INFO PEMPROV JATENG

Ganjar, Pasar Semawis dan Ikan Dori yang Belum Habis

Telah 17 kali Tok Panjang digelar di Kawasan Pecinan Semarang. Selama 17 kali pula acara yang digelar selama tiga hari itu tak pernah sepi pengunjung.

Ganjar, Pasar Semawis dan Ikan Dori yang Belum Habis
Dok Humas Pemprov Jateng
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri acara Gelar Tok Panjang Pasar Imlek 2571 di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1) malam 

SEMARANG - Belasan orang meliak-liukkan tongkat panjang penyangga Naga-nagaan, memeragakan tari Liang Liong di ujung jalan Wotgandul Timur kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1) malam.

Rancaknya gerakan mereka sampai-sampai membuat masyarakat yang memadati Pasar Semawis histeris karena seolah-olah hewan mitologi itu benar-benar hidup dan melayang di atas kepala mereka, tidak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo

Layaknya memberi penghormatan, kepala naga Liang Liong yang diangkat setongkat penuh itu langsung menukik dan menggeliat di depan dada Ganjar yang mengenakan pakaian tradisional Cina berwarna merah.

Setelah hentakan musik pengiring membuncah, sang naga berputar arah membukakan jalan Gubernur Jawa Tengah menuju salah satu kursi di Tok Panjang. 

Saat Ganjar mendekati tempat duduk, suara perkusi pengiring Liang Liong segera berganti dengan alunan erhu, guzheng dan dizi yang mengiringi gadis berjilbab menyanyikan lagu Mandarin.

Menurut Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) lagu-lagu tersebut mendendangkan syair-syair kebahagiaan menjelang Tahun Baru Imlek. 

"Selain lewat lagu, kebahagiaan itu kami luapkan dengan menggelar Tok Panjang ini," kata Haryanto, yang akrab dipanggil Pak Har.

Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri acara Gelar Tok Panjang Pasar Imlek 2571 di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1) malam
Gubernur Ganjar Pranowo menghadiri acara Gelar Tok Panjang Pasar Imlek 2571 di kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1) malam (Dok Humas Pemprov Jateng)

Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di meja panjang yang diikuti oleh banyak orang. Di Semarang, tradisi itu dipoles jadi perayaan meriah yang dibuka selebar-lebarnya untuk siapapun.

Halal, jadi jaminan khusus pada seluruh makanan yang disajikan di Tok Panjang. Bahkan karena seringnya mendapat pujian tentang tingginya toleransi di acara itu, Pak Har mengatakan bahwa sikap seperti itu sudah semestinya dilakukan.

"Enam meja berjajar yang jika disambung panjangnya hampir dua ratus meter ini diisi dari berbagai etnis, suku maupun agama. Mereka menikmati hidangan khas Tionghoa dari sup lobak, kue keranjang, acar, nasi goreng khas Tionghoa sampai yang paling lezat, ikan dori," katanya. 

Halaman
12
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved