ACT Sebut Januari Adalah Bulan Berdarah Bagi Konflik Suriah

Aksi Cepat Tanggap menilai Januari merupakan bulan berdarah dalam ingatan masyarakat Suriah.

Warta Kota/Rizki Amana
Keterangan pers ACT mengenai konflik di Suriah. 

President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Khajar sebut 90 jiwa meninggal dalam beberap minggu di awal Januari 2020.

Ia mengatakan, pada tiap memasuki bulan Januari merupakan bulan berdarah dalam ingatan masyarakat Suriah.

Pasalnya, bila memasuki bulan Januari pada tiap tahunnya, lebih dari seratus warga sipil meninggal dunia akibat konflik sejak 2011 silam yang bergejolak di bumi Syam tersebut.

"Januari ini seperti Januari berdarah buat Suriah. Tahun 2019 197 orang meninggal di bulan Januari, dan kejadian kemarin selama 6 hari berturut-trut sudah 90 orang meninggal dunia," kata Ibnu Khajar saat menggelar konferensi pers Bela Bumi Syam Suriah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2020).

Bukan hanya peperangan yang terjadi, kondisi pengungsi semakin diperparah karena cuaca ekstrim berupa musim dingin yang melanda wilayah Idlib atau kamp pengungsi Suriah.

Head of Global Humanity Response (GHR) ACT, Bambang Triyono mengatakan, suhu yang mencapai 4 derajat celcius berdampak kesehatan yang menurun pada para pengungsi.

"80 persen pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Beberapa keluarga berlindung di masjid atau sekolah, namun ada pula penfungsi yang berada di tenda dekat dengan perbatasan," kata Bambang dikesempatan yang sama.

Adapun demi mengurangi beban bagi para pengungsi, ACT senantiasa memberikan bantuan kemanusiaan terbaik bagi para pengungsi perang Suriah.

Bantuan itu dilangsungkan sejumlah program yang disiapkan berupa 1000 paket pangan, 2000 paket roti, serta peralatan musim dingin (pakaian hangat, selimut, bantal, kasur, bahan bakar, emergency house seluas 24 meter kubik, dan 10 unit bus yang bersiaga untuk memobilisasi eksodus penduduk jika terjadi serangan.

"Hingga saat ini, tidak hanya di Indonesia kami pun terus bekerjasama dengan seluruh elemen masyarakat global dalam aksi serta program kemanusiaan yang terencana, terukur, serta tepat sasaran tambahnya," jelasnya.

Untuk diketahui, konflik Suriah yang terjadi sejak 2011 silam, telah memakan ratusan ribu jiwa warganya.

Menurut data United Nations Office for The Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA) dan Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) perang tersebut telah memakan lebih dari 380 ribu koban jiwa sejak 2011 hingga 2019.

Sedangkan, untuk warga yang keluarg dari wilayah konflik di Idlib, Suriah telah tercatat 350 ribu jiwa sejak 2019 hingga Januari 2020.

Penulis: Rizki Amana
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved