Perang AS Vs Iran

Perang Amerika Serikat VS Iran, Berikut Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat dan Iran

Perang Amerika Serikat VS Iran, Berikut Perbandingan Kekuatan Pertahanan Masing-masing Negara Mulai dari Anggaran, Kapal Perang Hingga Produksi Minyak

Penulis: | Editor: Dwi Rizki
Wikipedia
KAPAL induk AS, USS Harry Truman 

Amerika Serikat sebanyak 415 unit, Iran sebanyak 398 unit.

15. Kapal Induk

Amerika Serikat sebanyak 24 unit, Iran sebanyak 0 unit.

16. Kapal Selam

Amerika Serikat sebanyak 68 unit, Iran sebanyak 34 unit.

17. Kapal Pengawal

Amerika Serikat sebanyak 22 unit, Iran sebanyak 6 unit.

18. Kapal Penghancur

Amerika Serikat sebanyak 68 unit, Iran sebanyak 0 unit.

19. Kapal Perang

Amerika Serikat sebanyak 15 unit, Iran sebanyak 3 unit.

20. Kapal Patroli

Amerika Serikat sebanyak 13 unit, Iran sebanyak 88 unit.

21. Kapal Ranjau

Amerika Serikat sebanyak 11 unit, Iran sebanyak 3 unit.

22. Kapal Niaga

Amerika Serikat sebanyak 3.611 unit, Iran sebanyak 739 unit.

23. Pelabuhan

Amerika Serikat sebanyak 33 unit, Iran sebanyak 3 unit.

24. Pekerja

Amerika Serikat sebanyak 160,4 juta jiwa, Iran sebanyak 30,5 juta jiwa.

25. Produksi Minyak

Amerika Serikat sebanyak 9,3 juta barel per hari, Iran sebanyak 4,4 juta barel per hari.

26. Konsumsi Minyak

Amerika Serikat sebanyak 19 juta barel per hari, Iran sebanyak 1,87 juta barel per hari.

Usir Pasukan AS

Amerika Serikat (AS) menempatkan sekitar 5.200 tentara di seantero pangkalan Irak, dan berperan sebagai penasihat bagi militer lokal.

Menyusul serangan yang menewaskan Jenderal berpengaruh Iran, Qasem Soleimani, Parlemen Irak merilis resolusi agar pasukan AS di Irak diusir.

Dalam agenda yang berlangsung Minggu (5/1/2020), Perdana Menteri atau PM karteker Adel Abdul Mahdi menuturkan, serangan AS adalah 'pembunuhan politik'.

 Diancam Iran, Donald Trump Balik Ancam: Jika AS Diserang, 52 Target Iran Bakal Dihantam Sangat Cepat

 Arti Bendera Merah Iran Dikibarkan, Pertanda Perang Iran Amerika sampai Sebut Cucu Nabi Muhammad

Dia kemudian bergabung bersama 168 anggota Parlemen Irak, yang sudah memenuhi kuorum berdasarkan total anggota 329 orang, untuk mendukung resolusi.

Dalam resolusi yang dirilis, Baghdad memutuskan membatalkan permintaan bantuan mereka dalam mendatangkan koalisi internasional yang dipimpin AS.

Koalisi itu diminta oleh pemerintah setempat pada 2014 silam guna memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Pemerintah Irak harus bekerja untuk mengakhiri segala pasukan asing, dan melarang mereka menggunakan tanah, air, atau udara Irak," bunyi resolusi itu.

Dilansir AFP dan Al Jazeera, tahap selanjutnya adalah membutuhkan persetujuan pemerintah mengingat statusnya yang tidak mengikat.

Namun berdasarkan pidato PM karteker Mahdi di parlemen, dia mengisyaratkan pemerintahan baru bakal memberikan dukungan.

"Saat ini kami menghadapi dua pilihan utama," ujarnya.

Pertama adalah Irak secara resmi mengusir militer AS dan sekutunya secepatnya.

Kedua, menentukan penarikan pasukan asing itu berdasarkan jangka waktu tertentu berdasarkan proses parlemen.

Jelang pemungutan suara, massa yang menunggu di luar telah meneriakkan "Tidak, tidak untuk AS. Panjang umur Irak!"

5.200 Tentara AS

AS menempatkan sekitar 5.200 tentara di seantero pangkalan Irak, dan berperan sebagai penasihat bagi militer lokal.

Ketika diundang pada 2014, mereka bertempur bersama Hashed al-Shaabi, organisasi paramiliter yang disokong oleh Iran, dalam mengalahkan ISIS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan, mereka akan segera mengambil sikap setelah pemerintah Irak memberi keputusan.

Sementara Inggris meminta supaya tetap diizinkan untuk berada di negara itu, dan mengklaim apa yang mereka kerjakan "vital".

Analis Tareq Harb mengatakan, seruan Mahdi agar pasukan AS diusir adalah bentuk antisipasi dari reaksi grup pro-Iran.

"Dia tidak mempunyai pilihan lain selain mengambil sikap tegas terhadap keberadaan militer AS di Irak," papar Harb.

Balas dendam

Seruan itu terjadi setelah Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds, tewas bersama wakil pemimpin Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis.

Kendaraan yang ditumpangi Muhandis serta Soleimani hancur dihantam rudal dari drone MQ-9 Reaper di Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1/2020).

AS melalui Pentagon menjelaskan, mereka membunuh Soleimani karena bertanggung jawab atas serangan yang menimpa warganya di seluruh Timur Tengah.

Kematian Soleimani yang dianggap pemimpin terkuat kedua di Iran membuat sejumlah kelompok milisi menyerukan balas dendam.

Balik ancam Iran

Diberitakan sebelumnya, hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran memang makin memanas menyusul tewasnya komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Jenderal Qassem Soleimani tewas di terminal keberangkatan Bandara Internasional Baghdad, Irak, Kamis (2/1/2020) malam waktu setempat.

Serangan rudal dari drone militer AS menewaskannya, bersama dua tokoh Popular Mobilization Unit (PMU) Irak.

 Arti Bendera Merah Iran Dikibarkan, Pertanda Perang Iran Amerika sampai Sebut Cucu Nabi Muhammad

 Jenderalnya Dibunuh Amerika, Iran Putuskan Langgar Perjanjian dan Kembali Lanjutkan Program Nuklir

Teheran sudah berjanji bakal balas dendam atas kematian jenderal yang sangat berpengaruh di Iran itu.

Beberapa media pemerintah Iran pun mengungkapkan, Dewan Keamanan Nasional telah merilis 35 target sebagai bagian dari aksi balas dendam mereka kepada AS terkait pembunuhan Soleimani.

Operasi ini diyakini akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Menanggapi ancaman tersebut, Presiden AS Donald Trump balik mengancam Iran. Pihaknya sudah mengidentifikasi 52 target dan bakal menyerangnya 'dengan sangat cepat' jika AS diserang.

Dalam kicauannya di Twitter, Trump menuturkan bahwa Teheran sudah menyatakan bakal mengincar sejumlah aset AS di Timur Tengah.

Presiden dari Partai Republik itu berargumen, Soleimani sudah membunuh dan melukai warganya selama bertahun-tahun.

"Biarkan ini jadi PERINGATAN. Jika Iran menyerang aset AS, kami sudah mengidentifikasi 52 target mereka," ancamnya.

Jumlah itu, kata Trump, merujuk kepada 52 warga AS yang disandera oleh Iran saat terjadinya revolusi 1979-1981 silam.

Dia mengklaim sejumlah target itu dianggap sangat penting, baik dari sektor kebudayaan maupun oleh pemerintahannya.

"Target itu, atau bahkan Iran sendiri, BAKAL DIHANTAM SANGAT CEPAT DAN KERAS. AS tidak ingin diancam lagi!" tegasnya.

Beberapa saat setelah twit itu muncul, situs pemerintah dibobol hacker yang mengklaim diri sebagai 'Grup Peretas Keamanan Siber Iran'.

Dalam situs Program Penyimpanan Pustaka Federal AS, terdapat pesan yang berbunyi dari Republik Islam Iran.

Dalam pesan itu, peretas tersebut menyatakan Teheran tidak akan berhenti mendukung Palestina, Lebanon, hingga Bahrain.

Pesan itu juga menampilkan gambar yang diedit, di mana Trump dipukul di wajah dan mulutnya kemudian mengeluarkan darah.

"Ini merupakan sebagian kecil dari kemampuan tim siber yang dipunyai Iran," ujar grup peretas itu dalam gambar.

Para pelayat maupun milisi Irak pendukung Teheran turun ke jalanan Baghdad, saat jenazah Qasem Soleimani mulai disemayamkan.

Sejumlah roket ditembakkan tak lama ketika prosesi persemayaman dimulai, dengan satu jatuh di Zona Hijau Kedutaan Besar AS.

Soleimani tewas bersama wakil pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, ketika konvoi mereka diserang rudal AS.

Pemimpin terkuat kedua

Selama ini, jenderal berusia 62 tahun itu dianggap sebagai pemimpin terkuat kedua, setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Dia menjadi ujung tombak Pasukan Quds, cabang elite dari Garda Revolusi Iran, yang membawahi berbagai operasi di Timur Tengah.

Namun oleh AS, Qasem Soleimani dan pasukannya dianggap sebagai teroris karena bertanggung jawab atas kematian ratusan warga AS.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jenderal Top Iran Tewas, Parlemen Irak Rilis Resolusi agar Pasukan AS Diusir"

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved