Pencemaran Lingkungan

Limbah Elektronik Berbahaya bagi Kesehatan dan Lingkungan

Limbah elektronik berbahaya sehingga berpotensi mengganggu kesehatan dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Istimewa
Petugas dari Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) menunjukkan kondisi air Sungai Cileungsi di Curug Parigi, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi pada Sabtu (20/7/2019) siang. KP2C menduga, air Sungai Cileungsi tercemar oleh limbah industri yang berdiri di sekitar sungai alam tersebut. 

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan bahwa limbah elektronik masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah elektronik berbahaya sehingga berpotensi mengganggu kesehatan dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Pengelolaan jenis limbah ini harus dilakukan dengan benar oleh pihak berpengalaman.

“Masyakat belum menyadari pada umumnya limbah elektronik tersimpan potensi bahaya yang berasal dari kandungan logam berat di dalamnya,” kata Andono saat dihubungi, Sabtu (28/12/2019).

Andono mengatakan, ada tiga jenis kandungan berbahaya beserta paparan risiko dari limbah elektronik.

Libur Natal dan Tahun Baru, APPBI Tunda Gugatan Pemprov DKI terkait Perpasaran

Malam Tahun Baru Kereta Commuter Line Beroperasi Hingga Pukul 03.00 WIB

Pertama, kandungan kadium yang biasa digunakan untuk pelapisan logam terutama baja, besi dan tembaga. Kandungan ini terdapat dalam pembuatan baterai dan plastik.

“Jika terisap bersifat iritatif. Dalam jangka waktu lama menimbulkan efek keracunan, gangguan sistem dalam organ tubuh manusia dan hewan,” ujar Andono.

Kedua, kandungan arsenik yang biasa digunakan dalam industri elektronik di antaranya pembuatan transistor, semikonduktor, gelas, tekstil, keramik, hingga bahan peledak.

Risiko yang dialami manusia akan mengalami gangguan metabolisme, dan mengakibatkan keracunan hingga berujung kematian.

Putra Nunung Srimulat Tak Tahu Kabar tentang Izin Sang Ibunda dan Jully Jan Keluar dari RSKO

Ketiga, kandungan polychlorinated biphenyls (PCBs) yang digunakan pada bahan plastik, perekat trafo, kapasitor, sistem hidrolis, ballast lampu dan sebagainya.

Kandungan ini memiliki sifat yang persisten atau sukar dibaur di lingkungan dan mudah terakumulasi dengan lemak manusia.

“Dampaknya mengganggu sistem pencernaan dan bersifat karsinogenik. Intinya jenis limbah elektronik ini dalam penanganannya tidak bisa diperlakukan sama dengan sampah an organik lainnya,” katanya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved