Minggu, 26 April 2026

Sekda Tangerang Ungkap Soal Penutupan M1 Bandara Soetta Hingga Kerusuhan 1998

Herman Suwarman yang baru saja dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang pekan ini memiliki segudang pengalaman di pemerintahan.

Wartakotalive/Andika Panduwinata
Sekda Tangerang Herman Suwarman punya segudang pengalaman di pemerintahan. 

Herman Suwarman yang baru saja dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang pekan ini memiliki segudang pengalaman di pemerintahan.

Terutama sektor kewilayahan dan transportasi.

Alumni IPDN Jatinangor ini lama menjabat sebagai Camat Karang Tengah, Kota Tangerang. Kemudian menduduki pimpinan di Dinas Perhubungan.

"Waktu saya menjadi Kadis Perhubungan, itu yang paling ramai soal penutupan M1 Bandara Soekarno Hatta," ujar Herman saat dijumpai Warta Kota di ruangan kerjanya, Plaza Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Jumat (10/1/2020).

Menurutnya saat itu terjadi gejolak yang sangat panas. Ada riak - riak dari masyarakat yang melakukan penolakan keras.

"Aksi unjuk rasa menolak penutupan M1 Bandara Soetta ini," ucapnya.

Herman menyebut warga keberatan dengan kebijakan PT Angkasa Pura II yang melakukan penutupan jalur M1 yang berlokasi di Jalan Marsekal Surya Darma ini.

Beruntungnya aksi unjuk rasa tak berujung pada anarki.

"Saya yang langsung pimpin prosesi penutupan. Alternatifnya pihak bandara membangun Jalan Perimeter Selatan dan Utara untuk akses warga," kata Herman.

Namun hingga saat ini, kebijakan itu masih menuai pro dan kontra. Ada sebagian warga yang menolak.

"Masyarakat menolak karena kalau lewat Jalan Perimeter itu kejauhan. Warga harus berputar jauh untuk masuk wilayah bandara," ungkapnya.

Herman juga bercerita pengalamannya saat menjabat sebagai Kasie Satpol PP dan Camat Karang Tangah. Ia menyebut atmosfer sebelum dan setelah reformasi itu sangat jauh berbeda.

"Saya pimpin penertiban para pedagang di CBD Ciledug. Direlokasi ke Pasar Lembang. Waktu sebelum kerusuhan Mei 1998, mereka sangat takut dengan petugas dan menuruti kebijakan pemerintah. Tapi setelah reformasi, para pedagang itu malah melawan secara frontal saat ditertibkan. Kami dilempar tomat dan sayur - sayuran," ungkanya mengenang masa itu.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved