Lingkungan

Warga Desa Burangkeng Bakal Mendapat Kompensasi Bau Sampah pada Tahun 2020

Kompensasi ini diberikan karena di kawasan desa itu terdapat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng.

Warga Desa Burangkeng Bakal Mendapat Kompensasi Bau Sampah pada Tahun 2020
Warta Kota/Muhammad Azzam
Kantor Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Lokasi TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. 

Pemerintah Kabupaten Bekasi menyiapkan dana sebesar Rp 450 juta untuk kompensasi bau sampah kepada 1.900 kepala keluarga di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu.

Kompensasi ini diberikan karena di kawasan desa itu terdapat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Uju mengatakan anggaran sebesar Rp 450 juta disiapkan untuk warga Desa Burangkeng.

Kantor Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Lokasi TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi.
Kantor Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Lokasi TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Hal ini bagian dari bentuk perhatian pemerintah kepada warga yang terdampak adanya tempat pembuangan akhir tersebut.

“Anggaran itu diberikan melalui dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD),” kata Uju di Cikarang, Sabtu (28/12/2019).

Ia menerangkan selama ini keluhan atas bau sampah imbas keberadaan TPS Burangkeng telah disampaikan warga setempat. Mereka menginginkan agar mendapatkan kompensasi bau seperti warga terdapat TPA Bantargebang di Kota Bekasi.

"Kami juga terus menata agar sanitasi kawasan TPA Burangkeng tidak mencemari air tanah warga," jelas dia.

Ia juga mengakui, kondisi TPA Burangkeng sudah overload sehingga harus diperluas, meski begitu pihaknya meminta agar masyarakat dapat ikut serta berperan dalam menanggulangi sampah.

"Tapi harus ada peran masyarakat juga, sampah-sampah ini dikelola dengan baik," ucap dia.

Sementara itu, Kepala Desa Burangkeng Kecamatan Setu, Nemin mengapresiasi adanya hibah yang diberikan bagi warganya.

Namun ia tetap mendorong agar pemerintah daerah memperluas tpa yang saat ini luasnya hanya 13 hektar.

“Selain itu harus memonitoring pencemaran tanah dan air agar kondisi kesehatan warga terjaga meski tinggal di sekitar TPA,” katanya.

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved