Pemerasan

Kompolnas Desak Ketua Presidium IPW Minta Maaf Secara Terbuka Terkait Tuduhan Pemerasan

Kompolnas angkat bicara terkait tudingan Ketua IPW Neta S Pane terkait pemerasan yang menyudutkan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan.

Wartakotalive.com/Arie Puji Waluyo
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Andi Sinjaya Ghalib. 

Komisi Polisi Nasional (Kompolnas) angkat bicara terkait tudingan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane terkait pemerasan yang menyudutkan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Andi Sinjaya Ghalib.

Anggota Kompolnas Andrea H Poeloengan mengatakan, Neta semestinya melakukan permintaan maaf secara terbuka.

Ia menilai, permintaan maaf itu perlu dilakukan mengingat pemberitaan yang menyudutkan Andi Sinjaya dalam perkara yang dilaporkan Budianto kepada IPW.

Dalam perkara itu, Budianto mengaku menjadi korban pemeresan atas kasus pengrusakan objek tanah yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

 VANESSA Angel Ajak Suami Bikin Dosa di Dapur Siang Hari, Lihat Pakaian dan Gayanya Bikin Salfok

 UPDATE Raja Keraton Agung Sejagat Pernah Tinggal di Pinggir Rel Kereta Ancol

 Pengamat Bilang Banjir Jakarta 1 Januari 2020 Bukan Kiriman, Ini Buktinya

 TERBARU Subsidi Akan Dihilangkan, Harga Gas LPG 3 Kilogram Bakal Tembus Rp35 Ribu

"Kalau yang Neta bicarakan itu tidak benar, maka perlu minta maaf di hadapan publik," kata Andrea saat dikonfirmasi, Jumat (17/1/2020).

Selain permintaan maaf, menurut Andrea, Neta juga perlu meluruskan persoalan ini agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Dengan menyerahkan bukti-bukti fakta yang didapatnya oleh pihak pelapor Budianto.

"Selain itu perlu diklarifikasi dan serahkan bukti-bukti ke Polda Metro Jaya," kata dia.

 Bambang Pamungkas Jadi Manajer Baru Persija, Ismed Sofyan: Saya Pikir Cocok, Dia Atasan Saya

Sebelumnya, tudingan ini bermula ketika dua orang tersangka berinisial MS dan Y melakukan perusakan tanah milik negara di kawasan Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Budianto kemudian melaporkan kejadian itu ke Polres Metro Jakarta Selatan. Namun, tak mendapat respon penanganan yang cepat dari pihak kepolisian.

Budianto menjelaskan, kasus perusakan tanah milik negara ini sudah dilaporkan sejak 2014.

Bukannya dapat diselesaikan, tapi Budianto justru sempat menyebut Andi Sinjaya melakukan pemerasan hingga Rp 1 miliar agar kasus itu segera diserahkan ke Kejaksaan.

 Baru Dibuka 8 Jam Listrik Mal Taman Anggrek Mati Lagi, Pengunjung Berhamburan Keluar

Setelah melakukan penelusuran, oknum peminta uang tersebut hanya mencatut nama Andi Sinjaya untuk melangsungkan pemerasan itu. (m23)

Penulis: Rizki Amana
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved