Breaking News:

Kesehatan

Awas Jatuh Miskin Akibat Penyakit Tidak Menular Berikut Ini, Yuk Hidup Sehat Mulai Sekarang

Diabetes menjadi ancaman nyata bagi anak-anak Indonesia melihat maraknya iklan minuman manis kemasan yang tidak diregulasi dan menyasar anak-anak.

KOMPAS.com
ILUSTRASI Mengonsumsi sayuran. 

"Batas maksimal konsumsi gula per hari adalah 5 sendok teh. Sementara gula dalam satu botol minuman kemasan isi 500 ml saja bisa mencukupi kebutuhan gula hingga 3 hari ke depan," ungkap Haykal.

"Belum lagi junk food yang semakin mudah didapatkan dan kondisi lingkungan yang penuh polusi semakin membuat masyarakat kita semakin rentan terserang penyakit tidak menular,” imbuhnya.

Dua Dekade Naik 71 Persen

Dokter Asmoko Resta Permana, Sp.JP dari Yayasan Jantung Indonesia mengungkapkan sejak tahun 2013 prevalensi merokok pada remaja (10-18 tahun) terus meningkat, yaitu 7,2 persen (Riskesdas 2013), dan 9,1 persen (Riskesdas 2018).

Data proporsi konsumsi minuman beralkohol pun meningkat dari 3 persen menjadi 3,3 persen. Demikian juga proporsi aktivitas fisik kurang juga naik dari 26,1 persen menjadi 33,5 persen dan 0,8 persen mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan.

Hal lainnya adalah proporsi konsumsi buah dan sayur kurang pada penduduk 5 tahun, masih sangat bermasalah yaitu sebesar 95,5 persen.

“Berdasarkan data yang tercatat pada Sistem Registrasi Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, angka kematian karena penyakit tidak menular pada 1990 adalah 37 persen. Satu dekade kemudian, angka ini meningkat menjadi 49 persen," papar dr Asmoko.

"Kemudian, meningkat lagi menjadi 58 persen pada 2010. Lalu naik menjadi 71 persen pada 2014. Penyakit kardiovaskular dan diabetes menempati urutan teratas pada beban penyakit tidak menular secara nasional,” imbuhnya.

Kasus demensia

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular juga terlihat pada kasus dimensia. Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia (ALZI), Patricia Tumbelaka mengungkapkan jumlah orang dengan demensia (ODD) telah mencapai 1,2 juta orang pada 2019.

Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 4 juta orang di tahun 2050 dan akan memberi beban ekonomi senilai lebih dari USD2,2 miliar.

Dokter Asmoko mengatakan, orang yang rentan dan kurang beruntung secara sosial menjadi lebih sakit dan mati lebih cepat daripada orang-orang dari posisi sosial yang lebih tinggi.

Halaman
1234
Penulis:
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved