Breaking News:

Novel Baswedan Diteror

Irjen Pol Nana Sujana Janji Mengawal Kasus Novel Baswedan Setelah Resmi Menjabat Kapolda Metro Jaya

Irjen Pol Nana Sujana resmi menjabat Kapolda Metro Jaya menggantikan Komjen Pol Gatot Eddy Pramono yang menjadi Wakapolri.

Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Ilustrasi Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Gatot Eddy Pramono, M.Si dengan penggantinya Irjen Pol Nana Sujana melakukan penanaman pohon eboni di halaman Gedung Promoter Mapolda Metro Jaya, Senin (6/1/2020). 

"Pelaku dua orang, insial RM dan RB. (Anggota) Polri aktif," ucap Kepala Bareskrim, Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Pelaku penyerangan dan teror terhadap Novel Baswedan baru berhasil diungkap Polri setelah kasus itu terjadi lebih dari 2,5 tahun.

Novel diserang pada 11 April 2017 saat berjalan menuju kediamannya, setelah menunaikan ibadah shalat Subuh di Masjid Al Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Akibat penyiraman air keras ini, kedua mata Novel terluka parah.

Dia sempat menjalani operasi mata di Singapura.

Berbagai upaya telah dilakukan sebelumnya, namun polisi mengaku kesulitan menangkap pelaku atau dalang penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Polisi bahkan telah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta pada tahun ini.

Namun, hingga masa kerja tim itu berakhir, pelaku saat itu tidak berhasil ditangkap.

Presiden Joko Widodo juga sempat memberi target ke Kapolri terdahulu, Jenderal Pol Tito Karnavian, untuk mengungkap kasus Novel dalam tiga bulan.

Target itu diberikan Jokowi pada 19 Juli, setelah tim gabungan pencari fakta yang dibentuk Tito gagal mengungkap kasus tersebut.

Namun hingga tenggat waktu yang diberikan berakhir, kasus Novel belum juga terungkap. Jokowi justru mengangkat Tito Karnavian menjadi menteri dalam negeri.

Dituding Rekayasa

Yasri Yudha, tetangga Novel Baswedan, memenuhi panggilan Polda Metro Jaya terkait laporan polisi (LP) yang dibuatnya untuk politikus PDIP Dewi Tanjung.

Yasri mengatakan, kemarin dia dicecar sekitar 12 pertanyaan oleh tim penyidik, untuk keperluan klarifikasi terkait alasannya melaporkan Dewi Tanjung kepada pihak kepolisian.

Setelah memberikan klarifikasi mengenai laporannya, Yasri menegaskan terlapor akan segera dipanggil pihak kepolisian.

"Ini sifatnya masih klarifikasi. Ada tahapan di mana nanti dari hasil klarifikasi saya sebagai pelapor."

"Kemudian yang saya sebut terlapornya itu juga nanti akan segera dipanggil melakukan klarifikasi tentang laporan saya," kata Yasri Yudha di Polda Metro Jaya, Kamis (19/12/2019) sore.

Yasri mengatakan, setelah pihak terlapor memberikan keterangan mengenai LP yang dibuatnya, polisi selanjutnya akan melakukan gelar perkara.

Gelar perkara bertujuan untuk menentukan apakah yang bersangkutan memasuki kriteria untuk menjadi tersangka atau tidak.

"Kemudian nanti naik tahap sidik dari hari klarifikasi.

"Nanti dari gelar perkara itu ditentukan orang yang kita laporkan itu apakah masuk kriteria menjadi tersangka atau tidak," tutur Yasri Yudha.

Sebelumnya, Dewi Tanjung melaporkan Novel Baswedan kepada pihak kepolisian dengan tuduhan merekayasa penyiraman air keras yang dialaminya.

Merespons hal itu, Yudha menegaskan apa yang dilakukan DT merupakan tindakan yang melanggar hukum dan merugikan korban.

Laporan yang dibuat DT juga dinilai berpotensi mengganggu proses pengungkapan pelaku yang sedang dilakukan kepolisian.

Atas dasar itu, Yasri Yudha melaporkan Dewi Tanjung dengan pasal 220 KUHP tentang pengaduan palsu pada 17 November 2019.

Perkembangan dari pelaporan itu, Yudha akhirnya menerima surat dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya, perihal undangan klarifikasi guna dimintai bukti dan keterangannya.

Didukung Novel Baswedan

Yasri Yudha mengaku mendapat dukungan dari Novel Baswedan saat melaporkan Dewi Tanjung kepada pihak kepolisian.

Menurutnya, selama ini ia juga kerap melakukan koordinasi dengan Novel Baswedan, guna menyampaikan sejumlah poin laporan yang dibuatnya.

"Dia mendukung. Sebelumnya saya juga koordinasi, kami selalu koordinasi dengan beliau."

"Beliau mendukung, bahwa saya juga sampaikan sejumlah poin laporan saya kepada dia," ungkapnya.

Yasri menegaskan, pihaknya mendapatkan kuasa dari Novel Baswedan untuk mengadukan DT ke polisi.

"Karena kapasitas saya ditanya apa dasar saya melaporkan hal ini, saya punya kuasa dari Pak Novel, saya jawab ada," jelasnya.

Yasri mengaku telah memiliki lima orang saksi.

Kelima saksi tersebut merupakan warga yang saat itu turut melakukan evakuasi Novel Baswedan pasca-penyerangan.

"Mereka siap untuk menyampaikan keterangan sebagai saksi bahwa peristiwa itu adalah peristiwa yang sebenarnya."

"Bukan seperti yang disampaikan oleh DT bahwa itu adalah rekayasa atau bohongan," katanya.

Yasri juga menyerahkan sejumlah barang bukti yang diharapkan mampu menguatkan gugatannya kepada yang bersangkutan.

"Barang bukti beberapa hasil percakapan yang ada di media itu, berupa video kita tunjukkan (ke penyidik)."

"Kemudian ada rekaman-rekaman dari media elektronik, Kemudian screenshot dari media cetak," bebernya.

Karena menganggap sejumlah barang bukti yang diserahkannya pada tim penyidik cukup kuat, Yasri optimistis akan ada gelar perkara untuk DT.

"Saya sangat optimis. Dengan begitu (barang bukti itu) saya optimis," ucapnya.

Yasri menilai Dewi Tanjung tidak mengetahui fakta sebenarnya mengenai kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Hal itu terbukti dari adanya laporan polisi yang dibuat DT dengan tudingan Novel Baswedan telah merekayasa penyerangan tersebut.

Yusri menegaskan, harusnya DT terlebih dahulu memastikan fakta sebenarnya mengenai penyerangan Novel Baswedan, sebelum membuat laporan polisi.

"Yang saya lihat adalah DT harusnya melihat yang sebenarnya dulu sebelum membuat laporan," katanya.

Yasri menganggap yang bersangkutan hanya mengetahui info tentang Novel Baswedan melalui media saja.

Selain itu, DT ia nilai tidak pernah melakukan konfirmasi kepada Novel Baswedan sebelum membuat laporan.

"Dia kan hanya dari media saja. Apa dia pernah bertemu Novel secara langsung? Tidak kan? Tidak ada klarifikasi."

"Buat saya sontoloyo saja orang seperti itu," tegas Yasri Yudha.

Pria yang rumahnya hanya berjarak dua petak dari Novel Baswedan itu menegaskan, harusnya DT mengulik fakta sebelum melaporkan.

Tujuannya agar apa yang diutarakan DT tentang Novel Baswedan bukanlah hoaks semata.

"Lihat faktanya benar atau tidak. Orang itu cacat atau tidak, benar tidak peristiwa itu, jangan asal ngomong," ujarnya.

Yasri kemudian menantang Dewi Tanjung untuk membuktikan penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan merupakan rekayasa.

"Apa coba yang bisa membuktikan bahwa dia (DT) benar? Ayo kita buka sampai ke pengadilan dan saya siap, itu saja."

"Kalau memang dia fair, ayo saya jabanin sampai pengadilan," tegasnya.

Yasri kembali menegaskan penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan bukanlah rekayasa.

Alasannya, tidak masuk akal apabila ada seseorang yang mau merekayasa sebuah kejadian yang mengakibatkan cacat permanen pada dirinya sendiri.

"Kita lihat saja, apakah itu bentuk rekayasa kira-kira?"

"Dan sekarang faktanya, mana ada sih orang yang mau mencelakakan dirinya sampai cacat permanen hingga matanya harus diganti? Logis atau tidak?" tanya Yasri.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved