Minggu, 26 April 2026

Berita Video

VIDEO: Konflik Perairan Natuna, ACT Gelar Kampanye #AKSIBELAINDONESIA

Dalam hukum internasional itu, perairan Natuan termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Editor: Ahmad Sabran
Warta Kota
Konferensi pers ACT gelar kampanye #AKSIBELAINDONESIA Bersama Jaga Natuna. (Warta Kota/Rizki Amana) 

Konflik perairan Natuna terus merentet ke elemen-elemen, institusi atau lembaga kemanusiaan tanah air untuk mempersatukan kekuatan bangsa.

Sebab, para elemen masyarakat menilai sikap China yang enggan mengangkat kaki dari perairan Natuna merupakan pelanggaran hukum Internasional yang tertuang dalam Konvensi United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982.

Dalam hukum internasional itu, perairan Natuan termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Menanggapi hal tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dan Global Islam Philanthropy (GIP) mencanangkan gerakan #AKSIBELAINDONESIA Bersama Jaga Natuna.

Aksi ini ditujukan kepada elemen masyarakat Indonesia untuk turut serta dalam mempertahankan wilayah yang terletak di Kepulauan Riau itu. 

"Kami ingin buktikan bahwa hari ini setiap jiwa, setiap orang di Indonesia hadir di Natuna, untuk memastikan bangsa ini tetap bersatu, bangsa ini tidak diganggu oleh siapapun," kata Presiden ACT, Ibnu Khajar di Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (10/1/2020).

Ibnu mengatakan, saat ini pihaknya baru menurunkan bantuan kepada para masyarakat perairan Natuna maupun personel TNI yang berjaga berupa ribuan ton bantuan logistik.

Menurutnya, dengan cara memastikan stok logistik terpenuhi pihaknya membuktikan bahwa seluuh elemen bangsa hadir di garda terdepan konflik perairan Natuna. 

"Bukan masalah jumlahnya berapa, tapi bukti kami rakyat Indonesia bersama dengan TNI untuk menjaga bangsa ini. Jangan lihat jumlahnya, kami akan berjanji beribu-ribu ton akan kami kirimkan. Tapi kami ingin buktikan bahwa hari ini setiap jiwa, setiap orang di Indonesia hadir di Natuna," tegasnya. 

Sementara itu, hal yang sama turut diungkapkan oleh Presiden GIP, Ahyudin. Ia mengatakan, sementara ini perbantuan yang lebih diutamakan ialah bantuan logistik. 

Sebab, dari bantuan logistik tersebut dapat dipastikan kebugaran fisik maupun persiapan mental menjadi modal utama dalam menjaha kedaulatan bangsa di perairan Natuna. 

"Tentu melalui momentum ini, kami menyeru semua elemen bangsa untuk siap-siap mempersiapkan hal yang terburuk bagi bangsa ini," kata Ahyudin dalam kesempatan yang sama. 

"Andaikan pun menjadi yang terburuk, kita pastikan logistik pangan menjadi nomor satu. Tidak ada boleh satupun TNI kita mapun masyarakat kekurangan pangan di garis terdepan," sambungnya.

Sedangkan, Direktur Tim Disaster Emergency and Relief Management (DERM), Dwiko Hari mengatakan, langkah menjadi bukti bahu membahunya masyarakat ditengah konflik perairan Natuna antara Indonesia dan China. 

Dengan adanya gerakan ini, Ia meyakini dapat membuktikan bahwa bangsa Indonesia terus bersatu bila terdapat konflik yang mengamcam kedaulatan bangsa.

"Bahu membahu membela daerah Indonesia teredepan salah satunya adalah Natuna dalam kesempatan kali ini," tandasnya. (m23)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved