LR itu luka ringan," kata Adam. (akn)

Tragedi Kecamatan Sukajaya Terisolasi

Kasubag Humas Polres Bogor AKP Ita Puspita Lena mengungkapkan bahwa Polsek Cigudeg mendata ratusan rumah rusak di Kecamatan Sukajaya yang termasuk wilayah hukumnya, akibat terdampak bencana alam banjir bandang dan longsor.

"Namun karena masih ada enam desa yang terisolir, kepolisian baru mendata enam desa lainnya yang masih bisa diakses.

"Dari hasil pendataan tim 234 rumah mengalami rusak ringan, 72 rumah mengalami rusak sedang dan 460 rumah lainnya mengalami rusak berat," katanya saat dihubungi wartawan, Sabtu (4/1).

Dia merinci lebih jauh, di Desa Urug, 98 rumah rusak ringan dan 98 rumah rusak berat; Desa Harakat Jaya (Kampung Sinar Harapan), 19 rumah rusak berat; Desa Kiara Pandak, 255 rumah rusak berat; Desa Sukamulih 86 rumah rusak ringan, 72 rumah rusak sedang,19 rumah rusak berat; Desa Jaya Raharja 32 rumah rusak berat; dan Desa Cisarua ada 50 rumah rusak ringan serta 37 rumah rusak berat.

 UPDATE Jakarta Belum Bebas dari Digenangi Air, Berikut Foto-foto Terkini Genangan Air

 UPDATE Banjir Parah Ciledug Telan Korban Jiwa

 UPDATE Dinding Situ Pamulang Jebol, Wali Kota Airin hanya Bisa Lakukan Perbaikan Sementara

Dikatakannya, selain mendata rumah yang mengalami kerusakan, Polsek Cigudeg juga mendata warga yang menjadi korban luka, meninggal dunia ataupun hilang.

"Tiga orang korban asal Kampung Sinar Harapan Desa Harkat Jaya atas nama Amri (65), Maesaroh (25) dan Cici (10) masih belum dapat ditemukan dan 6 orang meninggal dunia, 8 orang di rujuk ke rumah sakit dan puskesmas, 16 orang luka ringan serta 3 orang belum ditemukan, tim evakuasi terus berupaya melakukan pencarian hingga hari ini," ujarnya.

Menurutnya, sebanyak 4.146 warga masih berada di tempat pengungsian yang aman pada beberapa lokasi di kantor desa, SD, musala, masjid, pesantren, dan rumah-rumah warga..

 UPDATE Tegar Dulang Rp1,7 Juta Dalam Sehari karena Banjir, Simak Foto-foto Terkini Genangan Air

"Di Desa Cisarua ada 97 warga mengungsi, Desa Cileuksa 824 warga mengungsi, Desa Kiarasari 365 warga mengungsi, Desa Kiarapandak 600 warga mengungsi, Desa Harakat Jaya 1.308 warga mengungsi, Desa Urug 298 warga mengungsi, Desa Pasir Madang 450 warga menungsi, Desa Jayarahara 136 warga mengungsi, Desa Sukamulih 50 warga mengungsi, dan Desa Sipayung ada 18 warga mengungsi. Total ada 4.146 pengungsi di wilayah kami," imbuhnya.

Sementara itu Wabup Bogor Iwan Setiawan mengatakan berdasarkan foto saat pantauan tim dengan helikopter ada sekitar 100 titik longsor di sana, bahkan ada dua kampung yang 'hilang' atau rata dengan tanah.

"Berdasarkan pemantauan tim saat menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan dengan helikopter kemarin, ada 100 titik bencana alam longsor.

"Sedangkan hasil pemantauan tim dan pihak Kecamatan Sukajaya ada dua kampung yang rata dengan tanah di Kampung Kubangan dan Kampung Kembangan,  Desa Pasir Madang," kata Iwan kepada wartawan di Mako Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor di Cibinong.

 Putus Asa, Wanita Muda Minta Sumbangan Banjir di Jalan Puri Kembangan

Wabup Bogor mengaku bahwa jajarannya melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) akan menghitung berapa ruas jalan dan jembatan yang rusak di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten itu.

"Saat ini kami fokus untuk mengevakuasi korban bencana alam banjir bandang dan longsor dan membuka ruas jalan yang terputus baru setelah itu  kami menghitung berapa ruas jalan dan jembatan yang rusak. Kami memperkirakan butuh bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) minimal Rp1 triliun untuk memperbaiki infrastruktur jalan dan jembatan ini, apalagi selain itu, banyak juga bangunan sekolah yang rusak," imbuhnya.

Di tempat yang sama, Bupati Bogor Ade Yasin menuturkan di Kecamatan Sukajaya butuh bantuan logistik dan obat-obatan yang intens karena melihat banyaknya jumlah pengungsi.

 UPDATE Pimpinan DPRD Minta DKI Fokus Prioritaskan Program Penanggulangan Banjir

"Akibat banyaknya rumah yang ambruk, otomatis masih banyak masyarakat yang tinggal di pengungsian yang butuh bantuan logistik dan obat-obatan yang intens. Hingga saat ini ada empat orang yang masih dinyatakan hilang," kata Bupati Bogor. (akn)

Mencekam Kondisi di Desa Kecamatan Sukajaya

SEBELUMNYA Wartakotalive melaporkan sebuah kampung di Desa Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor mendadak berubah menjadi sepi tak berpenghuni.

Kondisi ini terjadi sejak hari pertama tahun baru 2020.

Sejak saat itu, ratusan warga yang tinggal di sana, ramai-ramai meninggalkan kampung tersebut.

 Hujan Sejak Selasa Sore Bikin Jakarta Digenangi Air, Berikut Foto-foto Terkini Genangan Air

Dua kampung itu seperti menjadi kampung mati di Bogor lantaran tak ada penghuninya.

Dua kampung ini adalah Kampung Sinar Harapan dan Kampung Banar yang dihuni sekitar 60 lebih kepala keluarga.

Pantauan TribunnewsBogor.com saat mendatangi lokasi, Kamis (2/1/2020), di dalam area kawasan kampung ini sama sekali tak ada satu pun warga.

 Ada 8 RW di Kelurahan Petamburan Terdampak Banjir di Awal Tahun 2020

Rumah-rumah yang ada tampak kosong tak berpenghuni termasuk sejumlah warung yang juga tampak tutup.

Tidak adanya aktifitas warga seperti pada umumnya menjadikan kondisi perkampungan ini cukup sepi.

Kendaraan motor roda dua termasuk mobil yang diparkir di depan rumah warga juga tampak dibiarkan dan ditinggal pemiliknya.

 Ayu Azhari Sebut Tak Ada Drama Air Mata saat Bertemu dengan Ibra Azhari dan Medina Zein

Selain itu terpantau, sebuah bangunan rumah yang tengah dibangun oleh warga juga tampak dibiarkan terbengkalai.

Tidak hanya itu, kampung ini juga sama sekali tidak teraliri listrik seperti sebelumnya.

Kondisi ini terjadi pasca longsor yang menerjang dan berhasil menyapu sejumlah rumah warga hingga rata dengan tanah pada Rabu (1/1/2020) pagi.

 Selama Dhani di Penjara, Dul Jaelani Kehilangan Sosok Ayah

Selain itu, di hari kejadian longsor tersebut, semua akses jalan perkampungan ini juga tertutup longsor yang terjadi di titik-titik lain.

Ditambah pula, muncul retakan tanah yang tersebar cukup banyak di area kampung.

Ratusan warga yang tinggal di perkampungan ini, semuanya telah mengungsi ke tempat-tempat lain.

"Kosong semua, ditinggalin, mau (rumah) ancur, mau enggak, ditinggal pokoknya. Soalnya rawan (bencana longsor)," kata Ade Kosasih, ketua RT setempat kepada TribunnewsBogor.com.

Dia menjelaskan bahwa di hari kejadian sebelum longsor terjadi di waktu subuh, turun hujan yang cukup deras.

Lumpur memasuki rumah warga sekitar 06.00 WIB pagi disusul gerakan material tanah dan pohon.

"Bangun tidur 05.30 WIB keluar rumah, lihat hujan gede, ya udah masuk lagi. Jam 06.00 WIB, saya keluar lagi, saya lihat banyak lumpur di jalan dan masuk rumah. Saya lari ke atas sama temen. Tanah, pohon-pohon, rumah pada gerak," kata Ade.

 SEDIKITNYA 80 KK Terancam Gagal Rayakan Tahun Baru di Apartemen Sendiri, Ini Penyebabnya

Tak sempat memberi tahu seluruh warga, longsor tiba-tiba terjadi dan menyapu sejumlah rumah.

Beberapa warga bahkan tertimbun longsor dalam kejadian ini.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 4 orang warga Kampung Banar atau Sinar Harapan, Desa Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya ditemukan tewas tertimbun longsor.

 TERUNGKAP Ely Sugigi Tak Risau Kehilangan Job Usai Potong Gigi, Netizen: Rezeki Bukan karena Gigi

Mereka tertimbun longsor setelah Desa Harkatjaya dilanda cuaca buruk di awal tahun baru 2020 pada Rabu (1/1/2020) pagi.

Berdasarkan data dari Posko Bencana Longsor Desa Harkatjaya, masih ada 3 warga yang hilang diduga masih tertimbun longsor.

"Kita masih pencarian," kata Sekcam Sukajaya, Ridwan kepada TribunnewsBogor.com, Kamis (2/1/2020).

Berlarian Meninggalkan Rumah

Sementara itu, tahun baru 2020 jadi momen yang tak bisa dilupakan bagi Nenek Tati (61) terkait peristiwa hebat yang menimpa kampung halamannya di Kampung Ciasahan, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

Warga Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor melnyebrangi Sungai Cidurian menggunakan jembatan darurat dari bambu, Kamis (2/1/2020). Desa Sukamaju kini menjadi salah satu desa dari 8 Desa di Bogor yang terisolir karena bencana banjir.
Warga Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor melnyebrangi Sungai Cidurian menggunakan jembatan darurat dari bambu, Kamis (2/1/2020). Desa Sukamaju kini menjadi salah satu desa dari 8 Desa di Bogor yang terisolir karena bencana banjir. (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy)

Rabu (1/1/2020) pagi, saat Nenek Tati beranjak ke dapur untuk membuat sarapan, dikejutkan dengan volume air Sungai Cidurian di samping rumahnya yang meluber ke beberapa petak sawah di kampungnya.

Tati tahu betul, sejak subuh, hujan deras yang mengguyur memang tak kunjung reda.

Sekitar pukul 07.00 WIB, air yang meluber ke pesawahan itu semakin meluas bahkan menutupi belasan hektare sawah.

"Udah kayak lautan lah sawah itu," ungkap Nenek Tati saat berbincang dengan TribunnewsBogor.com di Posko Bencana Kecamatan Cigudeg, Kamis (2/1/2020).

Sekitar pukul 08.00 WIB, Tati mengaku melihat langsung banjir luapan Sungai Cidurian semakin mengganas.

Bahkan jembatan penghubung satu-satunya putus dan beberapa komponennya besinya hanyut diterjang banjir luapan sungai tersebut.

Saat itu, hampir semua wanita yang melihat kejadian itu histeris, tak terkecuali Tati sendiri.

Para warga langsung berlarian meninggalkan rumah masing-masing meskipun akses jalan yang dilintasi sudah digenangi air lumpur.

Tati mengaku bahwa saat itu dia tak berhenti menangis mengingat anak dan cucunya yang ada di seberang Sungai Cidurian.

Dia menyadari bahwa anaknya beserta para warga di pemukiman tersebut tak bisa lari kemana pun saat banjir melanda setelah akses jembatan satu-satunya putus.

Pemukiman yang terisolir tersebut kata dia, jadi terlihat seperti pulau di tengah lautan karena kebetulan posisi terapit oleh dua sungai yakni, Sungai Cidurian dan Cikole.

Setelah diajak tetangga, Tati pun ikut berlari meninggalkan rumah walau pun sambil tak henti menangis melihat kejadian itu.

"Kita lari-lari sebisa kita, nangis ibu mah, ke sana kemari lihat itu air. Ya Allah gusti, gunung udah longsor, nana anak masih di seberang sana, ibu di seberang sini, jembatannya udah ambruk, air masuk ke rumah ibu," cerita Nenek Tati.

Tati mengaku dirinya langsung mengungsi ke rumah kerabat yang kebetulan letaknya agak jauh dari lokasi banjir.

Dia juga mengaku tak sempat membawa barang apapun kecuali pakaian yang dia kenakan saat itu.

Beruntung, keluarganya yang terkepung banjir pasca jembatan putus berhasil selamat setelah saat kejadian mereka berkumpul di sebuah masjid yang kebetulan posisinya lebih tinggi dari rumah-rumah warga di kawasan itu.

"Yang di sana lari ke mesjid, karena gak bisa kemana-mana, buntu. Alhamdulillah, gak ada yang meninggal, cuma rumah ada yang rusak, barang-barang hilang, mobil terseret, ternak bebek, kambing, ayam pada hanyut," kata Tati.

Pasca kejadian tersebut, sore hari setelah banjir menyurut, Tati mengaku kembali ke rumah dan mendapati perabotan rumahnya hilang karena hanyut dan beberapa bagian rumahnya rusak tertimpa pepohonan yang terbawa arus banjir.

Warga lain, Santi (43), mengaku bahwa seingat dia kejadian banjir di Desa Sukamaju ini adalah yang kedua kalinya.

Banjir luapan Sungai Cidurian juga sempat melanda di kawasan itu pada tahun 1989 silam.

"Pernah juga tahun 1989 tapi waktu itu malam hari kejadiannya. Yang sekarang ini hujan dari jam 03.00 WIB, jam 04.00 WIB air mulai naik sampai pagi.

Warga yang terjebak gak bisa kemana-mana karena jembatannya putus itu Kita ditengah-tengah kali, Kali Cikole sama Kali Cidurian, jadi kayak pulau," kata Santi.

Kini, permasalahan utama yang dialami warga korban banjir di desa ini adalah sulitnya mendapatkan air bersih.

Sebab selang saluran air gunung yang digunakan para warga ini terputus setelah diterjang banjir dan mereka sama sekali tak memiliki sumur.

Kampung ini adalah satu dari 8 desa terisolir di seluruh Kabupaten Bogor pasca dilanda banjir dan longsor saat awal tahun baru 2020.

Namun, kini warga telah berhasil membuat jembatan darurat menggunakan bambu setelah warga terisolir selama sekitar 29 jam tanpa air bersih dan listrik.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved