Pesawat Jatuh

Istri Pilot Pesawat Ukraina Minta Tak Terbang, Suami: Siapa yang Menerbangkannya jika Bukan Aku?

KATERINA Gaponenko, istri pilot pesawat Ukraina yang jatuh ditembak Iran mengungkapkan, dia sempat meminta suaminya jangan terbang. Begini jawabannya:

Twitter@Aviation_NewsTW
Potongan pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Ukraina International Airlines nomor penerbangan 752, yang jatuh di dekat Bandara Teheran pada Rabu (8/2/2020). 

"Saya meminta kepadanya jangan terbang, jangan pergi. Namun di menjawab 'Siapa yang bakal menerbangkannya jika bukan aku?'..."

"'Jika bukan saya, tidak ada lagi. Pesawat bakal terbang sesuai jadwal.' Saya masih memintanya untuk tidak berangkat..." 

KATERINA Gaponenko, istri pilot pesawat Ukraina yang jatuh ditembak Iran mengungkapkan, dia sempat meminta suaminya jangan terbang mengingat tensi situasi antara AS-Iran yang tengah meningkat, dalam percakapan terakhir mereka.

Pesawat Ukraine International Airlines Boeing 737 jatuh setelah lepas landas dari Bandara Imam Khomeini, Teheran, pada Rabu (8/1/2020).

Insiden itu terjadi beberapa jam setelah Iran membombardir dua pangkalan AS di pangkalan Ain al-Assad dan pangkalan Irbil, Irak, sebagai balasan atas kematian Jenderal Qasem Soleimani.

Demontrans di Iran Tuding Pejabat Setempat Pembohong, Begini Pengakuan Iran Tembak Pesawat Ukraina

Komandan Korps Pengawal Revolusi Iran Mengaku Sangat Malu Anak Buahnya Tembak Pesawat Ukraina

FOTO-FOTO Drone AS Tembak Qasem Soleimani, Anggota Tubuh Jenderal Iran Banyak yang Hilang

Awalnya sempat membantah, Teheran akhirnya mengakui sudah menembak jatuh pesawat Ukraina, dengan menyatakan mereka tak sengaja melakukannya.

Katerina Gaponenko menuturkan, dia sempat berharap penerbangan sang suami, pilot pesawat Ukraina Volodymyr Gaponenko, dibatalkan karena tensi itu.

Namun begitu tahu pesawat tetap akan berangkat, dia mengaku sangat khawatir, seperti diberitakan Sky News pekan lalu.

Ibu dua orang putri itu mengungkapkan, dia sempat meminta kepada sang suami untuk tidak menerbangkan pesawat ke Kiev.

"Saya meminta kepadanya jangan terbang, jangan pergi. Namun di menjawab 'Siapa yang bakal menerbangkannya jika bukan aku?'," kisahnya.

"'Jika bukan saya, tidak ada lagi. Pesawat bakal terbang sesuai jadwal.' Saya masih memintanya untuk tidak berangkat," imbuhnya.

Adapun Kapten Gaponenko adalah pilot berpengalaman dengan 11.600 jam terbang di Boeing 737, termasuk 5.500 sebagai kapten, ulas CNN.

Kapten Gaponenko dilaporkan memimpin penerbangan dengan nomor 752 tersebut dari Kiev ke Teheran pada 7 Januari 2020.

Petugas berkumpul di lokasi jatuhnya pesawat Ukraina di Parand, wilayah barat daya Teheran, Rabu (8/1/2020) pagi waktu setempat. Pesawat berjenis Boeing 737-800 itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, Iran.
Petugas berkumpul di lokasi jatuhnya pesawat Ukraina di Parand, wilayah barat daya Teheran, Rabu (8/1/2020) pagi waktu setempat. Pesawat berjenis Boeing 737-800 itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, Iran. (Rouhollah Vahdati/AFP via Kompas.com)

Tertunda dua jam

Katerina menuturkan, dia sempat mendengar kabar bahwa jadwal Ukraine International Airlines 752 mundur selama dua jam tanpa tahu kenapa.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved